PEKA

PEKA
AMAL KITA


__ADS_3

Hanna kembali pulang, ia berpamitan pada Ryan! meski Ryan ingin mengantar, tetap saja Hanna ingin pulang sendiri. Sehingga Ryan diam diam mengikuti Hanna sampai di rumahnya.


'Setidaknya, aku bisa melihat kamu selamat Hanna!' batin Ryan, ia kembali pulang.


Sampai di kamar Hanna, ku ambil sajadahku dan segera melakukan sholat Isya yang sudah menjadi kewajibanku sebagai umat islam.


Di atas sajadahku, aku terus berpikir. Kenapa aku tidak melihat laki laki yang meninggal tadi? Dia seakan menghilang bersamaan dengan angin yang berhembus dingin kencang yang datang di atas makamnya.


Lalu, suara siapa yang aku dengar tadi? Entahlah, pikiranku saat ini semakin berputar putar, sehingga Hanna tertidur masih dalam memakai mukena. Tiba saja ragaku seolah keluar dan aku melihat jiwaku bersandar seperti wajah kelelahan.


Aku bersandar dengan ditemani kipas angin yang membuatku semakin berat. Membuka mataku karena hembusan anginnya yang sangat menenangkan pikiranku.


Perlahan aku menutup rapat mataku dan bangun di suatu perumahan bercat putih, dengan kondisi rumah berjejer yang berbeda dengan rumahku dulu, hanya dalam hitungan detik. Aku berdiri di salah satu rumah dengan pagar putih setinggi bahuku.


Aku melihat ayahku keluar dari rumah itu. Dia sangat tampan. Wajahnya bersinar terang dengan rambut hitamnya yang tebal.


Senyuman itu terus kuingat hingga saat ini. Iya, senyuman lembutnya kepadaku. Dia tidak berbicara apapun, dan hanya memandangku.


Hanna terus mengeluarkan air mata tiada henti. Kerinduanku sejak ditinggalnya saat ini bisa terlampiaskan. Sekian lama aku tidak pernah bermimpi tentang ayah, tapi kini aku bertemu seolah nyata.


Ayahku tersenyum, dan mengarahkan tangan kanannya, agar aku bisa melihat semua rumah berjejer ini.


Aku melihat di sebelahnya ada rumah berpenghuni nenek tua dengan taman hijaunya tanpa berbunga.

__ADS_1


Ada yang sangat bagus dengan taman yang indah subur, dan berpenghuni anak kecil.


Bahkan banyak sekali berderet rumah yang tidak ditanami apapun, hanya halaman kosong dan gersang dengan penghuni yang sangat mengenaskan.


Apa maksud mimpiku ini? Hingga pandanganku tertuju pada beberapa rumah yang berada di sebelah rumah yang ayahku tinggali.


Yah, aku seperti mengenal mereka. Aku pernah melihat mereka di album mama saat itu.


Mereka adalah para leluhurku dan anak kecil itu adalah saudara jauhku yang sudah lama meninggal.


Dalam mimpiku aku mengusap kedua mataku ini berkali kali, hingga aku berdiri di atas makam ayahku.


Aku melihat letak dan posisi makam yang persis, dengan apa yang kulihat di dalam mimpi.


Hanna membuka mukena, seolah benar tadi ia berada di dunia berbeda. Hanna terbatuk, sehingga saat itu ia menitikan air mata kerinduan. Entah kenapa ia melihat nenek Sari bersama sang ayah yang telah tiada.


Segera aku bersiap untuk, melakukan sholat subuh berjamaah di masjid, karena tepat sekali aku terbangun pukul 03.40. Rasanya baru saja tadi aku menunaikan shalat isya.


Dengan terdiam, Hanna berpikir lagi dimana dia? Iya laki laki yang baru dimakamkan di rumah Ryan, seingatnya ia mengikuti Hanna sejak tadi dan kadang hilang dari pandanganku, setelah angin dingin kencang itu berhembus di atas makamnya.


Lalu? Suara itu, apakah suara dia? Aku semakin bergetar memikirkan hal ini. Suara yang berasal dari dalam makam yang menembus ke dalam kedua telingaku dengan sangat mengerikan. Hanna ingat terakhir kalinya saat wujud kakek itu berubah gosong seperti terbakar hangus, bau menyengat membuat Hanna ingin muntah.


'Tolong aku..!' rintihan suara pria itu meminta tolong, Hanna terdiam di balik jendela. Hingga ia berwudhu dan menunaikan Shubuh di rumah.

__ADS_1


Suara itu sangat nyaring, bahkan teriakan yang sama sekali tidak pernah Hanna dengar sebelumnya. Suara serak seperti terbakar.


Ah, Hanna menggelengkan kepala sendiri untuk menenangkan dirinya kembali. Sampai aku duduk di kursi ruang tamuku melihat sosok laki laki bayangan hitam yang biasa menepuk pundakku ketika aku berada di dunianya.


Dia sangat berbeda dengan arwah yang aku lihat tadi, hanya dalam beberapa detik saja. Yah dia tidak menyerupai manusia, dia hanya bayangan hitam berwujud manusia. Sangat berbeda dengan arwah yang masih segar tadi. Wujudnya seperti manusia yang sangat pucat membiru.


Lalu apakah yang sering kulihat setiap hari? Apakah mereka hantu, arwah, jin? Lalu siapakah lelaki berseragam, nenek tua kembar, dan anak kecil, serta mereka yang berada di dunia lain yang sering ku datangi dan ku bantu itu. Benak Hanna memikirkan.


Dalam mimpi Hanna, melihat mereka para arwah hanya berada di alamnya dengan wujud manusia pucat. Tapi, setiap hari, aku melihat mereka yang tak kasat mata dengan wujud yang sangat menyeramkan.


Baru kali ini aku menyadari, kehidupan setelah kematian bisa terwujud baik dan buruk tergantung semasa hidup kita.


Hanna ingat, iya taman itu, ada yang subur, ada yang mengenaskan. Mungkin itu adalah amal semasa hidup kita.


Air mata Hanna terus menetes dengan deras sesaat aku mengingat ayahku yang mempunyai rumah indah dengan taman hijau di alamnya. Ternyata doaku selama ini bisa sampai menuju ke alamnya. Puji syukur Hanna saat ini, kembali mendoakan orangtuanya yang telah tiada.


Hingga tak terasa, adzan shubuh berkumandang. Bayangan arwah tadi sudah menghilang, terlebih suara suara aneh yang nyaring semakin nyaring seolah terus saja berdatangan di telinga Hanna.


Hanna pun menatap ponselnya yang berdering, Iya sebentar melihat dan itu adalah Ryan yang memberi pesan.


"Hanna, siang nanti aku jemput ya! kita jadi telusuri untuk cari jasad pak Yola." pesan Ryan, membuat Hanna menengkuk kepala terasa berat, seolah bahunya saat ini berat sekali.


Tbc.

__ADS_1


.


__ADS_2