PEKA

PEKA
Bonchap 2. End


__ADS_3

Ryan tanpa panik, di sekujur alu lalang ia merasakan keheningan. Sudah seminggu, ia dinyatakan baik baik saja. Selama itu juga, Ryan merasa aneh mengapa tragedi kecelakaan ia lihat di koran berita tidak ada kaitan dengannya.


Keluarga bu Mina sangat baik, ibu nya serta bahkan dua anak gadis dan Jamal anak laki lakinya juga terlihat baik padanya pun ikut merawat. Tapi ada yang aneh, kala ia turun dari ranjang tempat tidur berbentuk kayu jati dengan dipan karpet tikar di gelar.


Malam itu tampak hening di dalam rumah, tapi saat Ryan keluar. Ia tampak tercengang, ketika dua anak bu Mina membantu berjualan nasi uduk di malam hari. Terlihat ada pecel ayam, tapi anehnya Ryan merasakan keanehan.


Ada seorang wanita berbalut baju terusan berwarna merah hati, rambutnya kucel dan seolah berada di depan spanduk nasi uduk jago bu Mina. Terlihat gambar ayam, ikan lele dan menu di tulisan spanduk.


Ryan mendekat, dan saat ramai yang makan tampak biasa saja, seolah tak melihat wanita tinggi menutupi wajahnya di depan pintu. Terlihat Jamal menaruh piring dan es teh pesanan di meja pembeli.


Ryan berjalan kebelakang, ia amat terkejut kala bu Mina menggosok kakinya yang amat kotor, ke dalam wajan. Terlihat diputar dengan tatapan datar, lalu airnya ia masukan kedalam rebusan lalapan, dan minyak goreng. Bahkan wajan yang bekas di letakan kaki bu Mina, ia taruh sayuran dan setengahnya lagi untuk merendam ikan lele dan ayam.


Terlihat juga saat itu, bu Mina menggoreng ayam, ikan lele pada rendaman air kaki yang kotor. Separuhnya dimasukan ke dalam teko teh tawar, seolah untuk minum pembeli. Yang makan langsung di tempat.


"Astagfirullah! mereka be-berjualan dengan cara memuja agar laris dagangannya. Jadi yang selama ini aku makan?" uuuueeek!! Ryan segera memuntahkan isi perutnya. Ia kembali ke dalam kamar, berusaha mencari cara untuk keluar dari rumah yang menolongnya.


Terlihat juga mbak kunti berbaju merah, di depan pintu spanduk menatapnya dengan tajam. Buru buru Ryan masuk, ia segera mengganti pakaian dan mencari perlengkapan untuk ia meninggalkan rumah bu Mina.


Tidak henti hentinya, saat itu Ryan mengucap lafadz nama Allah swt. Ia berserah diri, memohon pertolongan. Ryan menyempatkan bersembahyang, dengan rasa gugup ia seolah tenang agar mereka tidak curiga.


"Nak Ryan, udah bangun? mau makan?" tanya bu Mina.


"Bo-boleh bu, makasih biar saya sendiri aja nanti. Terimakasih." senyum Ryan, padahal hatinya sangat ketakutan.


Setelah bu Mina meletakkan makanan dan minuman, Ryan pamit ke toilet. Namun ia mencari celah lewat pintu belakang, menuju hutan pohon rindang. Ryan segera berlari dengan sedikit cepat. Ia tak peduli, ia hanya ingin keluar dari perkampungan aneh. Sunyi, tapi hanya keluarga yang sangat membuatnya takut, ia takut kala keluarga itu akan berniat jahat padanya.


Ryan memanggil nama Hanna, setelah berada di pertengahan hutan. Ia tidak peduli longlongan binatang buas, bahkan burung hantu yang menyeramkan sekalipun. Bahkan tawa hantu kuntilanak yang terdengar jauh, konon katanya jika suara di dengar jauh maka ia berada dekat tak jauh dimana Ryan berada.


Ryan terdiam di atap satu pohon, ia lelah dan baginya sudah berkeringat. Bahkan kakinya terluka kena tancapan kayu kering, entah karena ia menggunakan sandal jepit saja, ia berlari dengan tergesa gesa demi keluar dari keluarga pemuja.


Dengan berat hati, wajah kedua mata Ryan mendongak. Kala seutai rambut mirip buntut kuda, terlihat menyentuh keningnya. Dan saat Ryan menoleh, keatas kepalanya. Dengan sadar itu adalah sosok wewe gombel yang menjulurkan lidah menyeramkan. Air liurnya bahkan menembus wajah Ryan dengan sengatan bau anyir yang tajam.


Aaaaargggh!! teriak Ryan, ia melangkah kaki seribu. Berlari entah kemana arahnya, hingga sampai berpuluh menit. Dan saat itu juga Ryan kesal, kala ia berada di ujung belakang rumah bu Mina lagi.


Ryan tak patah semangat, ia mengucapkan lafadz ayat ayat suci surat pendek hingga ayat kursi. Hingga setelah dirasa cukup lama, Ryan terperosot ke dalam jurang. Tubuhnya terbanting terus menerus dan benar saja ia mendengar suara Hanna.

__ADS_1


Ryan!! teriak lembut, tapi kedua mata Ryan menutup dan menyempit begitu saja. Seolah nyawanya antara ada dan tiada begitu saja, ia seolah merasakan darah mengalir deras, menembus benda tajam yang menusuk punggungnya. Hal itu karena Ryan merasakan kaku, juga dari perutnya benda runcing di hatinya menembus begitu saja.


Lailahaillallah Muhammadarrasulullah' memiliki arti “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah." kalimat akhir Ryan, saat itu langsung menutup mata.


Ia seolah ikhlas, apa yang terjadi. Darah bercucuran begitu saja. Dan suara tawa wanita tak kasat mata sangat kencang di telinga Ryan saat itu. Hingga Azal pun menjemput, Ryan benar benar tak bertemu Hanna, ia benar benar tidak tahu berada di mana.


Bayangan itu kilat saat dirinya bahagia bersama Hanna, Ryan yang menggandeng Hanna. Seolah ia telah bahagia, hidup lengkap. Tapi saat perbatasan hutan menuju sumatera, Hanna dan Ryan harus berpisah begitu saja.


Pagi memupuk silau cahaya, ambulance terlihat begitu banyak. Berita kehilangan pria yang dicari oleh Hanna, akhirnya membuahkan hasil.


Hanna harus mendapat kabar dari pak Dirga! jika Ryan ditemukan di sebuah perbatasan hutan. Bahkan sudah sepekan lebih polisi mencari Ryan tak kunjung ketemu. Konon mereka bilang di daerah itu tidak ada kampung.


Hanna harus menyaksikan makam suaminya, ia adalah orang yang membuat Hanna tidak sepi. Nenek dinyatakan tiada, sepuluh tahun silam. Tapi Ryan pria yang baik, baru berjalan tiga bulan menikah, ia kembali ditinggalkan.


Hanna meremas dengan air mata yang kering, ia menatap apa yang terjadi pada Ryan saat itu. Dan benar Ryan dibawa penghuni roh halus yang tidak tenang selama hidupnya memuja, hingga telah mati di dunia berbeda pun mereka masih menjalani kehidupan tidak baik. Menemukan pria bernama Ryan, atas nama menyelamatkan. Akan tetapi jiwa dan raga Ryan dibawa untuk persembahan tumbal pengantin bagi keluarga Mina.


Mina Artareksa Tjusono, lahir tahun 1786 meninggal karena dibakar oleh massa bersama kedua anaknya karena menjalani adat dan ritual pesugihan, penglarisan dan tumbal kekayaan awet muda kehidupan yang abadi.


"Aaarggh!" teriak Hanna, ia lemas karena semuanya tergambar jelas begitu saja, bagai film oleh Hanna, betapa tersiksanya Ryan juga saat itu.


"Nenek." lirih Hanna melihat wajah neneknya yang ia rindui.


"Sayang! kami selalu ada, Tuhan selalu bersamamu. Jalanilah hidup bahagia, tetap happy. Selamat jalan Hanna, kamu tidak akan merasakan kesulitan lagi." ujar Nenek, dan Hanna lemas menangis dibantu oleh Dirga yang menguatkan Hanna.


***


LIMA TAHUN KEMUDIAN.


Hanna dilamar oleh pak Dirga! saat ini, ia tak pernah lagi bertemu hantu atau arwah semacamnya. Dirga menyayangi Hanna, ia hidup bahagia dan telah menikah selama dua tahun lebih. Tidak mudah bagi Dirga menaklukan hati Hanna, hingga Hanna di ruqyah dan tak pernah lagi melihat arwah penasaran.


"Bunda, Aziel lihat nenek itu. Kenapa dia jagain rumah kita?" tanya bocah empat tahun itu, menatap ibunya.


"Aziel lihat apa nak? nenek yang mana?" panik Hanna.


Dirga menyentuh tangan Hanna! ia berbicara jika semua akan baik baik saja, Dirga menggendong anak laki lakinya.

__ADS_1


Jujur saja ia mencintai Aziel sama seperti anaknya sendiri, awal yang tidak tega kala Hanna hamil, tapi harus kehilangan suaminya Ryan dengan mengenaskan.


"Dia, dia ga boleh sama sepertiku mas. Kita harus bawa Aziel ke kyai. Mas bantu aku ke pondok mas! aku ga mau .."


"Sayang! mas akan antar, kamu jangan panik ya!" ucap Dirga, mengecup kening Hanna.


Hingga mereka berkemas, Aziel dalam pangkuan Hanna. Entah mengapa cuaca gelap, angin mulai besar dan hal itu membuat keseimbangan Dirga yang menyetir tidak hati hati.


Arrrrgh!! teriak, dalam mobil. Mobil mereka pun jatuh ke dalam jurang. Karena satu mobil menyerempet tak terlihat karena kabut tebal.


Sementara anak berusia empat tahun itu, berada di tepi jurang dan dibantu seorang nenek nenek bungkuk.


"Bunda... Ayah. Huhuuu." tangis Aziel. Kala ia melihat mobil orangtuanya masuk kedalam lautan.


"Ada nenek sayang! nenek akan jaga kamu ya nak!" ucap sosok nenek bungkuk, menolong Aziel dan menggendongnya, dibawa pergi jauh.


End.


( Tamat )


Chat Author: Terimakasih sudah dukung Hanna ya all. Ini adalah genre horor pertama Author, semoga kalian suka.


Percaya atau tidak! energi peka, atau indigo itu lelah. Di setiap membantu arwah yang datang, mereka amat jahat dan usil. Belum lagi akan ada energi yang berbenturan. Kisah Peka, dibumbui hal nyata penulis sebelum ditutup mata batin.


Belum lagi jika sudah berjanji akan membantu arwah, efeknya seorang indigo akan sulit hamil. Tapi setelah melupakan perjanjian tidak ingin melihat, membantunya.


Percayalah satu persatu ia akan terus mengusik dan meminta orang yang kalian sayangi, sebelum nyawa kalian diminta untuk menemaninya. Dan indigo, akan ada penerus keturunan yang ikut merasakan setelahnya. Tergantung takdir.


So, sampai jumpa di karya New Author lainnya ya!!


Yuks mampir karya Author yang lain, klik napen oktiyan dan semua akan muncul judul karyanya.


Karya New : # Pernikahan Yang Tertukar


# Bad Wife end.

__ADS_1


__ADS_2