PEKA

PEKA
RYAN CEMBURU


__ADS_3

Permainan blody marry, seketika kembali membuat ryan menyalakan lilin putih, ia pegang erat kala Hanna masuk ke dalam arwah yang menuju ingatan hari terakhir ia hidup.


Pertama adalah wanita yang salah satu matanya copot, ia ditarik oleh seorang pemuda yang memakai penutup serba hitam, lalu menarik tambang yang terlilit di leher wanita berbaju merah begitu saja.


"Aarrrgh." teriakan Hanna, menengkuk lehernya. Sehingga Ryan terus saja berdoa ayat ayat suci, memohon agar tidak ada korban jiwa.


"Siapa kamu?" Batinku yang mulai semakin penasaran dengan mereka yang menampakkan wujudnya kepadaku. Apalagi wajahnya yang menyeramkan.


"Hanna, apa sosok itu mirip leluhur kali ini?" bisik Ryan.


"Leluhur? Kau jangan bicara macam macam. Mana ada leluhur hantu serem gitu. Pergi sana!" Kupandang mereka dengan tatapan tajam dan akhirnya mereka berpelukan ketakutan melihat aku yang sangat merah menatap mereka. Yah, mereka seseram apapun tidak akan pernah menang melawan kita sebagai mahkluk yang paling sempurna diciptakan oleh Sang Pencipta.


Dia yang ternyata menyerupai seorang putri raja saat itu dan sangat cantik dengan busana mewahnya dan kulit mulusnya terus menatapku. Lalu berubah begitu saja menyeramkan.


Sangat berat sekali mata ini dan akupun memejamkannya.


"Kring....kring..." suara dalam dunia berbeda, Hanna kembali berdiri memperlihatkan wanita baju merah yang sedang di aniaya.


Sepasang mata ini yang terbuka dengan sendirinya dan aku berada di sebuah kamar dengan obor yang terpasang menyala di setiap sudut. Tembok yang terbuat dari batu bata mengelilingi ruangan itu. Kendi-kendi yang terbuat dari tanah liat menghiasi ruangan itu. Ruangan dengan ranjang yang terbuat dari kayu dan kain putih yang menghiasinya. Cermin yang menempel di tembok berbentuk oval dengan ukiran khas Mataram yanng mengelilinginya.


Wanita itu selalu merias dirinya dengan sangat cantik. Gayanya yang sangat anggun dan kecantikannya membuat para lelaki selalu menyukainya. "Lihatlah!"


Seperti biasa Hanna selalu di perintah mereka. Kali ini aku menolaknya dan tidak mau memenuhi apa yang mereka ingin lihatkan, tapi Hanna kembali melihat adegan wanita itu dianiaya, di renggut paksa. Setelah itu dicekik, dan saat wanita itu memberontak. Pria itu menancapkan obor ke salah mata wanita berbaju merah hingga tewas.


Arrrgh! ngilu rasanya, bagi raga Hanna yang memperlihatkan adegan itu. Lalu ia melihat pria itu membawa jasad wanita yang telah mati ke dasar pohon besar, ia menggali hanya mengenakan plastik biasa. Namun sebuah sepeda nyaring dari arah berlawanan, membuat Deri yang pulang sekolah terkejut begitu saja.

__ADS_1


Deri yang Hanna lihat saat itu, ia menjadi korban kedua karena melihat aksi pria itu, mengubur wanita mati istilah saksi tidak disengaja. Deri terdiam dan berlari sekencang mungkin tapi pria itu meraih langkah kaki seribu, membuat Deri terhujam celurit pada satu kakinya sehingga terjatuh. Deri yang Hanna lihat ia dibawa ke dasar sungai. Kepalanya ia celupkan karena takut kejahatan ia yang mengubur wanita terungkap.


"Aaaah! cukup, aku ga sanggup. Huhuhuu." tangis Hanna.


Hanna kembali menatap Ryan, setelah lilin di tiup. Ryan merasa ketakutan Hanna sangat dalam, apakah teman yang ia baru ceritakan adalah kekasih cinta pertamanya saat disekolah dulu.


"Lo ga apa apa, lo pasti kuat Hanna."


"Gue ga sangka, kalau Deri yang selama ini hilang. Dia mati karena pulang sekolah, melihat wanita baju merah dibunuh, di aniaya, di rendahkan mahkotanya. Tapi Deri pulang lewat jalan yang salah, dia bunuh Deri, temen gue, dia di celupin ke sungai. Dan mayatnya terapung, pria itu mengubur dua jasad bersamaan di bawah pohon itu." unjuk Hanna.


"Gue ikut prihatin, gue yakin keluarga mereka setelah tahu yang sebenarnya. Dia pasti tenang, setelah kebenaran terungkap." senyum Ryan.


"Tapi gue ga bisa lihat jelas, pelakunya! gue harus gimana?"


"Kita hubungi pak Dirga! dia satu satunya anggota yang percaya kelebihan lo Hanna. Setelah itu kita ke rumah temen lo Deri! dengan begitu, kasih petunjuk sama orangtua Deri, kalau kenyataannya memang anaknya sudah tidak ada." jelas Ryan, membuat Hanna mengangguk.


Seminggu Kemudian.


Berita kabar lewat iklan, dan juga koran memperlihatkan kejadian dua tahun silam.


Tragedi wanita bisu yang Hanna lihat dalam raganya saat berpetualang, dan sosok teman Hanna dahulu dibangku biru. Membuat berita tersebar luas. Dengan ciri ciri tatto di bagian pinggang dan bekas jahitan seolah operasi, dan ciri ciri pria itu berjubah. Membuat berita panas kembali bising dengan ketakutan rasa was was tidak tenang. Sehingga gempar banyak warga menutup pintu dan sepi di daerah tersebut.


"Sudah, tanpa kalian kami tidak akan menemukan jasad itu! Dua hari lalu, tes dna benar cocok. Keluarga mereka histeris dan berterimakasih. Karena jasad anak anak mereka kini dimakamkan dengan layak. Hanna, setelah ini kamu dan Ryan jangan berjauhan. Bisa saja pelaku mengintai kalian, kami meminta anggota berjaga di rumah kalian, dan kemanapun kalian pergi. Bawa ini, ini akan tersambung pada anggota yang tak jauh dari langkah kalian!" jelas Dirga.


"Pak, apa harus seperti itu ya. Kita bukan buronan loh."

__ADS_1


"Tapi keselamatan kalian, kali ini pasti terguncang. Pelaku pasti was was, bersembunyi dan mencari kalian."


"Pak, bukannya nama kami di samarkan?" tanya Ryan.


"Tetap saja, sekali penjahat. Ia aman selama ini, tapi pasti akan terungkap. Jadi bentuk terimaksih kami, terima ya Hanna."


Ryan dan Hanna pun mengangguk, lalu mereka pulang ke rumah Deri mampir. Tanpa melihat seseorang mengintai langkah rumah Deri yang sedang di wawancarai oleh berita.


Ryan yang sudah sejam, melihat aksi kedekatan Hanna dan ibu Deri, yang saling memeluk menenangkan, kenyataan pahit putra semata wayangnya. Yang dikira akan kembali, tapi kembali dengan tulang belulang saja. Milik tas korban bahkan diperlihatkan, hingga satu surat bu Surti, memberikan pada Hanna.


Itu adalah surat ungkapan isi hatinya pada Hanna saat dibangku sekolah. Ryan yang melihat secarik kertas itu, ada rasa panas tergugah begitu saja. Tapi tatapan Hanna senyum ke arah pintu kamar Deri yang terbuka, di sana Hanna melihat arwah Deri senyum padanya, pakaiannya sudah tidak lagi basah kuyup dengah lumuran darah, pucat pasi arwah begitu saja hilang seketika, kala Ryan menepuk bahu Hanna.


"Kita pulang sekarang?!"


"Iy, kita pulang." sengguk Hanna, menghapus air mata.


Dua puluh menit berlalu, Hanna yang sedang dibonceng oleh Ryan dengan sepeda. Ia berhenti kala seorang pria membawa celurit menghadangnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Hanna, lalu menoleh ke depan.


"Bapak itu ngapain ya, apa kita dalam bahaya?"


Seketika pria itu mengejar arah Hanna dan Ryan, belum mereka melarikan diri balik arah. Satu pria lain lagi menghadang dengan sebuah panah.


"Bapak bapak mau apa, kenapa halang kami pulang?" tanya Hanna, membuat Ryan membusungkan langkah, seolah melindungi Hanna.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2