
Aku berusaha menenangkan dia.
"Jangan sentuh aku, jika kamu memang tidak mencintaiku lagi. Lepaskan aku!"
"Biarkan aku pergi!"
"Huhuhu," Alisya terus menangis.
"Maafkan aku, Sya. Aku tidak bisa mengembalikan cintaku padamu. Hatiku sudah dimiliki oleh wanita lain," ujarku jujur tanpa mempedulikan hatinya.
"Selama ini aku bertahan, aku berusaha memberi cinta seperti yang dulu tapi semua usahaku sia-sia."
"Aku tahu kamu terluka, mungkin itu lebih baik daripada aku berpura-pura mencintaimu!" ujarku tanpa memikirkan sakit hatinya.
Semua kamar sudah berantakan, Alisya terduduk di kursi meja rias.
Setelah meluapkan emosinya, dia terdiam. Namun, air mata terus mengalir di pipinya.
Tak berapa lama Ibu dan Ayahku datang, mereka mengetuk pintu kamar kami.
Ibu membuka pintu kamar yang tadi tidak aku kunci karena aku tak kunjung membuka pintu kamar.
"Alisya!" pekik Ibu melihat kamar yang sudah berantakan.
Ibu mendekati Alisya, lalu memeluknya. Sedangkan Ayah, menatap tajam ke arahku.
"Apa yang kamu lakukan, Yoga!" bentak Ayah penuh emosi.
Aku masih bergeming. Suasana tegang kini menyelimuti seisi kamar.
"Hem." Kakek Herlambang juga datang ke kamar kami.
Entah drama apa lagi yang akan terjadi di kamar ini.
Kakek menghampiriku, dia menampar wajahku dengan penuh amarah.
Aku menahan rasa panas di pipiku,. aku menoleh pada pria tua yang sangat aku hormati.
"Mulai hari ini, tinggalkan rumah ini. Dan jangan pernah kamu kembali!" bentak Kakek
Tak ada anggun tak ada hujan dia sudah mengusirku.
Ibu dan Ayahku kaget dengan keputusan Kakek, mereka saling berpandangan meminta penjelasan atas alasan apa Kakek mengusirku dari rumah.
"Dia sudah membeli sebuah apartemen untuk wanita ****** itu, biarkan dia memilih wanita itu."
"Mulai kau angkat kaki dari rumah ini, anggaplah kami semua sudah tiada dalam kehidupanmu!"
Aku kaget mendengar ucapan sang Kakek. Apa mungkin selama ini Kakek memata-mataiku? Ya, pasti kaget memata-mataiku sehingga dia tahu apa yang sudah aku lakukan.
__ADS_1
Ayah dan Ibu murka padaku.
"Yoga! Kamu mengingkari janjimu pada Ayah dan Ibu. Itu artinya kamu lebih memilih dia daripada istri dan anakmu," bentak Ayah.
"Pergi!" teriak Kakek.
Akhirnya aku mulai melangkahkan kakiku keluar dari kamar dan rumah yang menyimpan semua kenangan. Aku sadari ini semua salahku, tapi aku tak ingin kehilangan putri rumah untuk yang kedua kalinya.
Aku akan menikahi putri rubahku, dan hidup bersamanya. Susah senang akan kami jalani bersama.
****
Alisya POV.
Aku sudah tak sanggup menahan sakit di hatiku. Sikap dan tindakan suamiku semakin hari membuatku semakin yakin bahwa dia tak lagi mencintaiku.
Pagi ini dengan terpaksa dia menerima perintah dari kedua orang tuanya untuk menemaniku pergi ke rumah sakit.
Dengan wajahnya yang terpaksa membuat aku semakin terluka, rasa sakit ku semakin memuncak saat dia terlambat menjemputku.
Dia datang setelah satu jam aku menunggu, karena bosan menunggu aku mendapat email untuk mempersiapkan presentasi webinar yang akan diselenggarakan satu minggu lagi.
Aku terpaksa meminjam laptop Mas Yoga yang tertinggal di atas meja, karena laptopku tiba-tiba hang. Di sana aku menemukan beberapa pesan WhatsApp web yang masih aktif.
Aku melihat kemesraannya dengan wanita yang sudah aku anggap sebagai sahabat dan kakak.
Wajar saja dia semakin hari semakin dingin terhadapku.
"Bu, lebih baik aku kembali ke rumah Ibuku." Aku memohon pada Ibu mertuaku setelah Mas Yoga meninggalkan kediaman keluarga Herlambang.
"Tidak Alisya, kamu akan membantu Kakek mengurus perusahaan. Setelah Yoga pergi semua urusan perusahaan akan diambil alih oleh kamu. Sampai, Rafa menyelesaikan kuliahnya di luar negeri," ujar Kakek tegas.
Rafa merupakan cucu laki-laki kedua di keluarga Herlambang. Dia putra dari adik Ayah Rudi, Paman Rendy.
"Tapi, Kek." Aku mencoba menolak.
"Tidak ada tapi-tapian jika kamu melahirkan seorang putra maka dia adalah penerus perusahaan keluarga Herlambang." Kakek tak menerima penolakan dariku.
Setelah itu Kakek keluar dari kamar, tinggallah aku dan Ibu mertuaku.
"Kamu harus kuat!" Nasehat Ibu mertuaku berusaha menguatkan diriku.
"Bu, bolehkah aku. pulang ke Bandung untuk beberapa hari?" pintaku setelah kami hening sekian lama.
"Baiklah, Ibu akan berbicara dengan Kakek." Ibu Rahma beranjak keluar dari kamarku.
Sore ini aku pun berangkat ke Bandung dengan diantarkan oleh Pak Ray, asisten pribadi Kakek.
"Kakek, aku pamit!" ucapku pada Kakek sebelum masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Iya, Sayang! Ingatlah masalah datang hanya untuk orang-orang yang kuat. Kakek yakin kamu adalah wanita yang kuat. Kakek tunggu kamu di sini," ujar Kakek menasehati sebelum berangkat.
"Iya, Kek." Aku pun berpindah pamit pada Ayah dan Ibu mertuaku.
"Ayah, Ibu, aku pamit," lirihku sambil meraih tangan mereka.
Aku menciumi punggung tangan mereka.
"Alisya, tenangkanlah hatimu. Ibu harap kamu kembali ke sini dengan melupakan semua yang telah terjadi." Pesan Ibu mertuaku, aku tahu mereka sangat kasihan padaku.
Namun, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak bisa memaksa putra mereka untuk meninggalkan wanita itu.
Aku pun masuk ke dalam mobil, Pak Ray pun melajukan mobil meninggalkan kediaman keluarga Herlambang.
"Assalamu'alaikum," ucapku saat aku telah berada di teras rumah Ibuku.
"Wa'alaikummussalam," jawab Ibu Fatimah yang datang membukakan pintu untukku.
"Alisya," lirih Ibu Fatimah kaget dan heran.
"Ibu," lirihku dan langsung memeluk tubuh renta wanita yang telah membesarkanku.
"Ada apa?" tanya Ibu Fatimah khawatir.
Aku tak menghiraukan pertanyaannya, kini aku menangis di pundaknya.
Ibu Fatimah mengelus punggungku sambil memapah tubuhku menuju sofa ruang tamu.
Saat ini hanya pada ibu Fatimah aku dapat menumpahkan semua gundah yang kupendam selama ini. Meskipun beliau bukanlah ibu kandungku.
Ibu Fatimah bukanlah ibu kandungku, dia adalah wanita yang telah membesarkanku setelah paman dan bibiku meninggal dunia saat umurku masih 8 tahun.
Ibu Fatimah menghampiriku saat aku diam mematung melihat jasad paman dan bibiku yang dipenuhi darah akibat kecelakaan yang menimpa kami.
"Kamu sendirian?" tanya Ibu Fatimah saat aku meneteskan air mataku mengingat kejadian yang sama satu tahun lalu.
Pundak Ibu Fatimah lah yang kujadikan tumpuan dalam menumpahkan semua rasa luka yang ku derita.
"Paman dan Bibi pergi meninggalkan aku seperti Ayah dan Ibu pergi," isakku tak tertahankan.
"Apa dosaku? Mereka meninggalkanku," Aku terus menangis dan memaki nasib yang menimpaku.
Ibu Fatimah berusaha menenangkan diriku, dia membawaku ke rumahnya. Dia membesarkan ku seperti anak kandungnya sendiri.
"Mengapa orang-orang yang Alisya sayangi selalu meninggalkan Alisya, Bu?" lirihku setelah aku puas meluapkan kesedihanku.
"Apa yang terjadi, Sya?" tanya Ibu Fatimah padaku.
"Mas Yoga, Bu. Dia pergi meninggalkan aku. Dia lebih memilih wanita lain dari pada aku istrinya." Aku pun menceritakan semua kegundahanku pada Ibu Fatimah.
__ADS_1