Pelakor Itu Sahabatku

Pelakor Itu Sahabatku
Bab 10


__ADS_3

"Tania?" lirihku kaget saat mendapati Tania berdiri di belakangku.


"Mas Yoga," ujarnya.


Dia langsung berlari menghampiriku. Dia memeluk tubuhku yang masih diam terpaku mencerna apa yang saat ini tengah terjadi.


"Mas Yoga, aku merindukanmu," bisiknya di telingaku.


Sebenarnya aku juga merindukannya. Aku membalas pelukannya. Meluapkan rasa rindu yang selama ini aku pendam di hatiku.


Aku bersyukur mendapati dirinya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.


Tiba-tiba aku teringat dengan gelang yang tadi kupegang.


"Apakah gelang ini milikmu?" tanyaku penasaran.


"Iya, Mas," lirihnya mengangguk pelan.


Aku bahagia saat mengetahui bahwa Tania adalah putri rubahku, cinta pertamaku.


Rasa cintaku padanya kembali tumbuh pada wanita yang jelas-jelas bukan istriku.


"Bro, aku ada urusan dulu sama dia. Kalian lanjutkan saja!" ujarku pada teman-temanku.


"Nis, ntar kalau udah selesai hubungi gue," pintaku pada rekanku.


"Aman, Bro!" sahut Denis.


Aku menarik tangan Tania ke sebuah meja di pojok food court.


"Tania, kamu baik-baik saja?" tanyaku mengkhawatirkan dirinya.


"Baik, Mas. Untung ada Alisya yang membantuku waktu itu," Tania menceritakan kejadian yang membawanya tinggal di Bandung.


"Serius? Kamu sekarang tinggal dengan Ibu Fatimah?" tanyaku pada Tania tak percaya.


"Iya, Mas. Aku merasa bosan dan akhirnya aku memilih untuk mencari pekerjaan." Tania menceritakan semua yang dialaminya setelah kabur dari suaminya.


Tania terpaksa mengganti nomor ponselnya, agar suaminya tak bisa melacak keberadaannya saat ini.


"Tania, maafkan aku saat itu tidak bisa membantumu, karena aku sudah berjanji pada keluarga besarku untuk tetap setia pada Alisya. Tapi, sejujurnya aku tak bisa melupakanmu." Aku mengungkapkan apa yang kurasakan.


Aku menggenggam erat tangan wanita yang kini telah mencuri hatiku.


"Mas, hubungan kita ini salah." Tania menggelengkan kepalanya.


"Tapi, Tania. Aku mencintaimu!" Aku meyakinkan Tania.


Seketika aku melupakan semua janji-janjiku karena aku mencintai Tania yang merupakan putri rubah sang cinta pertamaku.


"Mulai saat ini, aku akan mencoba memberikan pengertian pada Alisya bahwa aku hanya mencintaimu." Aku terus meyakinkan Tania agar dia kembali menjalin hubungan denganku seperti dulu.


"Mas, kamu serius? Aku akan menunggu kamu," jawab Tania berseri-seri.


Kali ini aku bertekad untuk memberikan pengertian pada seluruh anggota keluarga besar Herlambang bahwa cinta itu tak dapat dipaksakan. Di hatiku saat ini hanyalah Tania.

__ADS_1


Sejak pertemuanku dengan Tania, aku kembali menjalin hubungan terlarang dengannya.


"Mas, besok aku ada kontrol ke rumah sakit." Alisya menghampiriku yang sedang fokus dengan laptop menyiapkan beberapa presentasi dengan klien.


"Mhm, lalu?" tanyaku dingin.


Walau sebenarnya, aku mengerti maksud Alisya memberitahukan jadwal kontrolnya. Namun, aku merasa malas untuk menemaninya.


"Bisakah kamu meluangkan waktumu untuk menemaniku?" tanya Alisya padaku terus terang.


"Sya, dua hari lagi aku ada meeting penting dengan klien, di tambah tugas-tugas kampus yang menumpuk. Aku tak bisa menemanimu, aku akan meminta ibu untuk menemanimu besok," ujarku tanpa mempedulikan hatinya yang terluka.


Saat ini aku sedang berusaha menyadarkan Alisya, bahwa aku tak lagi mencintainya.


"Baiklah, Mas. Besok aku akan pergi sendirian. Biar Pak Ujang yang menemaniku," ujar Alisya.


Dia melangkah menjauh dari meja kerjaku. Kulihat dia mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Sesaat Alisya pergi, ponselku berdering. Menandakan sebuah notifikasi pesan masuk.


Kulihat di ponselku tertera pesan dari Tania.


[Sayang, lagi apa?]


Dengan senyuman aku membaca pesan dari kekasih gelapku.


[Lagi mempersiapkan presentasi meeting]


[Aku mengganggu?]


Tania mengirimiku fotonya yang sedang bersiap-siap untuk tidur.


[Cantik!]


Aku memujinya.


Aku pun mulai asyik berkirim pesan hingga aku melupakan pekerjaanku.


Keesokan harinya di meja makan saat sarapan.


"Yoga!" Ibu memanggilku.


"Iya, Bu," seruku menanggapinya.


"Hari ini jadwal kontrol Alisya ke rumah sakit, walau bagaimanapun kamu harus sediakan waktu untuknya!" perintah Ibu padaku.


"Tapi, Bu. Aku sedang banyak pekerjaan," aku berusaha memberi alasan.


"Tidak ada alasan, wanita yang mengandung butuh perhatian dari suaminya." Ibuku menasehatiku.


"Bu, Alisya bisa pergi sendiri," bantah istriku.


Mungkin dia tak ingin mempermasalahkan hal ini.


"Tidak, Sya! Anak yang di rahim kamu adalah anak Yoga juga, itu artinya dia harus memberi perhatian khusus pada kalian." Ibuku terus mengoceh tak setuju dengan sikapku

__ADS_1


"Dulu, waktu ibu kalian mengandungmu dan Rania. Ayah selalu mengantarkan ibumu kontrol. Meskipun ada jadwal meeting. Semua akan ayah cancel demi kalian," ujar Ayahku membela Ibu.


Saat ini aku benar-benar terpojok.


"Baiklah, aku akan mengantarkan Alisya." Akhirnya aku memutuskan untuk menemani istriku.


Kulirik istriku, terlihat wajahnya tak bahagia dia menyimpan kekecewaan.


Mungkin semua orang di ruang makan menyadari raut wajah istriku yang kecewa, aku berusaha cuek dan tidak ambil pusing.


Hari ini aku berangkat ke kantor, demi menuruti keinginan Kakek aku terpaksa menjalani dua aktivitas dalam satu minggu.


3 hari ke kantor untuk menghandle perusahaan keluarga, dan 3 hari lagi di kampus sebagai seorang dosen.


"Aku pergi," ujarku pada Alisya sebelum masuk ke dalam mobil.


Alisya tak menjawab ucapan ku, dia hanya meraih tanganku lalu menyalaminya dan menciumi punggung tanganku.


Ada rasa bersalah terbesit di hatiku tapi apalah dayaku. Aku mencintai Tania, dan rasa cinta itu semakin besar setelah aku mengetahui bahwa dia adalah putri rubahku.


Sepanjang perjalanan, aku menghubungi Tania dan menceritakan apa yang barusan terjadi.


"Sayang, seharusnya kamu bisa perhatian pada Alisya. Dia tengah mengandung anakmu." Tania menasehatiku.


"Aku tidak bisa, daripada dia semakin kecewa karena aku," jawabku memberi alasan.


"Oh iya, aku sudah sediakan apartemen buat kamu. Kamu harus keluar dari rumah Ibu Fatimah, agar aku bisa bebas menemuimu!" ujarku.


Aku sengaja membeli sebuah apartemen di Bandung, agar Tania bisa bebas melakukan apa yang diinginkannya. Dan aku juga bisa menemuinya kapan pun aku ada waktu.


Pukul 10.00 pagi, aku sudah Sampai di depan rumah. Aku masuk. Dan melangkah menuju kamarku dan Alisya.


Sebelum aku menaiki anak tangga, aku melihat Ibu, Ayah, Kakek dan Nenek tengah mengobrol di ruang keluarga.


Aku mengabaikan mereka karena aku sudah terlambat satu jam dari janjiku.


Saat aku membuka pintu kamar, kulihat Alisya tengah duduk di lantai di pinggir tempat tidur.


Dia menangkupkan wajahnya di kedua lututnya. Aku heran melihat dia. Aku melangkah mendekatinya.


"Sya," lirihku pelan sambil mengelus kepalanya.


"Jangan sentuh aku!" Tiba-tiba dia berteriak padaku.


Dia mengangkat bahunya wajahnya yang telah basah dengan air mata.


"Hei, kamu kenapa?" tanyaku yang bingung dengan sikapnya.


"Cukup, Mas! Cukup selama ini aku bersabar menghadapi sikap dingin darimu!"


"Seharusnya, aku yang bersikap dingin padamu setelah apa yang kau lakukan di belakangku!"


"Apa salahku? Kau buat aku menderita dengan penderitaan ini."


Alisya berdiri, dia melangkah menuju meja rias. Dia membanting semua barang-barang yang ada di sana.

__ADS_1


Dia juga memecahkan cermin meja rias, tiba-tiba dia mengamuk yang aku sendiri tak tahu alasannya apa.


__ADS_2