
Aku langsung menangkap tubuh Alisya.
"Cha, bangun," sahutku.
Berkali-kali aku mencoba membangunkan Alisya, tapi Alisya sama sekali tidak merespon, akhirnya aku langsung membawa Alisya ke rumah sakit.
Aku menghambat sebuah mobil pribadi yang terlihat tak banyak orang di dalamnya.
"Pak, tolong saya untuk membawa teman saya ke rumah sakit, Dia baru saja diserempet oleh sepeda motor," ujarku pada si pengemudi mobil tersebut sambil memohon.
"Ayo, bawa masuk dia ke dalam mobil ini," ujar si pemilik mobil.
setelah itu aku pun menggendong Ayunda dan membawanya masuk ke dalam mobil yang baru saja aku hambat.
Si pemilik mobil itu pun membawa mobilnya di atas kecepatan rata rata. terlihat si pemilik mobil mengetahui kondisi darurat saat ini.
Berselang waktu 15 menit, kami pun sampai di rumah sakit, aku pun turun dari mobil sambil menggendong Alisya turun dari mobil.
"Perawat!" teriakku berharap petugas medis yang ada di IGD itu langsung menangani Alisya.
2 orang perawat pria membawa brangkar rumah sakit, lalu menghampiriku.
aku membaringkan tubuh Alyssa di atas berangkar tersebut.
__ADS_1
"Anda tunggu di sini saja, kami akan memeriksa keadaan pasien," ujar salah satu perawat.
Aku pun terdiam, aku masih setia menunggu Alisya duduk di sebuah bangku panjang yang ada di depan ruang pemeriksaan.
Tak berapa lama setelah itu, dokter yang memeriksa Alisya pun dari ruang pemeriksaan.
Aku langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana dengan keadaannya, Dok?" tanyaku sudah tak sabar ingin mengetahui keadaan Alisya sekarang.
"Alhamdulillah, pasien hanya mengalami syok sehingga mengakibatkan dia tak sadarkan diri," jelas Dokter.
"Alhamdulillah," lirihku.
"Saat ini, pasien masih belum sadarkan diri, kita tunggu sebentar lagi. Anda dapat menemuinya di ruang rawat," ujar dokter lagi.
Setelah itu sang dokter pun meninggalkanku, dan aku pun mengikuti langkah dua orang perawat yang tengah memindahkan Alisya menuju ruang rawat.
Beberapa menit aku menunggu Alyssa sadar di samping tempat tidurnya, aku menatap dalam wajah anggun sahabatku itu.
"Ternyata kamu masih anggun seperti dulu, seandainya waktu itu aku tidak gegabah memilih wanita tak tahu diri itu, mungkin kamu adalah wanita yang terbaik dalam hidupku," gumamku di dalam hati.
"Fir, a-aku ada di mana sekarang?" lirih Alisya bertanya-tanya akan tempat asing baginya itu.
__ADS_1
"Kita saat ini tengah berada di rumah sakit," jawabku.
Aku senang melihat Alisya sudah sadar, menurut dokter keadaan Alisya tidak terlalu serius, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Firman, maafkan aku, ya. Aku sudah merepotkanmu," lirih Alisya merasa bersalah padaku.
"Tidak, kamu tidak merepotkan aku, kok," sahutku.
Aku tidak mau Alisya merasa bersalah padaku.
Sejenak situasi di antara kami berdua hening, tak satu kata pun yang keluar dari mulut kami karena kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
"Ya Allah, mengapa hati ini mulai berdetak kencang saat berada di sampingnya. Apakah aku mulai menyukainya?" gumamku di dalam hati.
Hati ini mulai bertanya-tanya akan apa yang terjadi.
"Fir," lirih Alisya menyadarkan aku dari lamunanku.
"Mhm," gumamku menanggapi.
"Bisakah kamu memberitahukan keadaanku pada keluargaku?" pinta Alisya.
Aku mengangguk mengiyakan. Baru saja aku mengambil ponselku untuk menghubungi keluarga Alisya, seorang pria yang telah berumur masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
Bersambung...