Pelakor Itu Sahabatku

Pelakor Itu Sahabatku
Bab 22


__ADS_3

"Mhm, maaf jika aku lancang, bagaimana hubunganmu dengan Yoga sekarang?" tanya Firman hati-hati.


Dia takut Alisya merasa tersinggung dengan pertanyaan yang dilontarkannya.


Alisya mengangkat bahunya.


"Entahlah, hingga saat ini aku tidak pernah dapat kabar keberadaan Yoga. Dia menghilang bagaikan ditelan bumi, bahkan dia tidak pernah pulang," jawab Alisya.


"Sudah hampir 7 bulan dia meninggalkanku dan memilih hidup bersama wanita itu," ujar Alisya lagi mengingat kesedihan dan luka yang selama ini dipendamnya.


"Cha, maafkan aku. Aku membuatmu bersedih," lirih Firman merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Fir. Aku bersyukur masih ada teman yang peduli denganku seperti kamu," tutur Alisya jujur.


Setidaknya dengan bercerita pada Firman membuat sesak di dadanya.


"Cha," lirih Firman.


"Mhm," gumam Alisya menanggapi ucapan Firman.


"Maukah kamu memberi izin padaku untuk membahagiakanmu dan menghapus luka yang saat ini ada di hatimu," ujar Firman akhirnya mengungkapkan apa yang terasa di hatinya pada wanita yang dulu dianggapnya sebagai sahabat dan kini rasa kasihan dan iba berubah menjadi rasa sayang dan Cinta.


"Apa maksud kamu, Fir," tanya Alisya tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Firman.

__ADS_1


Alisya takut dia berharap lebih, meskipun jantungnya kini berdetak dengan kencang.


"Cha, aku tidak ingin lagi melihat kesedihan di wajahmu, aku ingin kamu bahagia," jawab Firman yang belum berani terus terang secara langsung.


Alisya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa, karena saat ini pria yang selama dikaguminya itu tidak berkata secara terang-terangan.


Alisya ingin Firman mengungkapkan apa yang diinginkannya secara langsung, bukan dengan isyarat.


"Cha, aku ingin mendampingimu membesarkan bayi yang ada di dalam kandungannya saat ini," tutur Firman.


Mau tak mau Firman pun mengungkapkan apa yang ingin dikatakannya secara terang-terangan.


"Firman? Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Alisya tak percaya.


Alisya menitikkan air matanya mendengar ucapan Firman, dia sangat bahagia mendapatkan apa yang selama ini diinginkannya.


"Ya Allah, apakah ini yang kamu rencanakan selama ini? Dia datang setelah luka yang aku dapat dari suami yang sudah mengkhianatiku," gumam Alisya di dalam hati.


"Cha?" kamu kenapa menangis?" tanya Firman khawatir dan panik.


Firman takut Alisya meras tersinggung dengan apa yang baru saja diucapkannya.


Tiba-tiba Alisya merasakan sesuatu yang membuat dirinya tak nyaman.

__ADS_1


"Cha." Firman pun berpindah duduk ke samping Alisya.


Firman mulai panik dan cemas dengan keadaan Alisya yang kini wajahnya berubah menjadi pucat.


"Apa yang terjadi, Cha? Katakan padaku," ujar Firman.


"Cha, apakah ada yang sakit? Katakan padaku." Firman semakin panik.


Rencana yang ingin mengajak Alisya untuk makan enak dan menyatakan keinginannya pun gagal total karena Alisya yang terlihat mulai kesakitan.


"Cha, ayo kita ke rumah sakit," ujar Firman.


Alisya masih diam menahan rasa sakit yang dia sendiri tidak mengerti rasa sakit apa yang kini tengah dialaminya.


Hal ini membuat Firman mengambil kesimpulan untuk langsung membawa Alisya ke rumah sakit.


"Cha, ayo." Firman menuntun Alisya untuk berdiri dan meninggalkan restoran itu.


Dengan langkah berat Alisya pun berdiri dengan bantuan Firman.


Satu langkah dua langkah mereka berjalan, Firman melihat gamis yang dikenakan Alisya mulai basah.


"Cha, jangan-jangan kamu akan melahirkan," ujar Firman.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2