
Hanna yang sedang berada dalam dunia berbeda, hatinya yang semakin ditahan dengan getarannya yang terus menyerang, semakin membuat nafas Hanna seakan terhenti.
Dia wanita bergelung itu memasuki ruangan kamar bergaya khas Belanda dengan tergesa-gesa menemui salah satu mahasiswa yang memimpin perdebatan sengit yang terjadi di meja bundar.
"Dia, mereka semua penjajah bersama para penduduk sepertinya mengetahui apa yang akan kita lakukan. Para anggota senat memutuskan kita tidak perlu melanjutkan misi."
"Den, tujuan kita sebenarnya untuk membuktikan mereka, perkumpulan kita adalah sangat penting bagi kemajuan kita."
"Tapi, mas jangan lakukan! Atau kita tidak akan selamat."
Wanita itu berdiri menatap dengan cairan bercampur tanah terus keluar hingga menetes sampai membasahi lantai.
"Lihat!"
Salah satu tangannya mengarahkanku ke suatu tembok, dengan warna cat yang berbeda. Sepasang mata Hanna terkejut melihat mereka dengan perdebatan yang sangat sengit. Jadi sebelum hotel dibangun, ini adalah rumah belanda keramat yang melakukan pesugihan dan tumbal setiap bulan.
Wanita itu ditariknya untuk bersembunyi, namun mereka semua sudah menemukan persembunyian mereka. "Semoga kalian berubah pikiran." ucap salah satu pria kepada mereka yang masih berpelukan.
"Mas. Apa yang harus kita lakukan."
Semua pria itu menarik mereka dan memukulnya hingga pingsan.
Aku mulai melihat kejadian menyeramkan yang sesungguhnya menjadi *******, dari apa yang akan dia tunjukkan.
Semua pria itu membuka sebuah ruangan dan memasukkan mereka ke dalamnya. Pintu itu ditutupnya. Mereka mengunci hingga merekatkan semen bercampur batu bata.
"Jangan, mereka masih hidup!" teriak Hanna, seolah meminta jangan mengubur manusia yang masih hidup kedalam lubang pembuangan.
Seperti biasa Hanna, berteriak dan terkujur lemas hingga butiran-butiran keringat terus membasahi tubuhnya karena apa yang ia lihat sangat menyeramkan.
Kulitnya yang sangat kusut keriput dengan tulang yang terlihat. Jelas sekali mereka mati karena kehabisan udara di dalam gudang itu, yang sudah di tutup dengan pasir bercampur semen untuk menghilangkan jejak mereka, mencegah membongkar perlakuan kejam para penjajah.
Hanna masih mencium bau busuk air kematian yang terus menusuk hidungku. Entahlah apa itu sebenarnya.
"Kring...kring..."
Suara kemerincing dari kereta putri titisan atau apalah yang kembali ku dengar datang kembali, membuat aura rumahku menjadi sangat menyeramkan.
Baru Hanna sadari, ia kembali berada di dunia mereka. Putri itu dengan wajah pucatnya menunjukkan tatapan tajamnya dengan warna merah menatap wanita bergelung dengan mengulurkan salah satu tangannya.
__ADS_1
"Pergilah." sosok itu meminta Hanna, tidak ikut campur.
Wanita bergelung dengan cepat pergi dari kamarnya. Sepertinya ia selalu mendapatkan perlindungan dari putri itu.
Tapi Hanna lihat, sosok itu tidak mau dia menolongku. Hanna tidak mau mereka melakukan apapun denganku.
Aku berdiri dalam ketakutanku. Melawan mereka yang selalu datang silih berganti mengangguku dengan kisah mereka yang ingin aku tuliskan.
"Kamu, putri atau apalah aku tidak mau mengetahuinya. Jangan pernah menolongku dalam hal apapun. Aku tidak maempunyai hutang budi dengan kalian, jadi pergilah!" ujar sosok itu berbicara pada raga Hanna.
"Aku hanya ingin tahu, kenapa salah satu kamar tidak boleh ditempati, mengapa setiap mereka yang datang selalu kecelakaan mengenaskan." ujar Hanna.
"Karena itu kamar keramat kami, tidak bisa musnah selain dibakar dan jasad mereka diungkap!" ujar sosok itu tertawa menyeramkan.
Dalam hitungan detik mata Hanna kembali terbuka dan kali ini ia tidak berada dalam permainan mereka.
Angin semilir ini Hanna rasakan, bau dedaunan dan kulitku yang aku cubit sendiri sudah aku rasakan juga.
"Ah, aku kembali dalam duniaku sendiri. Kalian sangat menyebalkanku."
Aku melemparkan tubuhku keranjang empukku ini. "Rasanya capek sekali, badanku remuk. Ah..."
Aku kembali berdiri menatap mereka yang selalu tertawa dengan berisik.
Ryan terdiam melihat Hanna, dan akhirnya paham dengan mereka.
"Baiklah kalian diam! Berisik sekali."
Suara sosok besar di belakang empat karyawan hotel itu, tiba-tiba mengejutkan Hanna, yang sangat serius memperingatkan kepada penjagaku.
"Gimana, lo udah tahu?" tanya Ryan.
"Dia menempati kamar itu yang diyakini itu rumahnya, kamar itu ada lubang. Ada seratus orang manusia dikubur hidup hidup! jadi bongkar dan bakar! aku rasa kalian butuh tim sar dan polisi."
"Hey, itu sama aja mematikan pencaharian kami." ujar salah satu karyawan hotel.
"Pilihannya adalah itu, mau mati tidak bisa bekerja. Atau mati menjadi tumbal mereka selanjutnya!" cetus Hanna.
Aku segera menuruni tangga dengan sangat cepat. Kembali lagi pandanganku tertuju sosok nenek nenek dengan suru di mulutnya yang terus dikunyahnya. Dia adalah salah satu korban mayat yang dibuang hidup hidup ke dalam lorong, salah satu kamar hotel.
__ADS_1
Bayangan hitam itu terus menggelengkan kepalanya di terasku, ketika aku melihat sosok nenek itu, yang secara mengejutkan menampakkan dirinya.
"Aku sudah capek, jangan memperlihatkan lagi wujud kalian! Sangat menyebalkan." teriak Hanna, membuat Ryan pucat pasi.
"Kamu, nenek tua menyebalkan. Pergilah! Aku tidak bisa fokus karena kamu."
Mata batinku sekarang sudah bisa aku kendalikan. Keberanianku sekarang sudah bisa aku tunjukkan, walaupun ketakutan itu selalu ada.
Nenek itu dengan lirikan tajamnya akhirnya pergi dan menghilang. Namun, aku merasakan sesuatu yang sangat berat berada di leherku.
Aku terus memegang leherku yang secara tiba-tiba menjadi kaku dan menegang.
"Hanna, dia ganggu lo ya?" tanya Ryan.
"Dia minta tulangnya ditemukan dan dikubur secara layak! hanya pilihannya itu pamanmu Ryan! apa dia mau membuat hotel ini gempar dengan berita asli nantinya."
"Ah, iya gue paham."
Dia wanita berbaju putih itu tidak memperlihatkan senyuman menyeramkan lagi. Dia seperti berlari menghilang dari hadapan Hanna.
Ryan, terheran dengan ini semua. Apa yang terjadi dengan mereka. Ah, aku tidak akan mencari tahu. Paling tidak hidupku akan tenang dalam sehari tidak bertemu mereka.
Tapi tiba tiba Hanna, dan Ryan merasakan sesuatu yang sangat berat. Semua buluku kembali berdiri dan perasaan sangat tidak enak.
Baru aku menyadari, bau tanah kuburan datang menusuk hidungku. Iya tanah yang masih basah dan segar bercampur bau bunga kematian yang biasa mereka taburkan saat terakhir memakamkan seseorang.
"Bau apa ini tidak enak banget ya, busuk. Apa ada bangkai tikus ya?" Ryan melihat semua kolong kursi dan mencari asal bau itu.
"Iya, bau apa ini ya sangat menyengat." Hanna yang mengambil senter ikut mencari dengan melihat semua ruangan.
"Aku akan coba melihat di belakang."
Hanna menghentikan langkahnya. Hatiku kali ini bergetar sangat luar biasa. Ketika mata batinku melihat sesosok tinggi dengan kain kafan berdiri di hadapanku terdiam sangat menyeramkan.
Yah kain kafan penuh dengan tanah yang berbau busuk seperti bangkai mampir ke dalam salah satu ruangan hotel.
"Wujud, apa itu?" gugup Ryan menepuk bahu Hanna, kala sosok itu berada di depan Hanna.
Tbc.
__ADS_1
Yuks mampir ke temen litersi Author, sambil tunggu Hanna Up.