
Pagi ini, Hanna telah bersiap siap. Setelah membuat sarapan tapi gosong, sudah berapa kali ia memasak telur, jika tidak busuk, pasti telurnya gosong. Sehingga Hanna memutuskan akan sarapan di luar bersama Ryan.
Hanna mengambil tas segera bergegas dan menuruni anak tangga, mulutku tidak hentinya mengucap doa, hingga pandanganku kembali melihat ketiga anak laki laki kembar yang menabrakku pertama kali aku bisa melihat mereka.
Entahlah siapa mereka yang ingin aku tuliskan kisahnya. Yang aku tahu mereka sangat berbeda dengan para arwah yang selalu tenang, diam, dengan wajah pucatnya.
Sedangkan mereka yang setiap hari mewujudkan dirinya, selalu menggoda, mempermainkan, dan berwujud seram jauh dari wujud manusia, membuat Hanna tak henti mengucap asma Tuhan.
Tujuh April 1997 selasa pahing pukul tujuh pagi setelah sholat sunah aku mengambil sebuah dairy kecil. Aku mulai mencatat dengan urut setiap tanggalnya, setiap detiknya, apa yang sudah ku alami sejak aku sembuh dari sakit, mata batinku menolong mereka aku catat, setiap kasus kematian akhir mereka dan tanggalnya.
Yah, awalnya wanita paruh baya kembar itu dengan kisahnya, polisi berseragam, anak kecil, hingga suara pemakaman pertama kali yang kudengar. Suara penghakiman yang sangat mengerikan. Terlebih salah satu dari mereka, ada tempat kejadian kak Isma meninggal mengenaskan, dan anehnya jin menyerupai keinginan terakhir ka Isma adalah memberikan kue ulang tahun untuk Ryan. Tidak satu pun Hanna lewatkan setiap ia menolong akan ia jadikan cerita dibukunya.
"Lama ya nunggu gue, sory! motor habis di service ni Hanna. Sekarang kita otw lokasi tim sar atau mampir kemana dulu?" tanya Ryan, kala membuka kaca helm.
"Sarapan dulu, gue laper. Aneh banget, ga biasanya gue masak nasi basi, terus ceplok telur gosong dan busuk."
"Isssh, perempuan kok ga bisa ceplok telur. Dah, cabut tar gue kasih tahu tempat sarapan terenak. Soto lamongan mang engkus! gue tadi lihat rame banget tuh dijalan, mobil mewah aja berjejer."
"Ok, kemana aja deh. Gue laper berat soalnya."
Benar saja, dalam puluhan menit Hanna menepi, membuka helm yang Ryan berikan, lalu mencari tempat duduk.
Duduk neng! ujar tukang soto itu.
__ADS_1
Lalu dengan senyum ramah, Hanna duduk sambil menunggu Ryan ikut. Tak memakan waktu lama, Ryan kode bilang," Pak, dua mangkuk dan dua nasi porsi setengah aja ya! es teh manisnya juga dua."
"Siaap." ujar pemilik soto, tersenyum miring.
Hanna terlihat aneh, tidak biasanya sepagi ini tukang soto mengantri, terlebih melihat pelayan yang datar membuat Hanna kebingungan dan sedikit merinding.
"Gue bilang apa, aman kan. Biasa kalau ada aneh aneh ama tempat makanan rame, pasti keliatan kaya mbak kun dan pak poci waktu itu kan?" bisik Ryan.
"Entahlah, semoga aja. Yang jelas gue laper berat!" balas Hanna.
Dua mangkok soto ayam! dua es teh manis, dan dua nasi porsi setengah! pesanan anda, benar kan?! ujar pelayan datar.
"Iy kang, Haturnuhn kalau gitu."
Ryan segera mengambil sendok dan menyuap, tapi Hanna tolak dan pegangi tangan Ryan saat itu. Mata tiga pelayan berdelik menatap Hanna, dan Hanna senyum agar tidak terlihat curiga.
"Baca doa dulu Ryan!" ucap Hanna, entah kenapa seperti ada yang aneh, Hanna yang sangat lapar tidak berselera.
"Ryan! bisa ikutin gue, setelah baca doa makan?"
"Ok, baiklah. Gue ikutin, karena indra keenam lo gue aman. Beneran hidup gue tertata dari yang ga banyak orang lihat."
Hanna membaca doa makan, lalu setelah itu ia membaca doa sihir, konon nenek selalu berpesan, ketika pedagang yang laris dengan tidak wajar ia akan memakai jin untuk melariskan, dan ada juga yang tidak terlihat hanya dengan doa seperti yang hanna ingin ucapkan saat ini.
__ADS_1
Bismillah! Walyalatof Walayusim Nabikum Ahadha. Yang artinya, berlaku lemah lembutlah kalian kepada siapa saja! sesungguhnya aku ingin makan dengan sehat dan atas izinnya aku berserah diri memohon petunjuk. Doa Hanna setelah membaca doa makan.
Ryan ikut mengikuti, setelah itu ia mengambil sendok garpu, tapi sesaat ia terkejut ketika nasi itu berubah menjadi belatung, soto itu berubah menjadi cacing hitam dan kalajengking. Minuman teh itu berubah menjadi darah hitam.
Ryan tergugup menatap Hanna, Hanna meminta Ryan bersikap sewajarnya saja. Ketika ia menoleh pada pedagang yang sedang melayani, dan benar saja itu adalah wujud segerombol genderuwo seukuran manusia, dan seekor poci tergelantung di atap gerobak pemilik kedai pak Engkus.
"Kita balik sekarang!" lirih Hanna.
"Pak, ma-maaf saya telat, ini uangnya. Saya nanti balik lagi lain waktu." senyum ramah tertahan, Ryan langsung meraih kunci motor dan pergi dengan cepat.
Tak sedikit dari mereka penjual soto, menatap kesal pada aksi Hanna, terlebih pengunjung menggeleng melihat dua remaja aneh.
Hanna dan Ryan dalam perjalanan, tak bisa ia bayangkan. Ia berhenti ke supermarket seven eleven, mengambil sebotol air putih, roti sobek dan beberapa donat untuk pengganjal perut. Di bangku Hanna masih pucat kala ingatan pesan nenek Sari terjadi.
"Wuah, gila. Untung belum masuk mulut tadi. Hanna, kok lo bisa tahu tadi. Padahal tadi jelas ga keliatan ada jin loh?"
"Pesan nenek Sari, di saat gue mau makan entah kenapa serasa ada yang nahan gue ga jadi laper, dan ragu. Apalagi pelayan nyiapin ngasih mangkuk soto ke meja lain, jempolnya kecelup dan pengunjung yang makan seolah biasa aja. Aneh kan?" menoleh Hanna menjelaskan.
"Hanna, gue salut sama kelebihan lo ini."
"Dah cepet sarapan! kita harus ke lokasi kan, siang nanti gue harus kerja sampingan. Apa yang lo ucap kelebihan, sejujurnya gue capek. Tiada hari selalu mereka datang, energi terlalu berat buat orang peka! hanya pilihan, yang konon kata orang harus di ruqyah." jelas Hanna, membuat Ryan bungkam kembali melahap donat.
Tak lama, Ryan tertegun, kala sebuah pesan dari polisi.
__ADS_1
Ya, itu adalah berita tewasnya bapak tua yang pernah ia lihat dengan perut berantakan, sedihnya Ryan lokasinya sama tepat, dimana ka Isma kecelakaan, sehingga Hanna jelas melihat raut wajah Ryan sedih.
Tbc.