
Firman menekan tombol panggil di layar ponsel Alisya.
"Halo," lirih Firman setelah panggilan tersambung.
"Ya, Halo," balas Bu Rahma sambil menautkan kedua alisnya.
Dia heran saat mendengar suara pria dari ponsel menantunya.
"Maaf, Bu. Ini Firman, aku sekarang sedang bersama Alisya. Alisya baru saja melahirkan di rumah sakit," ujar Firman langsung.
"Apa? Benarkah?" Bu Rahma kaget.
"Iya, Bu. Alisya sudah melahirkan seorang bayi yang sangat tampan," ujar Firman lagi.
Hal ini membuat Bu Rahma yakin dengan apa yang dikatakan oleh Firman.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya." Bu Rahma pun memutus panggilan itu.
Firman kembali memberikan ponsel itu pada Alisya.
"Aku sudah mengirimkan alamat Rumah sakit kepada ibu mertuamu," ujar Firman.
"Terima kasih, Fir. Kamu sudah banyak membantuku," ujar Alisya merasa bersalah pada sahabatnya itu.
"Sudahlah, jangan dibahas," ujar Firman.
__ADS_1
Firman pun kembali duduk di kursi yang ditempatinya tadi, mereka pun hening, tak ada yang mengeluarkan kata-kata lagi hingga keluarga Alisya pun datang.
"Alisya," panggil Bu Rahma sembari melangkah masuk ke dalam ruang rawat Alisya.
"Ya ampun, Nak. Nenek dan Kakek sangat mengkhawatirkanmu," ujar nenek yang kini telah berada di samping Alisya.
Sementara itu, Kakek dan Ayah Rudi telah berdiri di samping tempat tidur khusus untuk bayi yang juga ada di ruangan itu.
Mereka memandangi wajah tampan penerus keluarga Herlambang.
Seketika kakek mengingat cucu kesayangannya yang hingga saat ini tidak tahu di mana keberadaannya.
Kakek Herlambang sudah pernah berusaha mencari Yoga, tapi dia sama sekali tidak mendapatkan informasi sedikitpun tentang keberadaan cucunya itu.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata pria tua itu, dia merasa sedih akan nasib cucunya yang baru lahir ini.
"Ayah," lirih Rudi mendekati pria bijaksana dan sangat berkharisma di matanya.
Semua mata pun mulai menoleh ke arah Kakek Herlambang yang terlihat sedih.
"Kakek, apa yang terjadi?" tanya nenek penasaran.
Kakek pun mengusap buliran bening yang akhirnya jatuh juga membasahi pipinya.
"Aku hanya terharu melihat cucu kecilku ini," lirih kakek Herlambang.
__ADS_1
Nenek pun mendekati kakek.
"Saat ini kita hanya perlu menyayangi bayi tampan ini, tanpa mengingat masalah yang telah terjadi," lirih nenek menasehati pria yang telah bertahun-tahun bersamanya itu.
Firman dapat melihat perhatian keluarga suami Alisya pada dirinya. Alisya dianggap sebagai seorang putri di dalam kehidupan mereka.
Sedikitpun mereka tidak memandang Alisya di sini sebagai menantu tapi sebagai putri.
"Alisya, apakah kamu sudah menyiapkan sebuah nama untuk putramu ini?" tanya Rudi berusaha mencairkan suasana yang sempat sendu.
"Mhm, belum, Yah. Aku menunggu nama terbaik dari kakek," ujar Alisya.
Kakek Herlambang menatap dalam pada cucu menantunya itu, dia terharu mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya.
Seolah-olah, Alisya menganggap dirinya sangat berarti akan hidupnya dan bayinya.
"Baiklah, kakek punya nama yang bagus untuk baby boy yang tampan ini," ujar Kakek Herlambang sembari berpikir.
"Mhm, bagaimana kalau bayi kecil dan mungil ini kita beri nama dengan Ar-rayhan Ar-Rasyid," ujar Kakek lagi.
Semua orang saling berpandangan lalu mengangguk.
"Aku suka dengan nama yang kakek berikan pada putraku," ujar Alisya menanggapi usulan kakek.
"Iya, Kek. Nama itu, nama yang bagus," seru Firman ikut menyetujui usulan kakek.
__ADS_1
Seketika semua mata tertuju pada Firman, sehingga pria itu merasa ada yang salah pada dirinya.
Bersambung...