
Setelah makan malam, aku duduk menyendiri di taman belakang rumah. Di temani riak air yang mengalir di kolam ikan hias.
Awalnya aku ditemani ibu mertuaku, kami tak banyak bercerita, dia hanya membahas kerinduannya padaku. Dia merasa kesepian dengan ketiadaanku di rumah megah ini.
Semenjak aku masuk ke dalam rumah ini, ibu mertuaku adalah teman terbaik bagiku dalam berbagai hal. Sehingga dia benar-benar merasa kehilangan di saat kakek membawa aku pergi.
Aku mengambil kesimpulan, Kakek menyuruhku kembali atas permintaan ibu mertuaku yang merasa kesepian.
Ada rasa kecewa yang terselip di hatiku. Harapanku untuk dapat menyelesaikan masalahku dengan Mas Yoga sirna begitu saja.
Walaupun dia telah mengkhianati cintaku, aku akan memaafkannya demi buah hati kami yang kini ada di dalam rahimku.
"Sya." Samar terdengar seseorang memanggil namaku.
Aku bergeming, aku takut. hanya halusinasiku yang mengharapkan dia kembali.
Terdengar. suara langkah kaki seseorang mendekatiku, aku masih menatap pada kolam ikan hias di hadapanku.
"Sya, maafkan aku!" lirih seseorang yang sangat ku rindukan suaranya.
Aku mengangkat wajahku, aku menatap tak percaya saat melihat pria yang saat ini ada dalam pikiranku.
Dia bersimpuh di hadapanku.
"Aku tahu, aku salah. Aku harap kamu bisa memaafkan semua kesalahanku." Mas Yoga memohon di kakiku.
"Mas, jangan lakukan ini!" Aku menarik lengannya.
Aku memintanya untuk duduk di sampingku.
Dia pun duduk di sampingku. Aku masih saja diam, aku bingung harus memulai dari mana.
Keheningan menyelimuti kami, dia juga diam canggung untuk memulai pembicaraan.
"Sya!" Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya.
"Sudahlah, aku memaafkan dirimu," lirihku.
Dengan besar hati aku memaafkan kesalahannya. Aku berharap cukup sekali ini dia menyakitiku.
Dia memelukku, tapi aku belum merasakan cinta dan kasih yang biasa kurasakan dari suamiku.
Mungkin karena masih ada luka di hatiku.
****
Pukul 03.30
Aku terbangun dari tidurku, ku tatap wajah pria yang sangat kucintai yang kini masih tertidur lelap di sampingku.
Aku beranjak bangun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap melaksanakan shalat malam.
Hanya pada sang yang Maha Kuasa, aku dapat mengadukan apa yang aku rasakan. Aku yakin saat ini aku bisa tenang menghadapi semua masalah ini karena Allah memberikan kekuatan padaku.
Setelah shalat malam aku melanjutkan membaca Al-Qur'an lalu shalat subuh.
Usai menunaikan shalat subuh, rasa mual kembali menggangguku.
Aku bergegas melangkah menuju kamar mandi.
"Oek, oek!"
__ADS_1
"Kamu kenapa, Sya?" tanya Mas Yoga yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi.
"Nggak apa-apa, Mas," jawabku masih menutupi kehamilanku.
"Lalu, kenapa kamu muntah-muntah?" tanya Mas Yoga khawatir.
"Mungkin masuk angin aja, Mas," jawabku.
"Oh, ya udah. Aku ambilkan minyak kayu putih, ya!" Mas Yoga memberiku perhatian.
Aku mengangguk pelan. Dia membantuku melangkah keluar dari kamar mandi. Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.
"Sebentar, ya!" ucap Mas Yoga lalu dia membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidur.
Dia mengeluarkan kotak P3K dari laci.
"Sini!" pintanya.
Dengan telaten dia mengolesi minyak kayu putih di perutku serta di leherku.
"Ya udah, kamu istirahat aja dulu. Nanti kalau butuh apa-apa kamu bilang aku, ya!" ujarnya penuh perhatian.
Hubunganku dan Mas Yoga mulai membaik, tapi masih ada sedikit rasa canggung di antara kami. Aku berharap rasa canggung itu akan hilang begitu saja seiring berjalannya waktu.
"Sya, kamu mau sarapan di sini atau di ruang makan?" tanya Mas Yoga saat jam sudah menunjukkan pukul 07.00.
"Aku sarapan di ruang makan aja, Mas!" jawabku berusaha bangkit dari posisiku.
"Hati-hati, Sya!" ucap Mas Yoga membantuku.
"Iya, Mas," lirihku.
Kami pun melangkah menuju ruang makan untu sarapan bersama seluruh anggota keluarga.
Semua anggota keluarga besar Herlambang sudah berkumpul di ruang makan untuk menikmati sarapan pagi bersama.
"Selamat pagi, Sayang!" sapa Ibu mertuaku menyambut kedatangan kami yang baru mulai bergabung.
"Pagi, Bu!" balasku.
"Gimana pagi ini?" tanya Nenek penuh perhatian.
"Baik, Nek!" jawabku.
"Setiap wanita hamil trisemester pertama selalu mengalami morning sicknes. Jadi kamu harus sabar," nasehat Nenek panjang lebar.
Mas Yoga melirikku bingung, dia mengernyitkan dahinya berusaha mencerna ucapan Nenek.
"Sya, apa maksud perkataan Nenek?" tanya Mas Yoga padaku.
"Mhm," Aku hanya bergumam.
Aku merasa belum siap memberitahukan kehamilanku pada Mas Yoga.
"Sya, kamu belum memberitahukan Yoga?" tanya Nenek padaku.
Aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Oh, Yuk kita sarapan," ujar Nenek mengalihkan pembicaraan.
Mas Yoga masih bingung, tapi tampaknya dia lebih memilih untuk diam.
__ADS_1
Kami pun menikmati sarapan pagi bersama sebelum memulai aktivitas kami.
Setelah sarapan, Mas Yoga pergi ke kampus seperti biasa. Mas Yoga kembali memulai aktivitasnya sebagai dosen.
Selain mengajar di Universitas Negeri Jakarta, Mas Yoga juga diberi kepercayaan oleh kakek untuk memimpin perusahaan keluarga Herlambang.
Dengan kecerdasan yang dimilikinya, dia dapat menjalani tugasnya dengan baik.
Sementara aku, memilih berhenti mengajar di Universitas dan menyalurkan ilmu yang kumiliki melalui webinar yang diselenggarakan oleh beberapa Universitas.
"Aku pamit," ucap Mas Yoga sebelum memasuki mobil.
"Iya, Mas! Kamu hati-hati," ucapku sambil meraih tangannya kusalami dan kucium punggung tangannya sambil kubacakan do'a terbaik untuknya.
Dia mencium puncak kepalaku, lalu berlalu sambil melambaikan tangannya.
"Bismillah, semoga ini kembali menjadi awal yang baik untuk rumah tanggaku," gumamku.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah, aku pun bergabung bercengkrama dengan Ibu mertuaku serta Nenek di ruang keluarga.
****
Author POV.
"Mas, lepaskan aku," Tania memohon pada suaminya.
"Sampai kapanpun aku takkan melepaskanmu!" bentak suami Tania.
"Kamu harus ikut aku sekarang juga!" teriak suami Tania sambil menarik lengan Tania.
Dengan susah payah Tania melawan cengkraman tangan sang suami, tapi apalah dayanya seorang wanita yang lemah.
Kini sang suami menyeretnya keluar dari rumah, sang suami akan membawanya ke suatu tempat.
"Masuk!" teriak suami Tania sambil mendorong Tania masuk ke dalam mobil.
Tania berusaha mengambil ponselnya, dan menekan tombol darurat yang tertuju pada Yoga.
Tania tak putus asa, meskipun Yoga masih mengabaikan panggilan darinya.
Hal itu terus dilakukannya setiap ada kesempatan.
Suami Tania masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobil kecepatan sedang. Dia ingin membawa Tania ke sebuah hotel yang mana seorang langganannya tengah menunggu kehadiran Tania untuk memuaskan hasratnya.
Sebelum mereka menuju hotel, suami Tania sengaja membawa Tania ke salon untuk memoles wajah Tania, agar pelanggannya merasa puas.
"Jangan macam-macam, kalau kamu masih menentangku, aku pastikan kamu takkan pernah hidup dengan tenang!" ancam suaminya sebelum turun dari mobil.
Suami Tania mengiringi langkah Tania, dia berhati-hati agar Tania tak lagi melarikan. diri.
"Boleh aku ke toilet sebentar?" Tania meminta izin pada sang suami sebelum perawatannya dimulai.
"Baiklah, aku antar," lirih suami Tania dengan tegas.
Tania masuk ke dalam toilet, sedangkan suaminya menunggu di luar toilet.
"Kamu?" ujar Alisya kaget saat melihat Alisya juga berada di salon yang sama dengannya.
"Alisya," ujar Tania.
Bersambung...
__ADS_1