
Hanna dan Ryan, setelah selesai ia segera pergi ke sumatera. Entah kenapa adanya sosok di luar pohon besar mengelilingi, mobil mereka mogok.
"Hadeuh, siapa yang berani menabrak mobil kesayanganku ini!" bisik Ryan sembari bangkit dari stang mobilnya dan mengumpulkan kesadarannya, agar mobilnya kembali berjalan.
"Ryan, kau harus sadar, jangan sampai mereka melihatmu di sini!" ujar Hanna namun Ryan yang tak sanggup untuk bangkit kembali membaringkan kepalanya, hingga menekan klakson mobilnya dan berbunyi nyaring.
"Lihat dia!" ujar dua orang pria misterius yang berdiri dekat jendela mobil.
"Sepertinya dia sudah mati!" bisik Hanna.
Akan tetapi Hanna dan Ryan tidak turun, ia masih didalam mobil meminta bantuan mobil derek! hingga satu jam menunggu, mereka akhirnya dapat tertolong. Belum lagi dua sosok misterius itu hilang, dengan sendirinya.
"Tadi hantu atau orang ya?" ucap Ryan.
"Sepertinya bukan, tapi ciri cirinya mirip begal. Untung juga, kita ga turun."
Akan tetapi saat Hanna dan Ryan akan keluar, ia kira itu mobil derek. Tiba saja satu truk membuat mobil mereka mengguncang hingga jarak lima meter. Hanna dan Ryan terluka, saat mobil itu terbalik dan mereka sadarkan diri.
Dua Hari Kemudian.
"Mmmm, dimana aku?" tanya Ryan yang memandang langit-langit berwarna putih pagi itu.
"Kau sudah di rumahmu, Ryan!" ujar Ibu Mina, warga setempat yang menolong.
"Bu! Apa yang terjadi sampai saya seperti ini?" lirih Ryan sambil meraba kepalanya yang terasa sakit.
"Kau kecelakaan, Nak. Tadi ada seorang wanita yang mengaku sebagai petugas keamanan yang kebetulan lewat lalu mengantarkanmu kemari."
"Petugas keamanan wanita?" tanya Ryan lirih.
__ADS_1
"Itu pasti mobil derek!" ujarnya lagi lalu menutup matanya perlahan, berharap bisa melihat bayangan aneh yang tadi begitu jelas di matanya.
"Hanna, bu apa ada wanita. Dia istri saya. Dimana dia?"
"Kamu hanya sendiri."
"Apa, enggak mungkin." ujar Ryan.
Ryan mengingat saat terjadi benturan, Hanna yang melepas seatbelt. Lalu seorang wanita yang memghampirinya itu dengan samar. Belum sempat bertanya siapa nama wanita itu! Tapi dia terlihat sangat cantik meski wajahnya sedikit pucat!
"Iya! Itu pasti Hanna selamat, tapi dimana dia." bisik Ryan dalam hati lalu mengucap terima kasih, berkali-kali untuk mengingat. Hingga akhirnya malah ada yang menolongnya.
"Kalau kau sudah bangun, Ibu pulang dulu, ya! Nanti siang biar Ibu pesankan makanan untukmu!"
Ryan yang masih terbaring di atas bantalnya hanya bisa mengangguk sesaat lalu membiarkan matanya yang masih berat kembali tertidur siang itu. Dia bahkan tak sempat mengirim kabar pada pak Dirga, karena ponselnya tak ada.
Ryan menyipitkan matanya. Kala seorang gadis kecil datang.
"Hanna, dia istri saya. Kami baru menikah, kamu bisa tolong bantu cari dimana wanita yang satu mobil sama saya?"
"Tapi.. ibu bilang, dimobil cuma mas nya aja." ucap gadis berusia belasan tahun bernama Mirna.
Ryan terdiam beberapa lama, lalu akhirnya mengangguk pelan. Tak lama ibu yang menolongnya datang.
"Nah, gitu ngak apa-apa. Nanti ibu bilangin ke Jamal supaya ngak PS-an terus. Sekali-sekali lihat kondisi Mas Ryan juga! Mirna kamu mau sekolah nak!" ujar ibu Mina.
"Iya bu!"
Sementara Ryan, singkat penat. Kepalanya masih diperban karena memang kepalanya masih terasa sangat sakit.
__ADS_1
Penjual nasi uduk yang melihat kondisi Ryan, lalu membantunya makan siang karena dia tau pemuda ini dikira jomblo, pastinya belum sanggup untuk makan dan melakukan aktifitas lainnya.
"Mari ibu bantu suapin. Makan dulu, kalau butuh ke dokter biar saya panggilkan. Ada kok dokter deket sini!" ujar bu Mina.
"Terima kasih, ya bu. Saya akan balas kebaikan ibu dan keluarga. Setelah saya sembuh, saya akan cari istri saya. Dan kembali."
"Hehehehehe, gak apa. Ibu juga disini ada dua anak, tambah kamu jadi satu. Anggap aja keluarga!"
"Ibu jualan apa?" tanya Ryan.
"Nasi uduk, kecil kecilan aja." ucap bu Mina.
Penjual nasi uduk itu tertawa nyengir lalu mulai meyuapi nasi uduk jualannya ke mulut Ryan yang masih sangat lemah. Baru saja mengunyah nasi disuapan kedua, tubuh Ryan mulai bisa digerakakkan dan pandangan matanya yang sempat kabur kini sudah mulai bisa melihat jelas lagi.
"Oh ya bu, ibu waktu nolong saya. Beneran ga lihat wanita. Saya yakin, istri saya terpental."
"Ibu ga lihat, kamu dibawa sama warga. Katanya truk nabrak, dan kamu dibawa sama pria manis, berseragam jaket hitam. Terus ibu ga liat lagi, karena ibu denger katanya kamu cuma sendiri aja. Tapi ada wanita itu pun kaya pekerja gitu, bilang kamu hanya sendirian dimobil terluka."
Mendengar hal itu, Ryan muram dan sedih. Ia ingin berjalan. Tapi kakinya benar benar tak bisa digerakan, lemas terasa dan membuat hidupnya hampa.
"Ga mungkin, Hanna pasti baik baik saja. Enggak mungkin Hanna hilang, ponsel. Saya harus cari ponselnya." ujar Ryan.
"Kenapa Nak?" tanya bu Mina, setelah memberikan satu gelas air.
"Bu, bantu saya carikan ponsel saya. Barang barang saya, agar saya tenang. Saya bersama sama pergi, mau ke sumatera bersama istri saya mengunjungi makam keluarga istri saya. Tapi diperjalanan kami mogok, pas ada dua pria misterius. Saya minta tolong bu!"
"Ibu akan bantu nak! konon kamu tabrakan ditempat kurang baik. Ibu akan minta suami ibu cari tentang kecelakaan kamu ya nak!"
"Makasih banyak ya bu."
__ADS_1
Ryan begitu sedih, ia benar benar panik ingin sekali mencari keberadaan Hanna yang saat ini, tak disampingnya.
Tbc.