Pelakor Itu Sahabatku

Pelakor Itu Sahabatku
Bab 19


__ADS_3

Kakek Herlambang dan nenek saling berpandangan, begitu juga dengan Bu Rahma.


Mereka saling menggelengkan kepalanya.


Awalnya mereka berharap, Firman bisa menjadi calon suami untuk Alisya.


Mereka tidak ingin, Alisya kembali pada Yoga, karena mereka ingin memberi pelajaran pada Yoga yang sudah memilih wanita ****** itu dari pada anak dan istrinya.


Mereka marah pada Yoga yang meninggalkan Alisya begitu saja, apalagi hingga saat ini mereka tidak pernah mendengar kabar akan keberadaan Yoga dan Tania.


Mereka pun sudah menganggap Yoga dan Tania sudah tiada karena sikap Yoga membuat mereka yakin Yoga tidak membutuhkan mereka lagi.


"Kek, Nek, Bu, aku izin ke kamar duluan, ya. Aku merasa sangat lelah," ujar Alisya pada semua orang tua yang ada di ruang keluarga.


"Iya, Sayang. Kamu harus banyak-banyak istirahat," ujar Bu Rahma menanggapi Alisya.


Setelah itu Alisya pun berdiri lalu dia melangkah menuju kamarnya, sesampai di kamar Alisya langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


Seharian bercengkrama dengan semua keluarga besar membuat dia juga merasa lelah.


Keadaan tubuh Alisya yang kini perutnya semakin membesar membuat dia sudah bergerak, dia juga merasakan pegal-pegal di seluruh tubuhnya.


Saat Alisya baru saja membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Alisya menoleh ke bagian sisi tempat tidur yang kosong, seketika kenangannya bersama Yoga terlintas di benaknya, Rasa sakit dan luka yang ditorehkan Yoga kembali terlintas dalam ingatan Alisya.


Alisya meraba perutnya yang kini semakin besar.


"Nak, setelah ini kita akan terus menjalani kehidupan kita berdua, mama akan kuat dan mendidik kamu menjadi seorang anak yang tangguh," lirih Ayunda.


Sekian menit berlalu, sebuah senyuman terulas di wajah cantiknya, dia mengingat berbagai kenangan yang indah bersama pria yang jelas-jelas bukan muhrimnya.


"Astaghfirullah, apa yang telah aku lakukan? Kenapa otakku tiba-tiba teringat akan sosok pria yang beberapa hari ini menolong diriku. Aku benar-benar tak menyangka, kenapa tiba-tiba aku mengingatnya," gumam Alisya merutuki kebodohannya yang mengingat sosok pria yang bukanlah muhrimnya.


Setelah itu Alisya pun mulai memejamkan matanya, menggapai mimpi yang dia sendiri tak tahu kapan mimpi itu akan terwujud.


Saat malam semakin larut, Alisya terbangun dari tidurnya, dia pun mengambil ponsel yang diletakkannya di atas nakas, dia melirik ponselnya untuk melihat jam yang tertera di ponselnya.

__ADS_1


Dia dapat melihat dengan jelas jam menunjukkan pukul 02.00. Alisya pun bangkit dari tidurnya, perlahan dia melangkah menuju ke kamar mandi.


Meskipun melangkah dengan berat tapi Alisya tetap sampai di kamar mandi untuk berwudhu, dia pun bersiap untuk melaksanakan shalat tahajud.


Saat ini hanya Allah yang menjadi tempat Alisya mengadukan berbagai permasalahan dalam hidupnya, dengan keyakinannya bahwa Allah selalu ada bersamanya membuat Alisya tetap hidup dengan semangat dan ceria melupakan luka di dalam hidupnya.


Di usia kandungannya yang sudah masuk bulan ketujuh, Alisya tak menjadikan hal itu alasan untuk tidak melaksanakan shalat tahajud yang biasa dilakukannya.


Saat pagi datang Alisya pun kembali beraktifitas seperti biasanya, dia sudah menghubungi Angel dan Rima, untuk memberitahukan kedua orang penting baginya bahwa dia akan masuk kerja hari.


"Sayang, kamu yakin akan berangkat ke kantor sekarang?" tanya Bu Rahma yang masih mengkhawatirkan keadaan Alisya, apalagi saat ini kandungan Alisya sudah melewatinya 7 bulan.


Menurut mereka Alisya sudah bisa beristirahat dan membiarkan pekerjaan ditangani oleh Angel dan Rima.


"Iya, Bu." Alisya menganggukkan kepalanya.


Bersama...

__ADS_1


__ADS_2