Pelakor Itu Sahabatku

Pelakor Itu Sahabatku
Bab 8


__ADS_3

"Sya, tolong aku!" Tania memohon pada Alisya.


Seakan dia lupa dengan perbuatan hina yang telah dilakukannya terhadap sahabatnya.


"Aku tahu aku salah, aku mohon maafkan aku!"


"Suamiku ada di luar, dia akan membawaku pada pria hidung belang!"


"Selamatkan aku, Sya!" Tania memohon dengan wajah cemasnya.


Tania masih diam, dia mencoba berpikir apa yang harus dilakukannya saat ini. Antara marah dan kasihan pada sahabatnya.


"Tania!" bentak seorang pria dari luar toilet.


"Cepat keluar!" bentaknya lagi membuat Alisya yakin bahwa Tania tengah dalam bahaya.


"Kamu tenang dulu, Ya!" Alisya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Suami Tania mulai tak sabar, dia terus menggedor-gedor pintu toilet.


"Permisi, Tuan," ujar seorang wanita yang hendak masuk ke dalam toilet.


"Eh, iya," lirihnya malu.


Suami Tania mundur dari tempatnya, dia berhati-hati takut ada yang mencurigainya.


Wanita itu masuk ke dalam toilet.


"Kamu pakai ini!" perintah Alisya pada Tania sambil menyodorkan sebuah gamis dan hijab syar'i tak lupa dengan cadarnya.


Tania langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru saja dibawakan oleh wanita yang baru saja masuk ke dalam toilet tadi.


"Makasih, Siska!" ujar Alisya pada wanita yang membawakan pakaian yang dibutuhkan Alisya.


"Sama-sama, Mbak," ujarnya.


Setelah Tania mengganti kostumnya, Alisya menggenggam tangan Tania untuk keluar dari toilet.


Setiap langkah mata Tania hanya tertuju pada tangan sahabatnya yang menggenggam erat tangannya.


"Alisya, dari dulu kamu tak pernah berubah. Kamu selalu baik pada siapapun, walau mereka menyakitimu." Tania bermonolog di dalam hati tanpa disadarinya, buliran bening jatuh membasahi pipinya.


"Bu, kita pulang!" ajak Alisya pada ibu mertuanya yang sedari tadi menunggunya.


"Ini siapa?" tanya Ibu Rahma menunjuk ke arah wanita bercadar di samping menantunya.


"Nanti aku beritahu, kita harus pergi sekarang juga." Alisya memohon pada ibu mertuanya.


Ibu Rahma hanya mengangguk lalu melangkah menuju parkiran mobil.


"Jalan, Pak!" ujar Alisya pada Pak Ujang.


Pak Ujang pun langsung melajukan mobilnya keluar dari area parkir salon.


"Sekarang sudah aman," ujar Alisya lega.

__ADS_1


"Ada apa, Sya?" tanya Ibu Rahma pada Alisya penasaran.


"Maafkan Alisya, Bu." Alisya membuka cadar Tania.


Ibu Rahma memutar bola matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia menatap tajam ke arah Alisya.


"Tania butuh bantuan, Bu. Suaminya hendak menjualnya pada pria hidung belang," ujar Alisya memberi penjelasan.


Ibu Rahma hanya menghela napas. Dia tak mengerti jalan pikiran menantunya itu.


Walaupun Alisya tahu ibu mertuanya tidak suka dengan tindakan yang dilakukannya. Untuk saat ini dia hanya bisa diam.


"Bu, bisakah kita ke Bandung? Alisya kangen sama Ibu Fatimah," pinta Alisya pada ibu mertuanya.


"Baiklah, tapi sebelumnya ibu harus minta izin pada kakek," ujar Ibu Rahma.


"Pak Ujang, tolong berhenti sebentar!" perintah Ibu Rahma pada sopirnya.


Ibu Rahma hendak keluar dari mobil, Alisya menahannya.


"Bu, Alisya mohon jangan beritahu Kakek tentang Tania," pinta Alisya memohon.


Ibu Rahma tak menjawab, dia keluar dari mobil. Lalu dia menghubungi Ayah mertuanya.


"Pak Ujang, kita terus ke Bandung, ya!" perintah Ibu Rahma saat dia telah kembali masuk mobil.


Dia terpaksa menuruti keinginan menantunya.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Pak Dudung langsung membuka pintu gerbang saat melihat mobil yang tak asing baginya.


"Non Alisya," sapa Pak Dudung mempersilakan masuk.


"Makasih, Pak Dudung," ujar Alisya ramah.


Pak Ujang menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama, mereka pun turun dari mobil.


Alisya Kembali menggenggam erat tangan sahabatnya saat memasuki rumah ibunya.


"Assalamu'alaikum," ucap Ibu Rahma dan Alisya bersamaan saat melangkah masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikummussalam wa rahmatull ahli wa barakatuh," jawab Ibu Fatimah yang baru keluar dari ruang keluar.


"Ya ampun, ada tamu istimewa yang datang," ujar Ibu Fatimah menyambut kedatangan putrinya.


Ibu Rahma dan Ibu Fatimah saling berjabat tangan lalu berpelukkan melepas rindu.


Alisya meraih tangan ibunya, menyalami dan mencium punggung tangan wanita yang sangat di sayangnya.


Ibu Fatimah memeluk Alisya.


"Ibu kangen kamu, Sayang," ujar wanita paruh baya yang kini tinggal seorang diri di rumah sederhana miliknya.


Tania menirukan apa yang dilakukan Alisya pada ibunya. Ibu Fatimah mengernyitkan dahinya penasaran dengan wanita yang berhijab di hadapannya.

__ADS_1


"Bu, ini Tania," ujar Alisya pada Ibunya.


Tania membuka cadarnya, dia tersenyum santun pada wanita yang selama ini juga sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya.


"Tania, ke mana saja kamu, Sayang?" tanya Ibu Fatimah menarik tubuh Tania dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Ibu kangen sama kamu, Nak!" bisik ibu Fatimah penuh kasih sayang.


Setelah tamat SMA, Tania pergi di bawa oleh keluarganya ke Jakarta. Semenjak itu mereka tak lagi pernah berjumpa.


"Tania juga kangen sama Ibu Fatimah," lirih Tania mulai menyesali perbuatan yang telah dilakukannya pada sang sahabat.


"Bu, kami hanya dibiarkan berdiri seperti ini?" gerutu Alisya manja.


"Eh iya. Silakan!" Ibu Fatimah membawa Alisya, Tania dan ibu mertuanya ke ruang keluarga.


"Bi Nah!" panggil Ibu Fatimah pada satu-satunya pelayan yang ada di rumah menemani kesendirian Ibu Fatimah.


"Iya, Bu!" seru Bi Nah menghampiri mereka.


"Bi, tolong bikinkan minum dan bawa cemilan, ya!" pinta Ibu Fatimah pada Bi Nah.


"Iya, Bu." Bu Nah kembali ke dapur sambil tersenyum pada Alisya dan Ibu Rahma.


"Bu, Alisya sengaja datang ke sini mau minta tolong sama ibu." Alisya memulai pembicaraan.


"Apa, Sayang?" tanya Ibu Fatimah.


"Bu, begini ...---" Alisya menceritakan masalah yang sedang dihadapi oleh Tania.


"Alisya mau minta tolong, Ibu mengizinkan Tania tinggal di sini untuk sementara. Agar Tania bisa selamat dari suaminya." Alisya memohon pada Ibu Fatimah.


"Ibu senang sekali, kalau Tania bisa tinggal di sini bersama Ibu. Lagian ibu di rumah ini hanya sendirian," ujar Ibu Fatimah menanggapi permintaan putrinya.


"Tania, kamu mau kan tinggal di sini bersama ibu, aku sengaja membawa kamu ke sin bukan ke rumah ibu mertuaku. Aku yakin kamu tahu apa alasannya," ujar Alisya tegas.


Tania mengangguk pelan mengiyakan perkataan Alisya, dia sadar diri hidupnya hanya menyusahkan orang lain.


Kali ini, wanita yang telah disakitinya dengan senang hati masih menyelamatkan dirinya dari incaran suami yang tak punya hati .


Ibu Rahma semakin kagum dengan kebesaran hati menantu kesayangannya. Dia bersyukur memiliki menanti sepintar dan sebaik Alisya.


Mereka pun berbincang-bincang sejenak hingga akhirnya Alisya dan Ibu Rahma pamit pulang.


"Bu, Alisya pamit, ya! Lain kali Alisya menginap, kali ini masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di Jakarta," ujar Alisya mengakhiri pembicaraan mereka.


"Ya udah, kalian hati-hati di jalan," ucap Ibu Fatimah.


Alisya dan Ibu Rahma melangkah keluar rumah Ibu Fatimah dan kembali ke Jakarta sore itu juga.


"Alisya, untuk apa kamu menolong wanita itu lagi?" tanya Ibu Rahma saat mereka baru saja sampai di rumah keluarga Herlambang.


"Siapa?" tanya Kakek yang baru saja melintas di depan mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2