Pelakor Itu Sahabatku

Pelakor Itu Sahabatku
Bab 9


__ADS_3

Alisya dan Ibu Rahma saling melempar pandangan. Mereka bingung harus menjawab apa.


Alisya tak ingin kakek kecewa jika mengetahui tindakannya yang menolong Tania.


"Mhm," gumam Alisya berusaha berpikir.


"Mhm, itu Yah. Ada pelanggan di depan salon yang dijambret, dan Alisya mencoba membantunya," jawab Ibu Rahma gugup.


Kakek menautkan kedua alisnya, dia menyadari menantunya telah berbohong. Apalagi melihat reaksi Alisya yang terlihat takut.


"Oh Ya udah. Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Kakek.


Herlambang sengaja tak mempermasalahkan hal yang kini sedang di sembunyikan menantu dan cucu menantunya. Baginya untuk mencari tahu apa yang tengah mereka sembunyikan adalah hal yang sangat mudah.


"Nggak apa-apa, Kek," jawab Alisya tersenyum.


"Cucu kakek sehat, kan?" tanya sang Kakek penuh perhatian.


"Sehat, Kek," jawab Alisya sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Ya udah, kalian pasti lelah. Bersihkan tubuh kalian lalu bersiap untuk makan malam!" titah Kakek.


"Baik, Kek!" jawab Alisya dan Ibu Rahma. serentak.


Mereka pun melangkah menuju kamar masing-masing.


"Ray!" panggil Kakek sebelum masuk ke ruang kerjanya.


Dengan langkah cekatan, Ray menghampiri Tuan Herlambang.


"Ya, Tuan!" sahut Ray menunduk.


Kakek masuk ke dalam ruang kerjanya. Diikuti oleh Ray dari belakang.


"Ray, cari tahu apa saja yang dilakukan Alisya dan Rahma hari ini!" perintah Tuan Herlambang pada asisten pribadinya.


Ray merupakan orang kepercayaan sekaligus asisten pribadi tuan Herlambang.


Ray sudah bekerja dengan tuan Herlambang semenjak, dia memulai bisnisnya. Bagi tuan Herlambang, Ray seperti seorang adik. Umur mereka hanya selisih 8 tahun.


Demi bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, tuan Herlambang menyediakan rumah untuk Ray dan keluarganya di samping rumah megah miliknya.


"Baik, Tuan!" ujar Ray.


"Satu lagi, ikuti gerak gerik Yoga ke mana pun dia pergi!" Tuan Herlambang memberi perintah.


Usai makan malam, Alisya dan Yoga duduk balkon kamar.


"Mas, maaf ya! Tadi aku tiba-tiba teringat Ibu, makanya aku langsung berangkat ke Bandung," ujar Alisya merasa tidak enak hati pada suaminya.


"Nggak apa-apa, Sya. Lagian aku juga sibuk nggak bisa antar kamu," ujar Yoga menanggapi perkataan istrinya.


"Sya," lirih Yoga dengan tatapan yang sulit diartikan pada sang istri.


"Iya, Mas!" lirih Alisya menunggu perkataan yang akan diucapkan oleh sang suami.

__ADS_1


"Aku masih kepikiran dengan perkataan Nenek tadi pagi saat sarapan, apakah kamu...--"


"Iya, Mas!" Alisya memotong pembicaraan sang suami.


"Aku tengah mengandung buah cinta kita, Mas!" ujar Alisya dengan mata berkaca-kaca mengingat kembali perbuatan suaminya.


Yoga bahagia dengan kabar yang didengarnya, namun entah apa yang dipikirkannya sehingga dia hanya diam tak merespon perkataan Alisya.


Alisya kecewa dengan reaksi Yoga, tapi dia berusaha menutupi kekecewaannya itu.


Semenjak suaminya kembali ke rumah ini, banyak perubahan yang terjadi pada dirinya.


Yoga memang bersama Alisya, tapi hati dan pikirannya tak bersama sang istri.


"Mas, aku ngantuk. Mas Yoga masih mau di sini atau,--"


"Kamu tidur duluan saja, aku masih mau di sini!" ujar Yoga memotong perkataan istrinya.


"Ya udah, aku duluan, Mas." Alisya berdiri.


Dia menatap suaminya yang menatap kosong ke depan. Alisya menunggu kebiasaan yang sering dilakukan oleh sang suami saat dia hendak beranjak tidur.


Harapan Alisya sirna, karena sang suami tak memperdulikan dirinya yang menantikan sesuatu.


Alisya melangkah masuk ke dalam kamar sambil mengusap pipinya yang sempat basah karena buliran bening yang jatuh begitu saja di pipinya.


Dalam diam, Alisya menangis dan mengadukan rasa gundahnya pada sang Pemilik hati.


"Kamu harus kuat, Nak. Kita akan terus berjuang walau tanpa adanya Ayahmu," lirih Alisya sambil mengelus perutnya yang masih rata.


****


Yoga POV.


Aku kaget saat mengetahui Alisya tengah mengandung buah hatiku, tapi aku tak bisa merespon berita bahagia itu di hadapan istriku.


Pikiranku kini tertuju pada Tania yang sejak kemarin menghubungiku. Aku tak tahu entah apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Ingin rasanya aku menghubunginya, tapi aku mengingat janjiku pada Ibu.


Aku tak ingin kebahagiaan keluarga besar Herlambang hilang karena perbuatanku. Bagiku saat ini biarlah aku yang menderita menyimpan rasa cintaku pada wanita yang jelas bukan istriku.


Aku belum bisa mengembalikan rasa cintaku pada istriku, karena aku yakin bahwa Tania adalah putri rubah sang cinta pertamaku.


Aku menyadari kesedihan istriku akibat sikapku padanya.


Dua bulan berlalu, aku masih bersikap dingin pada istriku. Aku hanya memperlihatkan kehangatan pada istriku dihadapan keluarga besarku.


"Sya, hari ini aku ada seminar di Bandung. Kamu mau ikut?" tanyaku pada istriku sebelum kami keluar kamar untuk sarapan.


"Aku, mhm," gumamnya bingung.


"Nggak usah, Mas. Aku di sini saja," ujar Alisya seperti ada yang sedang disembunyikannya dariku.


"Lagian saat ini perutku mulai membesar, aku pasti akan merasa lelah duduk lama di atas mobil." Alisya memberi alasan.


"Kamu yakin?" tanyaku lagi.

__ADS_1


Tak seperti biasanya, Alisya akan merengek minta ikut jika aku ada seminar di Bandung untuk berjumpa dengan ibunya.


"Iya, Mas!" jawabnya dengan wajah terlihat cemas.


"Ya udah, kalau gitu mungkin aku nggak bisa datang ke rumah ibumu, setelah seminar aku akan langsung pulang," ujarku.


Aku menangkap istriku bernapas lega, seakan kecemasannya sirna begitu saja saat aku menyatakan tak bisa datang ke rumah Ibu Fatimah.


"Iya, Mas. Terserah kamu aja, biar kamu nggak capek!" ujar Alisya.


Setelah pakaianku rapi, aku dan istriku melangkah keluar dari kamar. Kami turun ikut bergabung dengan keluarga lainnya menikmati menu sarapan pagi yang telah terhidang di atas meja.


"Yah, Bu." Rania membuka pembicaraan pagi ini.


Kami masih asyik menikmati makanan di piring masing-masing sambil menunggu perkataan dari Rania.


"Minggu besok, aku akan melakukan study tour dari kampus. Aku boleh ikut, kan?" ujar Rania meminta izin pada kedua orang tuanya.


"Ke mana?" tanya Ayahku.


"Ke Bandung, Yah," sahut Rania bersemangat.


Kulirik istriku, dia terlihat aneh. Entah apa yang kini sedang disembunyikannya. Aku mulai curiga.


"Boleh, denan syarat kamu tidak boleh melakukan hal yang aneh-aneh," ujar Ayah tegas.


"Siap, Yah!" seru Rania sambil memperagakan gaya hormat bendera.


Semua anggota keluarga hanya tersenyum melihat tingkah Rania yang masih seperti anak kecil walau umurnya sudah menginjak 20 tahun.


"Aku berangkat," ujarku pada Alisya setelah kami selesai sarapan pagi.


Dia mengantarkan ku hingga pintu depan. Dia meraih tanganku lalu menciumi punggung tanganku.


Aku hanya membelai lembut kepalanya yang tertutup hijab. Aku tak lagi mengecup keningnya sebelum aku pergi seperti yang dulu aku lakukan.


Pukul 12 siang, seminar usai. Aku dan teman-teman memilih rehat sejenak ke sebuah cafe yang ada di mall sambil cuci mata.


Saat memasuki pintu mall, aku melihat sebuah gelang yang tersangkut di gagang pintu masuk.


Aku terhenti, ada sesuatu yang membuatku.tertarik pada gelang itu. Aku ambil gelang itu lalu ku bawa masuk ke dalam Mall.


"Bro, kita makan di food court aja, ya!" ajak Denis rekan kerjaku dari kampus yang sama.


"Terserah," ujar teman-teman lainnya.


Aku mengikuti langkah mereka menaiki tangga eskalator dan masuk ke sebuah food court yang terdapat di lantai tiga.


Kami duduk di sebuah bangku panjang yang terletak di tengah-tengah.


Aku duduk sambil memperhatikan gelang yang masih ada di tanganku. Aku melihat sebuah inisial nama yang sama persis dengan gelang yang pernah kuberikan pada putri rubah, gadis kecil yang pergi membawa cinta pertamaku.


"Permisi, gelang itu!" ujar seorang wanita dari belakangku.


Aku kaget saat mendengar suara wanita itu lalu aku pun membalikkan tubuhku.

__ADS_1


__ADS_2