Pelakor Itu Sahabatku

Pelakor Itu Sahabatku
Bab 6


__ADS_3

"Kakek!" gumamku kaget saat menoleh ke arah suara bersahaja itu.


Kulihat Kakek datang menghampiriku bersama asisten pribadinya.


"Kamu tak perlu mencari Alisya," ujar Kakek tegas.


"Ta-tapi, Kek," bantahku.


Kakek hanya diam, dia menatap tajam ke arah Rania yang kini tertunduk takut.


"Ma-maafkan Rania, Kek!" lirih adikku dengan suara bergetar.


Kakek melangkah mendekati Rania, bergegas aku menghalangi langkah Kakek.


"Ini bukan salah Rania, Kek!" ujarku membela adikku.


"Rania, kamu tahu konsekuensi melanggar apa yang sudah Kakek bilang?" tanya Kakek pada adikku dengan nada tegas.


"I-iya, Kek. Aku akan menerima hukuman dari Kakek, tapi aku mohon maafkan Mas Yoga," lirih Rania memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


Aku terharu dengan sikap adikku, dia adalah saudara yang sangat menyayangi ku.


"Aku mohon, Kek!" pintanya memohon.


"Kakek akan memaafkan dia, jika dia benar-benar memperbaiki kesalahannya," ujar Kakek.


"Ray, tutup semua fasilitas Rania! Dia harus menggunakan angkutan umum ke kampus!" perintah Kakek pada Ray sang asisten pribadinya.


Dia melangkah masuk ke ruang rawat Ayahku, dan meninggalkan aku dan Rania yang masih mematung dengan pikiran masing-masing.


"Dek, maafkan Mas Yoga," lirihku memegangi kedua lengannya.


"Nggak apa-apa, Mas! Aku nggak tahan melihat pertengkaran Ibu, Ayah dan Mas Yoga. Dan aku akan melakukan apapun demi keharmonisan keluarga kita," ujar Rania.


Perkataan adikku bagaikan cambuk bagiku, dia yang masih belia ikut tersakiti oleh egoku yang memilih berselingkuh dengan sahabat istriku.


Seketika aku mengingat pertemuan pertamaku dengan Alisya.


"Permisi," lirih seorang gadis yang belum ku kenal.


Aku menautkan kedua alisku padanya.


Sang gadis menunjukkan tiket pesawat miliknya, di sana tertulis 169 lalu dia menunjuk ke nomor bangku yang tertera.


Aku masih bingung dengan maksudnya. Aku mengambil tiketku lalu menyodorkan tiket tersebut. Aku memperhatikan nomor tiket milikku 196.


Ku coba melihat nomor bangku penumpang yang telah kutempati. Ternyata aku salah menduduki bangku penumpang.


"Maaf," lirihku saat menyadari kesalahanku.


Aku berdiri, dan berpindah pada bangku yang sesuai dengan tiket pesawatku. Dia tersenyum sebelum aku meninggalkannya. Senyumannya mengingatkanku pada seorang yang selalu ada di hatiku.


Saat aku sampai di tujuan, ternyata kami sama-sama peserta Seminar Kependidikan yang diadakan di Universitas Brawijaya Malang. Sejak itu aku mulai kenal dekat dengannya. Kepintaran dan kecerdasannya membuat aku mulai melupakan cinta pertamaku.

__ADS_1


"Mas," lirih Rania.


Panggilan Rania membuat lamunanku buyar seketika.


"Yuk masuk," ajak Rania.


Dia menarik tanganku untuk masuk ke dalam ruang rawat ayah, dengan berat ku melangkah masuk. Rasa takut masih menghantuiku. Aku menundukkan kepalaku.


"Yoga," panggil kakek dengan wibawanya.


"I-iya, Kek," lirihku pelan.


Aku melangkah mendekati pria yang paling kuhormati.


"Jika kamu benar-benar menyesali perbuatanmu, Kakek akan mempertemukanmu dengan Alisya," ujar Kakek tegas.


"Baik, Kek!" jawabku menanggapi.


Maafkan aku Tania, mulai hari ini aku akan meninggalkanmu dan melupakanmu. Aku harus mulai bersikap demi kebahagiaan keluarga besar Herlambang.


****


Alisya POV.


Seperti biasa setiap pagi aku harus merasakan morning sickness yang sangat menyiksaku, semenjak selesai shalat ssubuh aku harus beralri ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutku.


Kini ku menyadari betapa sulitnya seorang ibu dalam mengandung buah hatinya. Penderitaan yang berat harus dilalui setiap wanita mengandung semenjak hadirnya benih cinta di dalam rahim mereka.


"Alisya," panggil Nenek yang tiba-tiba datang masuk ke dalam kamarku.


'Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Nenek penuh perhatian.


"Iya, Nek. Aku baik-baik saja." Aku menghapus keringat dingin yang mulai membasahi pelipisku.


"Kamu yakin?" tanya Nenek tak percaya.


"Iya, Nek." Aku meyakinkan Nenek.


"Ada apa, Nek?" tanyaku heran melihat nene yang pagi-pagi sekal sudah datang menemuiku.


"Mhm, besok kita kembali." Nenek memberi kabar.


"Kembali ke mana, Nek?" aku tak percaya.


Akankah Kakek dan Nenek membawa aku kembali ke kediaman keluarga Herlambang, apakah Mas Yoga sudah kembali? Apakah dia sudah menyesali semua perbuatannya? Berbagai pertanyaan hadir begitu saja dalam benakku.


"Ke Jakarta," jawab Nenek.


"Tapi,"


"Sudahlah, Kakek nyuruh kita balik sekarang juga!" Nenek memotong pembicaraanku.


"Baiklah, Nek,"ucapku pasrah. "Aku siap-siap dulu."

__ADS_1


"Ya udah, Nenek tunggu di ruang makan. Kita sarapan dulu lalu berangkat," ujar Nenek sambil mengelus pundakku.


Setelah nenek keluar dari kamarku, aku pun bersiap-siap untuk melangkah menuju ruang makan. Sekadar mengisi perutku yang sudah kosong, agar kembali memiliki tenaga.


Pada puku 09.00. Pak Ray sudah menunggu kami di depan Villa, dia sengaja datang hanya untuk menjemput kami.


"Pagi, Nyonya, Nona!" sapa Pak Ray pada kami saat kamu hendak masuk ke dalam mobil.


Kami menjawab sapaannya dengan senyuman. Setelah memastikan kami duduk dengan nyaman. Pak Ray melajukan mobil meninggalkan villa.


Sepanjang perjalanan, aku hanya diam memikirkan entah apa yang terjadi di Jakarta. Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada salah satu anggota keluarga besar Herlambang karena mereka semua sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri.


Aku teringat pada Mas Yoga, aku megelus perutku yang masih rata sambil mengenang perjalan pernikahan kami.


"Sayang, lihat!" ujar Mas Yoga padaku saat dia melihat seorang wanita hamil melintasi kami yang sedang duduk di taman.


"Apa?" tanyaku heran.


"Lihatlah wanita itu!" pintanya sambil memonyongkan bibirnya pada wanita tersebut.


Aku menoleh memperhatikan wanita hamil itu. "Ada apa?" tanyaku heran melihatMas Yoga yang senyum-senyum aneh.


"Aku ngebayangin kamu seperti dia,pasti makin cantik dan lucu," ujar Mas Yoga.


"Makin cantik atau makn gendut?" gerutuku kesal melihat Mas Yoga tersenyum aneh.


"Cantik, Sayang. Nanti kalau kamu hamil. Aku bakal jagain kamu ke mana-mana. Aku nggak akan membiarkan kamu pergi sendirian." Mas Yoga berjanji.


"Sya," lirih Nenek menyadarkanku dari lamunan masa laluku.


"I-iya, Nek!" lirihku sambil mengusap air mata yang sempat membasahi pipiku.


"Kamu menangis?" tanya nenek padaku.


"Tidak, Nek!" Aku menggeleng cepat.


"Kita sudah sampai," ujar Nenek membuatku kaget lalu memperhatikan sekeliling dari jendela mobil.


Entah apa saja yang sedari tadi aku pikirkan sehingga perjalanan yang panjang terasa begitu singkat.


"Ayo, turun!" ajak Nenek.


"Baik, Nek." Aku pun turun dari mobil mengikuti langkah nenek.


Akhirnya aku kembali ke rumah megah yang di dalamnya terdapat keluarga yang sangat menyayangiku. Meskipun aku hanyalah seorang menantu di rumah ini. Aku sangat merindukan mereka, tapi mengingat perbuatan suamiku membuatku kembali bersedih.


"Assalamu'alaikum,"ucapku dan Nenek bersamaan saat memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam," ucap Ibu mertuaku menyambut kedatangan kami.


Aku meraih tangan ibu mertuaku, lalu mencium punggung tangannya. Dia langsung memeluk tubuhku.


"Ibu kangen kamu, Sayang," ujarnya lembut penuh kasih sayang padaku.

__ADS_1


"Aku juga merindukanmu, Bu." Aku membalas pelukannya.


Bersambung...


__ADS_2