
Kakek Herlambang menghampiri Firman, dia menepuk pundak pria yang telah setia menunggu cucu menantunya itu selama bersalin.
"Hei, anak muda," lirih Kakek Herlambang.
"I-iya, Kek," lirih Firman gugup.
"Terima kasih sudah menunggui Alisya di sini, tapi apakah kamu tidak teringat dengan tanggung jawabku sebagai seorang suami?" tanya Kakek Herlambang pada Firman.
Kakek Herlambang mengira saat ini Firman masih beristri, karena yang dia tahu Firman sudah menikah, tapi dia tidak tahu sama sekali rumah tangga Firman yang sudah kandas.
"Mhm, maksud kakek?" tanya Firman sambil mengernyitkan dahinya.
"Alisya bilang, kamu sudah menikah. Apakah kamu sama sekali tidak memikirkan perasaan istrimu di saat kamu lebih peduli dengan Alisya," ujar Kakek Herlambang terus terang.
Firman menoleh ke arah Alisya yang masih terbaring di ranjang.
"Maaf, Kek. Saya memang sudah menikah, tapi saya sudah bercerai dengan istri saya beberapa bulan setelah menikah," ujar Firman jujur.
"Benarkah?" Seru Kakek Herlambang serta kedua mertua Alisya.
Mereka seolah tak percaya, di sisi lain mereka senang mendengar status Firman saat ini.
__ADS_1
"Benar, Kek." Firman mengangguk.
"Alhamdulillah, kalau begitu maukah kamu menjadi suami Alisya?"tanya Kakek Herlambang terus terang.
Dia sama sekali tak perlu meminta pendapat Alisya karena Kakek Herlambang yakin Alisya akan setuju dengan keputusannya.
Alisya membulatkan bola matanya tak percaya mendengar ucapan kakek Herlambang.
Firman menoleh ke arah Alisya, dia menatap dalam pada wanita yang selama ini menjadi sahabatnya, dan dia pun sudah mulai mencintai sahabatnya itu.
"Jika Alisya mengizinkan saya untuk mendampingi dan membahagiakannya, Insya Allah Saya siap memberi kebahagiaan untuk Alisya dan putranya," jawab Firman dengan tegas di hadapan kedua mertua Alisya seta nenek dan kakek Alisya.
"Alisya," panggil Kakek Herlambang pada cucu menantunya itu.
Kakek menatap dalam pada Alisya, dia berharap Alisya menerima apa yang sudah diputuskannya tadi.
"Iya, Kek." Alisya menatap sayu ke arah pria yang sangat disegani dan dihormatinya itu.
"Bagaimana menurutmu dengan apa yang telah kakek putuskan?" tanya Kakek Herlambang pada Alisya.
"Mhm, Alisya ikut apa yang terbaik menurut kakek saja," lirih Alisya menerima Firman masuk ke dalam hidupnya.
__ADS_1
Dia sangat bersyukur keluarga Herlambang setuju dengan hubungannya bersama Firman, pria yang sedari dulu dicintainya.
Dia sangat bahagia, bukan dia yang ingin meninggalkan anak mereka tapi anak merekalah yang telah tega mengkhianati cintanya.
Sekarang keluarga Yoga sendiri yang mencarikan kebahagiaan untuk dirinya.
"Alhamdulillah, kakek senang. Rahma, Rudi, setelah Alisya selesai nifas, kita akan urus segala hal yang berkaitan dengan pernikahan Alisya dan Firman, agar Firman bisa menjaga Alisya dan putranya dengan baik di jalan yang sah di mata Allah," ujar Kakek Herlambang tegas.
Semua orang di ruangan itu ikut bahagia dengan keputusan kakek Herlambang.
Pria yang usianya semakin bertambah tua itu selalu membuat keputusan yang sangat bijaksana, dia tidak mau mengekang Alisya di dalam keluarganya karena dia tahu Alisya juga butuh hidup bahagia.
"Terima kasih, Kek. Aku akan menjaga dan melindungi Alisya," lirih Firman bahagia.
****
40 hari telah berlalu, masa nifas Alisya pun sudah berakhir. Semua keluarga Herlambang menyiapkan acara pernikahan Alisya dan Firman, pernikahan ini diselenggarakan secara sederhana karena Alisya sendiri yang memintanya.
Alisya tidak menginginkan pernikahan yang mewah, tapi berujung perpisahan. Dia ingin pernikahan sederhana ini bisa membuat dirinya bahagia dan pernikahannya bisa bertahan hingga maut memisahkan mereka.
Tamat
__ADS_1