Pelakor Itu Sahabatku

Pelakor Itu Sahabatku
Bab 13


__ADS_3

"Nona, kita sudah sampai," ujar Angel saat mereka telah berada di depan rumah Ibu Fatimah.


Alisya terbangun dari tidurnya. Dalam kesedihan akhirnya dia tertidur pulas selama perjalanan.


"Udah sampai, ya?" tanya Alisya tak percaya


"Iya, Nona." Angel tersenyum melihat majikannya.


Alisya mengerjapkan matanya, mencoba melihat ke sekelilingnya.


"Oh iya!" Alisya pun turun dari mobil.


"Assalamu'alaikum!" ucap Alisya saat berada di teras rumah Ibu Fatimah.


"Wa'alaikummussalam," sahut Bi Nah dari dalam rumah.


Dia membukakan pintu rumah.


"Nona, Alisya!" ujarnya kaget tak menyangka Alisya akan datang.


"Iya, Bi." Alisya tersenyum pada wanita paruh baya yang sudah lama tinggal di rumah Ibu Fatimah.


"Sama siapa, Non?" tanya Bi Nah.


"Sama Angel, Bi. Ibu Ada?" tanya Alisya pada Bi Nah.


"Ada, Non. Yuk, masuk!" ajak Bi Nah.


Alisya dan Angel masuk ke dalam rumah Ibu Fatimah.


"Alisya?" Ibu Fatimah kaget melihat kedatangan Alisya.


"Iya, Bu." Alisya menyalami tangan ibunya.


"Tumben kamu datang?" tanya Ibu Fatimah heran.


"Nggak apa-apa, Bu. Alisya kangen sama Ibu," jawab Alisya.


Setiap kali Alisya mengingat luka yang dialaminya, dia selalu datang ke rumah Ibu Fatimah, karena hanya di sini dia merasa nyaman dalam berkeluh-kesah.


Pada pukul 5 sore, Alisya berpamitan pada Ibu Fatimah untuk menenangkan pikiran. Dia meminta Angel untuk mengantarkannya menuju sebuah taman di daerah Bandung.


Tempat yang biasa didatanginya bersama Tania saat masih duduk di bangku SMA.


"Sya, Happy birthday!" teriak seorang wanita ke arah sebuah danau buatan yang ada di hadapannya.


"Maafkan aku, Sya. Aku memang teman yang tak berguna! Aku tak pantas kau anggap sebagai seorang sahabat." Wanita itu mulai terisak.


"Cinta itu hadir begitu saja di hatiku, dan aku tak bisa jauh dari dia," lirih sang wanita dengan isakkan.


Alisya baru menyadari hari ini adalah tanggal kelahirannya.


"Kau tak perlu meminta maaf padaku," lirih Alisya mendekati wanita yang sudah merusak bahtera rumah tangganya.


Tania mengangkat wajahnya tak percaya, dia tak menyangka Alisya tengah berdiri tepat di belakangnya.


"Sya, kamu di sini?" tanya Tania heran.


Dia mendekati Alisya yang kini menatap pada tulisan yang tertulis di danau buatan yang sengaja di desain oleh Tania.

__ADS_1


"Untuk apa kamu melakukan hal bodoh ini!" bentak Alisya pada Tania.


Alisya teringat masa-masa bersahabat dengan Tania.


Setiap salah satu di antara mereka yang berulang tahun, mereka akan memberikan kejutan di taman ini.


"Happy birthday, Sahabatku!" ucap Tania pada sahabatnya.


Tania membawakan sebuah cake sedang dengan lilin yang sudah menyala di atasnya.


"Make a wish dulu, ya!" ujar Alisya sambil menengadahkan tangan memanjatkan do'a-doa terbaik untuk dirinya dan sahabatnya.


"Ya Allah, semoga persahabatan kami terus terjalin hingga kami menua, dan kabulkanlah semua yang kami cita-citakan," ujar Alisya memanjatkan do'a.


"Aamiin," pekik Tania dan Alisya.


Alisya meniup lilin di atas kue itu, dia memotong kue dan menyuapi sahabatnya.


"Katakan, kamu mau hadiah apa?" tanya Tania pada sahabat terbaiknya.


"Aku menginginkan boneka lumba-lumba yang besar!" pinta Alisya merengek pada sahabatnya.


"Tenanglah, aku akan belikan semua yang kamu mau," jawab Tania.


Mereka saling berpelukan bahagia.


Tiba-tiba Tania berlutut di kaki Alisya.


"Sya, sampai kapanpun kamu adalah sahabatku. Tolong maafkan aku!" pinta Tania memelas.


"Maaf? Kamu bilang? Kamu sudah menghancurkan kebahagiaanku!"


Alisya memaki Tania, dia mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.


"Kamu lihat kondisiku saat ini? Aku tengah mengandung anak dari pria yang kau rebut dariku!"


"Sekarang dengan mudah, kamu meminta maaf padaku! Gara-gara dirimu aku kehilangan kasih sayang suamiku yang seharusnya saat ini memberikan perhatian padaku dan buah hati kami,"


"Aku benci kamu, Tania!"


"Aku benci!" Alisya berteriak memaki-maki Tania.


"Sya, aku mohon! Jangan katakan hal itu," Tania memohon.


"Maukah kau berjanji untuk mengembalikan suamiku, berjanjilah untuk mengembalikan kebahagiaanku!" Alisya pun memohon pada sahabatnya.


Mereka terduduk di atas tanah. Kini dua wanita itu mulai menangis. Mereka bergeming dalam luka yang berbeda di hati mereka.


****


Tania POV.


"Kembalikan suamiku," kata-kata yang keluar dari mulut sahabatku.


Alisya memintaku untuk menjauhi pria yang sudah mulai masuk ke hatiku. Pria yang hatinya sudah ku miliki seutuhnya.


Aku tak sanggup melihat kesedihan Alisya. Namun, aku juga tak sanggup jauh dari Mas Yoga.


Aku tahu, cinta kami tak sepantasnya hadir dalam ikatan suci pernikahan Mas Yoga dan Alisya.

__ADS_1


"Hei, ada apa?" Mas Yoga datang menghampiriku yang sedang berdiri di balkon apartemen.


"Mas Yoga, kapan kamu datang?" tanyaku pada Mas Yoga.


"Baru saja, aku mengetuk pintu tapi tak ada yang menyahut. Akhirnya aku masuk pakai kunci serep," ujar Mas Yoga.


Aku hanya mengangguk paham, aku kembali menatap pemandangan kota Bandung.


"Ada apa? Kamu memikirkan sesuatu?" tanya Mas Yoga.


"Tidak, Mas!" lirihku.


Aku tidak mungkin menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Mas Yoga.


"Mas, aku boleh minta sesuatu?" tanyaku ragu-ragu.


"Apa? Jika aku sanggup aku akan memberikan apa yang kamu mau?" ujar Mas Yoga dengan sebuah senyuman yang sangat menawan.


"Mas, sebaiknya kita sudahi hubungan kita ini!" pintaku dengan berat hati.


Aku sendiri tak tahu bagaimana hidupku nantinya tanpa dirinya di sisiku.


"Apa yang kamu katakan? Itu tidak mungkin. Aku hanya mencintaimu. Aku takkan bisa jauh darimu." Mas Yoga terlihat kesal dengan permintaanku.


"Aku sudah tinggalkan semuanya demi dirimu seorang, aku tak ingin kehilangan dirimu."


Mas Yoga memegang kedua lenganku, dia menatapku dengan penuh cinta.


"Tania, kamu adalah cintaku. Saat ini hanya dirimulah yang aku miliki. Aku mohon jangan pernah memintaku untuk menjauh darimu," ujar Mas Yoga memohon padaku.


Sebesar itukah cintanya padaku? Aku tak menyangka dia lebih memilih diriku daripada keluarganya.


Akankah aku sanggup untuk membalas cintanya yang besar padaku?


Mas Yoga memeluk tubuhku dengan erat.


"Jangan pernah tinggalkan aku," bisik Mas Yoga membuat diriku tak berdaya.


Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini. Air mata Alisya terus terngiang dalam pikiranku.


"Ya sudah, tidurlah!" Mas Yoga menyuruhku untuk tidur.


Mas Yoga membawaku ke kamarku, aku pun membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.


Dia mengecup dahiku lalu beranjak keluar ke kamarnya.


****


Sepulang dari kantor, aku menyusuri trotoar menuju sebuah cafe bersama rekan kerjaku. Kami akan mengadakan ulang tahun salah satu rekan kerja kami satu divisi.


Cafe itu tak jauh dari perusahaan tempat aku bekerja. Kami memilih berjalan kaki menuju cafe tersebut.


Saat kami asyik mengobrol dan bercanda sambil melangkah. Sebuah mobil datang menghampiri kami.


Seseorang datang menarik tanganku masuk ke dalam mobil.


"Tolong!" teriakku takut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2