
"Karena kau, kami akan terbongkar! jadi ada baiknya kalian, kami lenyapkan sekarang juga!" ujar pria dengan wajah bersarung hitam.
Hanna melihat tatto yang mirip dengan pelaku, sehingga Hanna memencet tanpa orang itu tahu dari bilik belakang tangannya, Ryan membusungkan tongkat agar tiga pria itu pergi.
"Jadi bapak yang bunuh teman saya kan, kalian sadis. Harusnya dihukum mati agar mengurangi populasi manusia berhati iblis yang sangat jahat! kalian tidak punya hati, orangtua mereka sangat sedih. Bagaimana jika semua terjadi berbalik pada keluarga bapak?!" teriak Hanna.
"Banyak omong, bocah kencur! kau mati sekarang, jangan nasehati kami. Hyaak."
Hanna dan Ryan menunduk, Ryan melindungi Hanna. Tapi belum sempat lima centi, beberapa polisi mengerahkan senapan. Membuat pelaku yang mencelakai Hanna dan Ryan tidak jadi, ia ketar ketik pergi. Tapi sebuah borgol sudah menerjam mereka.
"Angkat tangan! kami tim polisi!"
Satu pelaku ditembak kakinya, satu lagi mengenai lengannya. Hanna dan Ryan yang panik, tak punya bela diri ia menarik nafas dengan lega.
"Udah di amanin sama polisi, lepasin badan gue!" ujar Hanna menatap tajam.
"Eh, iya. Sory Hanna."
"Modus lo." sebal Hanna, ia menepuk celananya banyak daun yang menempel.
"Pak Dirga." teriak Hanna dan Ryan spontan.
"Terimakasih, haah. Kalian best, akhirnya banyak kasus yang misteri, karena kalian kami tenang. Oh, ya kasus dosen kalian pak Yola! seseorang ingin menemui kalian ke kantor ya! saya tunggu!" ujar pak Dirga.
"Ah, iy pak. Kami akan kesana, tapi kami harus ke hotel milik paman Ryan dulu."
"Biasa pak, mau ambil celengan ayam sepuluh tahun." cetusnya, membuat Hanna melirik.
"Baiklah, sampai jumpa di kantor ya, Hanna. Ryan!"
"Yups, ok pak Dirga." senyum mereka.
__ADS_1
***
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan aku ingin bersantai dulu hari ini. Setidaknya agar besok ketika aku sudah harus bekerja, aku akan lebih fresh. Jadi segera saja kulangkahkan kakiku menuju sebuah pondok yang letaknya dekat dengan tebing yang langsung menghadap ke pantai.
Kata Ryan, pamannya sengaja mendesain pondok di sana agar bisa menikmati pemandangan indah ketika pagi dan sore hari. Bahkan, kata Ryan jika beruntung akan melihat kumpulan ubur-ubur yang terlihat bersinar di malam hari. Paman yang baik sekali, membuat pondok dekat dengan alam, tak sedikit pemandangan hotel milik paman Ryan, sangat indah.
Aku tidak tau apakah itu benar, yang pasti saat ini aku sedang sangat ingin berendam air hangat. Meski begitu kami tidak boleh boros dalam menggunakan sumber daya listrik atau kami akan berada layaknya di zaman purba yang gelap, dan tanpa fasilitas pendukung.
Setelah melihat pondok yang akan kutinggali selama masa pengerjaan proyek Hotel Black Park, awalnya aku memang merasa sedikit aneh mengingat aku biasa tinggal di rumah yang luas dan penuh dengan fasilitas mewah.
Well, tidak masalah selagi tidak terlalu menyulitkanku. Nyatanya Ryan memang bisa diandalkan. Di kamar mandi yang tidak terlalu luas ini ia sudah menyiapkan air hangat di bak mandi. Bahkan, entah aroma terapi apa yang ia tambahkan sehingga aromanya semerbak dan menenangkan.
Tanpa membuang waktu Hanna pun segera menanggalkan semua pakaian dan masuk ke dalam kubangan air yang memang sangat hangat dan nyaman ini. Sayangnya Hanna lupa memesan jus untuk teman mandiku.
Kutarik nafas dalam, kemudian kupejamkan mataku dan berusaha untuk merilekskan pikiranku. Tapi tiba-tiba, entah apa yang terjadi tapi lampu di kamar mandi mendadak padam. Seketika aku pun mulai panik karena jujur saja aku tidak takut apapun kecuali gelap.
Aku mungkin akan terlihat sangat payah ketika berada di tempat yang gelap. Bukan karena takut akan muncul hantu atau sejenisnya. Tapi nafasku terasa sangat sesak ketika aku berada di tempat yang gelap. Seolah semua dinding, menjadi bergerak dan berusaha menghimpitku.
Dengan panik akhirnya aku berusaha mencari handuk dalam kegelapan. Untungnya aku menemukannya dengan mudah dan segera kulilitkan di pinggangku. Aku tau seharusnya dalam keadaan seperti itu, aku harus mencari senter atau setidaknya lilin sebagai penerangan.
Hanna segera mengambil sandal, setelah itu dengan cepat ia menutup pintu kaca, dan menutup hordeng. Tanpa sadar sebuah cahaya kilat dan petir, menampakan sebuah wajah dan muka seseorang dengan suara yang tidak biasa.
Sssssh! jauhi kamar ini, hotel ini milikku!
Suara gamblang, memekik telinga Hanna. Hanna merasakan ketakutan, ia merasakan ada yang berbeda. Tidak tau kenapa, sosok itu sepertinya buatan atau sengaja di taruh di hotel ini.
Cepat cepat Hanna berlari ke kamar, ia mengambil pakaian dengan cepat memakainya. Setelah ia meraih tas, ponselnya terjatuh. Satu benda membuat Hanna terpental ke kening, dan terjatuh.
"Braaagh."
Aarggh, sakit sekali. Hanna bangkit, dan terdengar suara gedoran pintu dengan kencang.
__ADS_1
Dor .. Door .. Dor.
Suara ketukan itu hingga delapan kali dengan keras, Hanna kembali fokus. Menutup mata agar raganya tahu, siapa sosok di depannya ini.
Aku pun mengangguk dan memanggil Ryan!
Tepat Ryan datang, membawakan air yang ia punya. “Um...dan Hanna. Maaf untuk yang kulakukan padamu tadi. Lo tau? Gue sangat panik saat, kamar mandi menjadi gelap, sebenarnya gue phobia dengan ruangan gelap, maka dari itu gue turun cari senter, dan minta karyawan hotel benerin saklar. Lo ga apa apa kan?"
"Kamar ini keramat! Ryan, penunggunya disini sengaja di taruh. Setiap yang menempati kamar ini, dia akan kembali dengan kecelakaan. Lo tau paman lo lakuin semuanya?" tanya Hanna.
"Kening lo berdarah! cerita hotel paman kita selidiki nanti, gue obatin kening lo dulu Hanna."
Untungnya Ryan adalah orang baik dan dia bisa memahami apa yang Hanna alami. Dan setelah Ryan membawakan sebotol air mineral, obat p3k. Hanna pun mulai menenggaknya sembari bersantai di atas tempat tidur. Hingga akhirnya tanpa terasa mata Hanna pun mulai terpejam seolah seseorang menariknya ke alam lain.
"Han lo kenapa?"
"Dia datang, orang itu bawa ayam hitam, kain hitam dan pisau. Lalu setiap ktp yang memesan atau mendapatkan kamar ini secara gratis, dia akan dijadikan tumbal dengan darah ayam di atas kain hitam dan identitasnya." lirih Hanna, yang menengkuk lehernya dan Ryan berusaha menarik nafas, membawa Hanna ketempat terang.
Buugh!
Saat Ryan mengangkat Hanna, tiba saja kepala Ryan di pukul oleh seseorang dari belakang, hingga Hanna pun ikut terjatuh.
Hanna hanya mendengar suara seseorang dengan berbisik, karena raganya saat itu berada di alam lain, layaknya berkomunikasi apa yang terjadi.
"Angkat cepat dia! bawa dia pergi ke tempat biasa." ucap orang asing.
Tapi baru beberapa saat tertidur, entah kenapa aku merasa udara terasa begitu dingin. Bahkan aku bisa mendengar suara desiran angin dengan sangat jelas. Kubuka mataku yang sebenarnya masih terasa sangat berat.
Dan astaga! Apa ini?! Kenapa tiba-tiba Aku dan Ryan berada di depan bangunan Hotel Black Park?! dengan kaki, tangan terikat dan lilin mengelilingi.
Tbc.
__ADS_1
Sambil tunggu Up! yuks mampir lagi ke temen litersi Author.