PEKA

PEKA
ARWAH MATA COPOT


__ADS_3

"Ok! berita ini gue terima. Ini uang muka buat kalian berdua, kalian bisa kabarin saya secepatnya!" ujar pak Dirga, dari kepolisian.


"Terimakasih pak." ujar Ryan dan Hanna pergi lebih dulu.


Satu persatu, kasus kematian keluarga polisi terungkap, setelah semalam Hanna didatangi arwah. Tragisnya pembunuhan yang di alami itu motif kecemburuan, yang di amankan pelaku adalah sepupu yang cemburu karena harta dan wanita, jadi intinya istri kepolisian itu adalah mantan pelaku yang berada di rumah sakit jiwa. Ia menikah dengan sepupu dan mempunyai dua anak hidup bahagia.


"Ga habis pikir ya? ternyata motif cemburu bisa mudah hilangin nyawa. Rasanya pas bunuh itu, kok bisa mukanya datar?" tanya Ryan.


"Jin, syaitan menjelma dalam wujud manusia. Intinya banyak banyak istighfar!" balas Hanna.


Tak lama nada dering panggilan dari nomor salah satu dosennya. Yakni pak Brody, Hanna mengangkatnya dan membuat klaim, jika jasad pak Yola dan Mery, sedikit melirik Ryan. Kala Hanna saat itu berbicara.


"Arah selatan! setelah beberapa hari, dua jasad pasti akan ditemukan, bapak boleh tidak percaya. Tapi ayam hitam yang mereka inginkan memang adanya! bukan saya yang mengada ngada, menurut saya dari pada bapak berkomentar aneh. Lebih baik bapak diam, dan jika hasil tes dna cocok! tanda tangani skripsi saya pak!" cetus Hanna dan menutup ponselnya.


Ryan yang tahu dosen gilanya kembali berulah, ia segera mengikuti Hanna yang saat itu suasananya semakin pening. Ryan hanya berusaha membuat mood Hanna yang lelah tidak makin memburuk.


"Stop Hanna!" teriak Ryan.


Tak lama Ryan meminta Hanna diam, Hanna spontan terdiam dan melihat arah sekelilingnya yang berubah menjadi hutan dengan satu rumah tua yang gelap dan berlumut. Hanya ada mereka berdua, jelas jelas tadi mereka sedang dijalan raya berjalan pulang ke rumah. Tapi entah kenapa dalam hitungan detik berubah saat mereka mengayuh sepedanya.

__ADS_1


"Apa mau kalian sebenarnya, aku tidak mau mengikuti kalian lagi!" ujar Hanna menatap arwah di depannya yang melihat tajam, dengan satu bola mata saja. Dan mata satu lagi seperti hilang.


"Ting, ting, ting..."


Dentingan yang semakin cepat menyeringai pendengaranku, membuat Hanna menangis bercampur rasa penasaran. Tapi sepertinya aku tidak bisa lagi lari dari sini. Ryan masih berjaga di balik punggung Hanna, bukan tanpa alasan ia pun sedikit pucat ada rasa ketakutan.


Baiklah, aku akan segera menyentuhnya, tapi kau diamlah dan jangan terus memotong jalan Ryan! di belakang toko buku, aku mengayuh sepedaku dengan cepat menyeberang jalan, hingga seseorang mengejutkanku, dan kami sama sama terjatuh.


"Argh...."


Kami berdua segera mengangkat sepeda dan saling bertatapan. Entahlah dia seperti ketakutan dan segera pergi dari hadapanku. Aku berharap dia mau berbicara denganku.


Deri namanya. Kami saling berpandangan jika bertemu di sekolah. Tapi, entah kenapa dia selalu kabur jika aku melewatinya. Tidak mungkin aku wanita yang memulai berkenalan dengannya. Kami sudah lama kenal sejak sekolah dasar, bahkan selalu satu kelas. Entah kenapa jika aku bertemu dengannya, aku selalu terhalang sesuatu.


"Cuman senyum aja, selalu begitu, menyebalkan." lirih Hanna, membuat tatapan Ryan aneh menggaruk kepala.


Hanna kembali mengayuh sepeda mini dan Hanna sudah sampai di rumah yang persisnya berhantu. Ryan masih melirik jalan, seolah ia kembali pada rumah berlumut itu lagi, tapi Ryan melihat Hanna pada satu pohon yang membuat penasaran.


"Lo liat apa Hanna?"

__ADS_1


"Cowo, temen pria yang gue kenal dulu. Ia dinyatakan hilang, tapi gue lihat dia disana!" ucap Hanna, membuat Ryan kembali menelan saliva, yang ia tunjuk adalah satu pohon besar yang rimbun ditengah sungai.


"Siang begini, pasti tidak akan ada hantu. Mana ada hantu di siang bolong iyakan?" Gumam Ryan sambil memarkirkan sepedanya.


"Hanna, kamu baik-baik saja?"


Dulu di sekolah, temanku yang bernama Deri akan mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya. Ibunya adalah teman saat mamaku bersekolah. Bahkan mereka duduk satu bangku. Tapi ia hilang begitu saja, dan kini kenapa kita mau pulang, harus bertemu sosok wanita mata yang copot, dan pria teman gue yang basah kuyup pucat ke arah sana.


Ryan yang kaku, terdiam kala Hanna mulai menceritakan lagi. Ryan kembali fokus, karena dengan fokus kepekaan dirinya terhadap kasat mata akan terbuka seperti Hanna yang notabane indigo, ia wanita yang berbeda yang kerap selalu datang arwah meminta bantuan, hidupnya masih tidak tenang sebelum kasusnya di adilkan.


"Hanna, jadi kita ga bisa pulang? apa dua arwah si mata copot, sama arwah temen lama lo yang basah kuyup itu dia meninggal di sungai itu, dan rumah tua yang kita lihat itu. Adalah gudang susu yang saat ini dibuat pabrik?"


"Ryan, lo juga rasain kan. Sewaktu kita mau pulang, perjalanan kita berubah jadi hutan dan satu rumah tua aneh berlumut, mereka kasih gambaran. Kita ga bisa pulang, sebelum kita bantu mereka. Lo bawa kotak blody marry gue kan?" tanya Hanna.


"Ada di tas, bentar gue keluarin dulu." gemetar Ryan, yang kembali berusaha tidak takut, meski jujur ia sangat penakut.


Tbc.


Sambil tunggu Up! Yuks mampir kisah temen Author.

__ADS_1



__ADS_2