Pelakor Itu Sahabatku

Pelakor Itu Sahabatku
Bab 15


__ADS_3

Yoga kembali melangkah menuju mobilnya, di sana Tania masih menunggu dengan cemas.


"Ada apa, Mas?" tanya Tania saat Yoga kembali masuk ke dalam mobil


"Kecelakaan parah, ternyata korban kecelakaan itu...--" Yoga sengaja menggantung ucapannya.


"Siapa korbannya, Mas?" tanya Tania penasaran.


"Suami kamu," lirih Yoga menjawab pertanyaan dari Tania.


"Serius, Mas?" Tania tak percaya.


Ada rasa lega dan sedih menggelayuti hatinya. Meskipun begitu, dia masih istri sah dari pria yang bernama Anton.


Kini terlihat beberapa orang berusaha mengeluarkan Anton dari himpitan mobil.


Dengan hati-hati petugas mengangkat tubuh Anton yang tidak berbentuk itu ke atas mobil ambulans untuk di eksekusi.


Tak berapa lama tubuh Anton dibawa, perlahan lalu lintas kembali lancar. Yoga pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan TKP.


Sesampai di apartemen, Yoga dan Tania duduk bersantai di balkon.


"Mas, aku bersyukur bisa terbebas dari Anton, walaupun ada rasa kasihan sama dia." Tania memulai pembicaraan.


"Iya, Sayang. Mulai hari ini kamu bisa hidup tenang. Aku akan mengurus perceraianku dengan Alisya, dan kita akan hidup bahagia berdua," ujar Yoga memeluk Tania.


"Tapi, Mas! Akankah kita bisa hidup bahagia di atas penderitaan Alisya?" tanya Tania yang masih mengingat permintaan Alisya pada hari itu.


"Sayang, dalam mempertahankan Cinta harus ada yang dikorbankan. Untuk saat ini Alisya menjadi korban cinta kita, aku yakin suatu saat nanti Alisya akan mendapatkan kebahagiaannya dengan pria selain aku." Yoga meyakinkan Tania yang merasa ragu dengan hubungan mereka.


"Iya, Mas." Tania memeluk Yoga dengan erat.


Dia hanyut dalam keraguan mempertahankan persahabatan dan cintanya.


****


Pukul 03.15.


Pagi ini Alisya bangun seperti biasa dan melakukan rutinitasnya seperti biasa.


Setelah shalat malam, dia langsung membaca Al-Qur'an sambil menunggu waktu subuh.


Habis subuh, Alisya pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


"Pagi, Bu," sapa Alisya saat memasuki ruang makan.


Alisya hanya mendapati Ibu Rahma sedang menghidangkan makanan di atas meja.


"Alisya bantu, Bu!" seru Alisya bersemangat.


Dia ikut membantu Ibu Rahma menata makanan di atas meja makan.


"Nggak usah, Sayang. Kamu nggak boleh kerja berat-berat!" sahut Ibu Rahma.


"Cuma menata ini saja, nggak berat, Bu." Alisya tersenyum pada Ibu mertuanya.


"Pagi, Kek!" sapa Alisya saat melihat Kakek mertuanya memasuki ruang makan.


"Pagi, Sayang." Kakek Herlambang tersenyum bahagia.


Bagi mereka keceriaan Alisya lah yang mewarnai kehidupan merek di rumah megah keluarga besar Herlambang ini.

__ADS_1


"Kakek mau sarapan apa? Biar Alisya yang ambilkan." Alisya menghampiri Kakek yang telah duduk di bangku kebesarannya.


"Mhm, sarapan pagi ini enak semua. Kakek mau bubur ayam saja," jawab Kakek


"Baiklah, Kek. Alisya ambilkan, ya! Kalau nenek mau apa?" tanya Alisya lagi pada wanita tua yang duduk tepat di samping Kakek Herlambang.


"Sama, Nenek mau selera kakek saja," sahut Nenek menanggapi Alisya.


Dengan cekatan Alisya mengambilkan dua mangkuk bubur ayam, lalu dia meletakkan nya di atas meja tepat di hadapan Kakek dan Nenek.


"Silakan, Kek, Nek!" ujar Alisya mempersilakan.


Kakek dan Nenek tersenyum, mereka pun menatapi Alisya dengan penuh kasih sayang.


Setelah itu mereka pun menikmati sarapan pagi bersama, tak ada suara yang terdengar kecuali dentingan sendok dan garpu.


"Bu, Yah, Kakek, Nenek, Alisya berangkat!" ujar Alisya sambil menyalami semua orang tua yang ada di ruang makan.


"Hati-hati, Sayang." Ibu Rahma mengelus lembut kepala menantunya.


Saat Alisya beranjak dari posisinya tanpa sengaja dia menjatuhkan sebuah gelas di atas meja.


PRAAANK


Bunyi pecahan gelas membuat semua orang kaget.


"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanya Ibu Rahma khawatir.


Dia berdiri mengecek kondisi menantu kesayangannya.


"Nggak apa-apa, Bu!" jawab Alisya.


Dia merunduk hendak membersihkan pecahan gelas tersebut.


"Tapi, Yah." Alisya merasa bersalah.


"Pergilah! Nanti kamu terlambat," perintah Pak Rudi.


Lastri yang mendengar pecahan gelas bergegas keluar dari dapur.


"Biar saya yang bersihkan, Nona," ujar Lastri.


Dia langsung membersihkan pecahan gelas tersebut.


Alisya pun berdiri, lalu dia ke luar dari ruang makan dan melangkah menuju teras. Di sana Angel telah setia menunggu nona mudanya.


"Pagi, Nona!" sapa Angel ramah.


"Pagi, Angel!" sahut Alisya membalas sapaan dari sopir setianya.


Angel membukakan pintu mobil, lalu melangkah mengitari mobil masuk ke dalam mobil lewat pintu kemudi.


Angel langsung mengemudikan mobilnya setelah mastikan Alisya duduk dengan nyaman di dalam mobil.


Dia mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang mulai ramai dipadati oleh kendaraan bermotor.


30 menit perjalanan, mereka sampai di depan perusahaan keluarga Herlambang.


Alisya turun dari mobil setelah Angel membukakan pintu mobil untuk majikannya.


Saat berada di lobi, Alisya berjumpa d Ngan Rima yang juga baru sampai di kantor.

__ADS_1


Mereka melangkah masuk lift.


"Rim, ada meeting hari ini?" tanya Alisya pada Rima sang sekretaris.


"Seingat saya, nggak ada, Nona." Rima melihat catatan di ponselnya.


"Oh, tolong sampaikan pada setiap divisi untuk mengumpulkan laporan bulanan hari ini. Saya akan memeriksa nya!" perintah Alisya pada sang sekretaris.


"Baiklah, Nona!" sahut Rima menanggapi perintah dari bosnya.


Bagi Rima, Alisya merupakan sosok bos yang sangat berwibawa, ramah dan memiliki kharisma tersendiri.


Ting.


Lift berbunyi memberi tanda bahwa mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju.


Alisya melangkah menuju ruangannya, sedangkan Rima melangkah menuju mejanya yang terdapat tepat di samping ruangan Alisya.


Di dalam ruangannya, Alisya langsung duduk di kursi kebesarannya. Perutnya yang semakin hari bertambah besar tak mengganggu sama sekali aktifitas yang dilakukannya.


"Pagi, Nona." Seorang OB mengetuk pintu ruangan Alisya.


Dia membawakan secangkir teh hangat serta beberapa cemilan yang biasa di konsumsi Alisya di saat mereka bekerja.


"Masuk!" perintah Alisya.


Sang OB pun masuk ke dalam ruangan Alisya, lalu meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja Alisya.


"Terima kasih," ucap Alisya sebelum petugas OB itu keluar dari ruangannya.


Tak lama si OB keluar dari ruangan Alisya, Rima mengetuk pintu ruangan Alisya.


"Masuk!" teriak Alisya.


Rima masuk ke dalam ruangan Alisya.


"Nona, ada yang ingin bertemu dengan Nona," ujar Rima saat sudah berada tepat di depan Alisya.


"Siapa?" tanya Alisya yang masih sibuk dengan beberapa dokumen yang ada di atas mejanya.


"Tuan Firman, Nona!" jawab Rima.


"Ada apa Firman datang?" gumam Alisya di dalam hati.


"Suruh masuk!" perintah Alisya pada Rima.


"Baik, Nona." Rima pun keluar dari ruangan Alisya.


Tak berapa lama dia kembali dengan diikuti seorang pria yang bernama Firman di belakangnya.


"Firman, ada apa?" tanya Alisya saat melihat Firman.


"Apakah aku tidak dibolehkan duduk terlebih dahulu?" tanya Firman sambil melirik ke arah sofa.


"Ya ampun, maaf," ujar Alisya menepuk jidatnya.


"Silakan!" Alisya mengajak Firman untuk duduk di sofa yang ada di ruangan Alisya.


"Cha," lirih Firman pelan memulai pembicaraan setelah mereka duduk.


"Ada yang harus aku sampaikan," ujar Firman.

__ADS_1


"Apa?" tanya Alisya.


__ADS_2