PEKA

PEKA
ARWAH TERDETEK


__ADS_3

Kaki Hanna serasa berdiri di sebuah tanah yang sangat kering dan menusuk telapaknya. Kayu kayu kering ini berada dalam sebuah karung dengan dua wanita kembar berumur empat puluh delapan tahun yang memungutnya.


Hanna juga melihat beberapa jam arwah gentayangan ini sebelum mati, ia memperlihatkan sebelum ia mati mengenaskan oleh ulah seseorang. Hanna terdiam berdiri, memperhatikan aksi bayangan kilat yang jelas, hanya dengan raganya yang berada di tempat asing.


Dengan gembira mereka tertawa sambil ditemani dua lelaki, yang seumuran meminum air sambil duduk di sebuah gubuk tidak jauh dari mereka.


"Jeng Say, nanti malam abah mau makan nasi ikan asin sama sambel teri kesukaan abah."


Suara itu muncul dari salah satu laki-laki dengan memakai celana selutut, berwarna coklat dan topi petani yang menempel di kepalanya tanpa menutupi tubuh bagian atasnya.


"Pasti akan aku masakkan buat abah. Iy kan ka Ay?" seru wanita itu.


Jawaban dari salah satu wanita kembar dan menutup karungnya yang berisikan kayu kering. Mereka berempat saat menjelang malam.


Karena yang Hanna lihat adalah kegelapan yang mulai menunjukkan dirinya saat itu, berjalan memasuki sebuah rumah yang terbuat dari gubuk sederhana dengan beberapa ekor kambing yang terikat di pagar kecil dari bambu.


Saat itu Hanna tidak mengetahui apakah ini bermimpi, tertidur, atau terbangun, bahkan koma. Entahlah apa yang sebenarnya terjadi pada Hanna, yang jelas jiwa Hanna, sedang tertidur di meja makan dengan pulas, tapi raga Hanna di tuntun oleh seorang arwah penasaran.


"Lihatlah, jejak kematian kami! Lihatlah!"


Yah, suara menyeramkan itu kembali menyeringai telingaku yang semakin bergetar. Mulutku semakin tidak bisa digerakkan sama sekali.


Hanya mata batinku yang bisa aku gunakan saat ini. Baiklah aku kembali melanjutkan apa yang mereka ingin tunjukkan kepadaku.

__ADS_1


Cahaya seperti bola-bola api yang melayang dari kejauhan datang dengan cepat menghampiri gubuk mereka.


Setelah aku memperjelas lewat mata batinku, para penduduk desa sekitar membawa semacam obor yang dibuat untuk menerangi hutan yang sangat gelap. Aku melihat mereka marah dan melemparkan obor ke arah gubuk si wanita kembar dan membakarnya.


Kedua laki-laki yang bersama mereka ikut terbakar bersama api yang dengan cepat menyapa tubuh mereka. Ke dua wanita kembar di seret oleh beberapa warga, hingga tubuh mereka bersatu dengan tanah dan terluka.


Jeritan-jeritan itu sangat memekakkan telingaku dan aku sudah tidak tahan lagi dengan apa yang aku lihat. Namun, aku tetap tidak kuasa menghilangkan apa yang mereka ingin tunjukkan.


'Hentikan ini! Aku tidak mau melihatnya!' ujar Hanna berteriak, histeris dan menangis.


Hanna masih melihat, mereka. Akan tetapi tidak mau membebaskan. Semakin Hanna meronta, semakin merasakan sakit yang luar biasa. Aku berusaha menenangkan batinku dengan menahan nafasku yang terengah-engah seakan merasakan sakitnya kulit yang termakan oleh api yang melahapnya.


'Sakit, hentikan!' Hanna seolah berada dalam kobaran api.


'Baiklah, aku akan menyelesaikan ini dan berjanjilah kau pergi dari sini! setelah aku membantumu, damai dan tenanglah kalian!'


Pandangan Hanna kembali menuju sebuah pohon besar yang sangat tinggi dengan tali yang di kaitkan dengan salah satu batangnya yang sangat besar. Dengan berteriak kedua wanita kembar itu dipaksa oleh semua warga untuk menggantung dirinya. Dengan tatapan dicampur tangisan, mereka terpaksa melakukannya.


"Tidak, sakit sekali leherku."


Dalam tali yang menggantung tubuh mereka, seakan Hanna, ikut merasakan kesakitan yang mereka alami.


Dalam hitungan beberapa detik aku kembali dalam meja makan di rumah Ryan, dan ternyata sepasang mataku terbuka tidak menutup.

__ADS_1


Butiran butiran keringat penuh membasahi wajahku. Aku melihat jam yang menunjukkan pukul dua belas siang. Tiba tiba Ryan datang memberikan segelas air minum.


"Lo ga apa apa?" tanya Ryan.


"Lihat apa? udah jelas, kenapa wanita leher berdarah ikutin gue sampe rumah?" tanya Ryan kembali.


"Dia ikutin lo karena lo berpapasan, saat lo duduk di batu samping pohon beringin! dia di paksa digantung warga, jadi jasad dia terpisah oleh keluarga, dan kembarannya. Dia minta kita bantu, karena dia mau dimakamkan dengan layak!" jelas Hanna.


"Astaga, lalu gimaana caranya Hanna?" ucap Ryan.


"Kita cari berita pembakaran hutan tahun 1997, desa agrimati. Gu-buk segitiga, dengan satu keluarga, dua anak gadis tua kembar, dan adik laki laki serta sang ayah yang renta. Jasad mereka habis dimakan api, hanya dua wanita kembar terpisah, di minta gantung diri setelah menyatakan dia adalah wanita penghibur di hutan agrimati,"


"Jadi, kita bersihin namanya dan buat berita baru?" ucap Ryan.


"Heeumph! kita temui wartawan, dan minta bantuan mereka. Setelah itu, kita minta bantuan tim sar! jika ada mayat di pohon beringin, blok FH tepat batu bertulis Jeng Say always Jeng Ayu."


Ryan terdiam, kala Hanna bisa berkomunikasi dengan sedetail itu, Ryan juga ikut merasakan apa yang di rasakan Hanna saat ia berteriak teriak tadi.


"Ok! kita bergerak cepat. Gue ganti baju dulu, kebetulan gue punya wartawan yang bisa diandalkan buat buka kasus 97."


Hanna senyum mengangguk, entah sampai kapan Hanna terus bersama Ryan! Hanna kembali memencet nomor bibi Mela, tapi tak ada jawaban dan pesan pun terbaca kala menanyakan kabar sang nenek. Bibi Mela adalah tetangga jauh, yang dekat dengan rumah nenek yang lama.


Hanna ingin cepat menyusul sang nenek, tapi ia juga harus bekerja paruh untuk ongkos, dan membantu kisah kekasih Ryan yang masih hilang di kampus camping.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2