PEKA

PEKA
ANCAMAN JIN


__ADS_3

Ryan siuman dari pingsannya, ia menyadarkan pandangan ke sekitarnya. Ia tidak melihat orang orang lagi, apalagi sosok yang terakhir ia lihat. Hanya Hanna, yang setia menungguinya.


Tidak ada luka serius, ataupun patah tulang di sekujur tubuh Ryan. Karena setelah kematian roh arwah dan jin menyatu menjadi wujud padat, Ryan terpental naik dan dihempaskan ke dasar tanah penuh dedauanan.


Ia berwujud jiwa, efek kerusakan tubuh tidak Ryan rasakan. Namun, sakit karena mendapat serangan akan terasa. Ini disebabkan karena serangan yang dilakukan Jin adalah serangan energi yang berpusat untuk merobek ketenangan jiwa. Sama seperti senjata mbak kunti di dapur Hanna, yang dulu digunakan seseorang untuk menakut nakuti Ryan, yang bersikap tidak baik.


"Akhirnya sadar juga." lirih Hanna.


"Sakit punggung gue kebawah, gue kenapa tadi ya Hanna?"


"Udah, kita cepet pulang! masih banyak yang perlu kita siapin buat kembali, nanti aja udah sampai kota gue ceritain." ujar Hanna, dan Ryan mengangguk, ia nurut kala dibantu berjalan meski tertatih sulit


Wajah Hanna yang semula cemas, mulai memudar. Ia menampakkan wajah bersyukur. Karena Ryan tak apa apa, dan sosok lidah panjang bau hanyir itu seketika hilang, ketika Hanna mengucapkan asma Tuhan dan membaca ayat kursi. Meski saat berhadapan, mulut dan bibirnya seolah terkunci, tapi bisa Hanna lewati.


"Lo duduk! biar gue yang kendarain motornya!" ujar Hanna, menyalakan motor gunung itu.


Ryan terdiam, ada rasa sakit ketika ia dibonceng oleh Hanna. Ryan mulai menatap wajah Hanna dari spion, terlihat pantulan cahaya menerangi wajah Hanna yang semakin bersinar, andai ia tidak sakit punggungnya. Mungkin ia akan memilih bertukar tempat, bahkan membonceng Hanna dan memanjakan momen Hanna yang sangat natural beautifull.


'Hanna mirip ka Isma, perhatian dan cantik natural.' batin Ryan, senyum tapi mode menahan rasa sakit.

__ADS_1


Hingga beberapa saat perjalanan mereka sedikit terhambat, tapi mereka berhasil keluar dari hutan mati.


PERJALANAN PULANG


Begitu keluar dari hutan, Detektif Jhons beserta kedua asistennya segera menuju mobil yang terparkir di tepi jalan. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil tersebut.


"Terimakasih," batin Detektif Jhons bersyukur.


Ayah Detektif Jhons adalah seorang detektif di Kota yang sangat mengenal Ryan. Dan karena kasus camping banyak tidak terungkap, Ryan mampu membuat tim detektif dinilai mampu.


Sehingga nama baik mereka kembali bersinar. Karena saat itu ada kasus sepuluh tahun yang lalu, tidak berhasil terungkap, Ayahnya dinilai warga tidak profesional mengurus kasus itu. Merasa malu dan bersalah, Ayahnya meninggalkan pekerjaannya. Melalui data data yang masih tersisa milik Ayahnya, Detektif Jhons kembali melanjutkan tugas Ayahnya menjadi kepala tim sar.


"Bapak, ini gambar yang saya dan teman saya diberikan petunjuk, jika tak percaya tak apa. Tapi percayalah! kasus ini benar benar dari mereka yang tidak terlihat. Kami melihatnya dan Hanna, teman saya mampu berkomunikasi dengan dilihatkan akhir korban." jelas Ryan.


"Kamu yakin? tepat sasaran kan. Tahu jika tidak tepat sasaran?" ujar Jhons.


"Paman tidak mudah bagi kami, masuk ke energi mereka. Bagi sebagian orang mungkin dianggap halu dan gila, tapi percayalah aku minta sepuluh ekor ayam hitam berusia satu setengah tahun. Tiap pukul tujuh malam, Ryan akan ambil!"


"Apa, ayam hitam sepuluh ekor, satu setengah tahun?"

__ADS_1


"Paman, percaya atau tidak kami juga lelah. Tapi mereka selalu datang, terlebih Hanna teman saya sudah sangat letih, energinya terserap oleh mereka yang semasa hidupnya kurang beruntung." jelas Hanna, membuat Jhons segera mengambil pena, dan tanda tangan.


"Ok! kami segera ke lokasi, dan permintaan kalian saya acc." ujar kepala tim SAR.


Tidak sedikit pula anggota kepolisian yang awalnya meremehkan Hanna dan Ryan, kini mungkin tertarik, meminta dua mahasiswa siswi ini untuk membantu kasus lainnya.


"Kalau begitu kami pamit pak!" ucap Ryan, kepada paman Jhons.


Di luar, Ryan berusaha menghidupkan motor. Hanna yang memakai helm, terkejut kala anggota kepolisian meminta waktunya sebentar.


"Dek Ryan! begini, bisa ke kantor sekarang? kepala kepolisian kami yang memintanya langsung." ujar pak Dirga.


Hanna dan Ryan saling menatap, mau menolak mereka anggota pihak berwajib.


Tbc.


Sambil tunggu Hanna Up! yuks mampir ke literse temen Author.


__ADS_1


__ADS_2