
"Tolong!" Aku terus berteriak.
Namun, tak ada seorang pun yang mendengarkan teriakanku di dalam mobil.
Setelah lelahku berteriak, ku sadari bahwa suamiku juga ada di dalam mobil itu.
"Kamu?" Aku tak percaya bisa kembali berjumpa dengan suami yang kejam.
"Kenapa, Sayang?" ujarnya sinis padaku.
"Apa yang kamu lakukan, Mas?" tanyaku takut.
Bisa dipastikan kali ini aku takkan bisa lolos darinya.
"Aku hanya mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku," ujar suamiku dengan nada penuh penekanan.
Di matanya tersirat amarah yang terpendam. Rasa takutku kembali datang. Aku tak tahu harus berbuat apa kali ini.
"Kali ini aku takkan pernah membiarkan lepas dariku," ujarnya penuh ancaman.
Aku mulai pasrah, tak tahu harus bagaimana. Aku teringat sesuatu, aku masih menggenggam ponselku.
Bergegas aku menekan tombol darurat yang langsung tersambung ke nomor Mas Yoga.
Hanya berharap bantuan dari Tuhan, semoga Mas Yoga mengangkat panggilanku dan mengetahui apa yang terjadi padaku.
"Mas, tolong lepaskan aku!" lirihku memohon pada pria yang masih berstatus sebagai suamiku.
"Apa, melepaskanmu? Susah payah aku mencari keberadaanmu dan saat ini aku sudah menemukanmu, kamu memintaku untuk melepaskanmu?"
"Jangan mimpi, kamu!" bentak Mas Anton padaku.
Aku pun akhirnya memilih diam sambil berpikir keras bagaimana cara lepas dari pria yang selama ini hanya bisa menyiksaku.
Setelah menempuh satu jam perjalanan, mobil pin berhenti di depan sebuah rumah sederhana di pinggiran kota.
Mas Anton menarik tanganku keluar dari mobil dengan kasar. Dia mendorongku masuk ke dalam rumah itu.
Dia menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur saat kami sudah berada di sebuah kamar.
"Sebelum aku menjual dirimu, aku akan menikmati tubuh istriku ini," bisik Mas Anton tepat di telingaku.
Bisikannya membuat bulu kudukku berdiri, walaupun dia merupakan suami sah bagiku, aku tak Sudi melayaninya.
"Aku merindukanmu, Sayang!" ujarnya.
Dia menindih tubuhku, kini bibirnya mulai menjelajahi tubuhku. Aku terus berusaha melawannya. Namun, apalah dayaku, tenaganya lebih kuat dariku.
Perlahan dia merobek kemejaku, dia mulai bermain di dua gundukan berharga milikku.
Aku pasrah dan tak tahu apa yang terjadi, sebelum aku benar-benar tak sadarkan diri samar-samar aku melihat Masa Yoga berada di depan pintu kamar.
"Mas Yoga," lirihku.
****
__ADS_1
Author POV.
Yoga masuk ke dalam sebuah rumah sederhana, yang mana dia yakin Tania berada di sana.
Yoga memukul tubuh Anton dengan sebuah balok yang didapatnya sebelum masuk rumah sederhana tersebut.
Buugh
Terdengar jelas suara pukulan keras di tubuh Anton, seketika Anton tersungkur saat mendapati pukulan yang tak terduga dari Yoga.
Anton berusaha berdiri dan menoleh pada seseorang yang telah memukulnya.
"Kau?" ujar Anton dan Yoga bersamaan tak percaya dengan apa yang telah mereka lihat.
"Apa yang kau lakukan pada kekasihku?" bentak Yoga kesal.
"Hah? Kekasih?" Anton menautkan kedua alisnya tak percaya dengan perkataan Yoga.
"Ya, dia adalah kekasihku!" bentak Yoga menekankan sekali lagi.
"Dia adalah istriku, aku bebas melakukan apa saja pada istriku!" bentak Anton geram mendengar ucapan pria yang sangat dibencinya.
"Tidak mungkin!" Yoga menyangkal perkataan Anton.
"Tak ada yang tidak mungkin, dia masih sah sebagai istri ku dan untuk itu biarkan aku bersenang-senang dengan istriku, pergilah! Tinggalkan tempat ini sekarang juga!" Anton tak dapat lagi mengendalikan emosinya.
Dia memukul wajah Yoga sehingga pria itu tersungkur di lantai.
Yoga yang tak terima dengan pukulan Anton langsung membalas pukulan dari Anton.
Yoga langsung menghampiri Tania, dia membuka jasnya lalu memeluk Tania.
"Sayang, bangun!" Yoga mengguncang tubuh wanita yang sangat dicintainya.
"Tania, Bangun! Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku sangat mencintaimu Tania. Jangan Tinggalkan aku!" Yoga mulai terisak tak dapat menahan kesedihannya.
Sementara itu, Alisya yang sedari tadi mengikuti Mobil Anton saat melihat Tania diculik dapat mendengarkan semua yang diucapkan oleh suaminya.
Alisya hanya dapat menitikkan air matanya saat melihat sang suami lebih peduli pada wanita lain daripada dirinya sebagai isteri sahnya.
Yoga mengangkat tubuh Tania, dia menggendong Tania keluar dari rumah itu. Lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
Dia pun melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan rumah sederhana tersebut, tanpa menyadari keberadaan Alisya yang menatap dengan luka ke arah mereka.
"Woi, tunggu! Aku takkan membiarkan kami lolos dariku lagi, Tania!" teriak Anton yang baru sadar dan mengejar mereka.
Anton pun masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengejar mobil Yoga yang sudah tak terlihat.
Alisya pun melangkah gontai menuju mobilnya, lukanya selama ini semakin mendalam saat menyaksikan sikap suaminya pada wanita lain.
Kini dia merasa benar-benar sudah kehilangan suaminya, dia tidak memiliki harapan untuk mengembalikan cinta suaminya padanya.
"Haruskah aku melupakanmu, Mas?" lirih Alisya.
Sementara itu, Anton masih berusaha mengejar mobil yang dikendarai oleh Yoga.
__ADS_1
Yoga yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena mengkhawatirkan kondisi Tania tak menyadari bahwa Anton tengah mengejar mobilnya.
Saat mobil Anton sudah berada tepat di depan mobil Yoga, tiba-tiba...
Praannkkk!
Mobil Anton yang berada tepat di persimpangan jalan. Naas menimpa Anton,. mobilnya ditabrak sebuah truk besar yang menyeret mobilnya sejauh 50 meter dan menghantam sebuah pagar beton.
Bersyukur Yoga menginjak pedal rem. pada waktu yang tepat, sehingga dia selamat dari kecelakaan itu.
Seketika jalanan menjadi macet, aktivitas lalu lintas terhenti. Beberapa orang ramai melihat kondisi mobil Anton.
Yoga melihat Tania yang masih tak sadarkan diri, dia bingung harus bagaimana cara membawa Tania ke rumah sakit terdekat.
"Tolong, jangan sakiti aku!" Isak Tania.
"Tania! Kamu udah sadar?" Yoga menggenggam tangan Tania.
"Jangan sentuh aku, hiks," Tania masih belum menyadari keberadaan Yoga di sampingnya.
"Sayang, tenanglah! Ini aku," ujar Yoga.
Yoga memeluk erat tubuh Tania, "Kamu sudah aman, aku ada di sini sama kamu.
"Mas Yoga!" pekik Tania saat menyadari suara Yoga.
"Iya,. sayang. Aku di sini bersama kamu!" Yoga mengelus lembut punggung Tania.
"Syukurlah kamu sudah sadar." Yoga merasa lega.
Tania melepaskan pelukan Yoga.
"Terima kasih, Mas. Kamu selalu ada di saat aku dalam bahaya!" lirih Tania.
"Sampai kapanpun, aku akan selalu ada untukmu." Yoga tersenyum bahagia.
"Ada apa, Mas?" tanya Tania saat menyadari kepadatan lalu lintas di depannya.
"Ada kecelakaan, mobil truk itu menabrak mobil Van putih itu," jelas Yoga pada Tania melihat reaksi heran dari Tania.
Tania menajamkan penglihatannya, dia mengenali mobil yang baru saja mengalami kecelakaan tersebut.
"Bukankah, itu mobilnya Mas Anton," lirih Tania.
"Benarkah?" Yoga mulai penasaran.
"Kita harus pastikan siapa yang ada di mobil itu. Kamu tunggu di sini. Aku coba lihat siapa korban kecelakaan ini!" ujar Yoga.
Dia keluar dari mobil lalu melangkah mendekati TKP. Yoga membulatkan matanya tak menyangka saat melihat tubuh Anton yang hancur dan kepalanya terjepit di antara dinding tembok dan mobil truk.
Anton meninggal dunia di tempat.
"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un," lirih Yoga simpati.
Bersambung...
__ADS_1