Pelakor Itu Sahabatku

Pelakor Itu Sahabatku
Bab 16


__ADS_3

"Ada apa, Fir? Sepertinya penting sekali," ujar Alisya penasaran.


"Mhm, aku menemukan kejanggalan dengan perusahaan Star Group, kamu bisa lihat berkas ini," ujar Firman pada Alisya sambil mengulurkan sebuah map coklat.


Star Group merupakan salah satu perusahaan yang akan bekerja sama dengan mereka dalam mempublikasikan barang-barang yang akan diproduksi oleh perusahaan Herlambang.


"Apa maksud kamu, Fir?" tanya Alisya sambil membuka map coklat yang diberikan Firman padanya.


Alisya memperhatikan satu persatu berkas yang ada di sana.


Di dalam map coklat itu dapat dilihat dengan jelas bahwa perusahaan yang bernama stargroup itu hanyalah perusahaan bodong.


Perusahaan itu sama sekali tidak ada wujudnya.


"Astaghfirullah, kenapa ini bisa terjadi?" tanya Alisya lirih.


Alisya berdiri dia melangkah menuju mejanya, dia mengambil ganggang telepon lalu menghubungi Rima.


"Rima, datanglah ke ruanganku sekarang juga," perintah Alisya pada sekretarisnya.


Tak menunggu lama Rima pun bergegas melangkah masuk ke dalam ruangan bosnya.


"Permisi, Nona," lirih Rima setelah berada di ruangan itu.


"Rima, coba kamu lihat ini!" perintah Alisya pada sekretarisnya sambil menyodorkan map coklat yang tadi dibacanya.


Dengan cekatan Rima pun membuka map itu dia membulatkan matanya tak percaya.


"Maaf, Nona." saat ini Rima hanya bisa meminta maaf atas kelalaiannya.


"Selidiki semua yang berhubungan dengan start grup, cari tahu siapa yang mempromosikan perusahaan ini lalu pecat dalangnya," perintah Alisya.


"Baik, Nona," lirih Rima.


Setelah itu Alisya menyuruh Rima keluar dari ruangannya.


Kini Alisa kembali duduk di sofa yang berhadapan dengan Firman.


"Terima kasih, Fir. Kalau tidak ada kamu kami akan mengalami kerugian yang sangat besar," ujar Alisya.


Firman tersenyum.


"Sejak kapan sahabatku yang pintar dan teliti seperti kamu ini bisa berbuat gegabah seperti ini?" ujar Firman memuji sekaligus menegur kelalaian Alisya.

__ADS_1


"Mhm, entahlah, Fir. mungkin Ini sebabnya perempuan lebih baik di rumah dan seorang pria yang memimpin perusahaan," lirih Alisya sambil termenung mengingat suaminya yang telah menyakitinya.


"Hush, kamu tidak boleh seperti itu. Seharusnya kamu bersyukur dengan apa yang ada di hadapanmu saat ini," nasehat Firman pada sahabatnya.


"Sebenarnya perusahaan ini bukanlah tanggung jawabku tapi,--" Alisya menggantung ucapannya.


Entah mengapa Alyssa merasa terpuruk dan dia pun berkata apa yang tak seharusnya dikatakannya di hadapan Firman.


Firman menautkan kedua alisnya dia heran dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Alisya.


Rasa herannya semakin bertambah saat melihat wajah sahabatnya itu mulai sembuh.


"Apa yang sudah terjadi, Cha?" tanya Firman tak dapat menahan rasa penasaran yang ada di hatinya.


Alisya terdiam sejenak dia menatap Firman dalam.


Sebagai seorang sahabat bagi Firman, Alisya sulit menyembunyikan apa yang saat ini dihadapinya.


Selama ini Alisya selalu terbuka kepada pria tampan yang kini berada di hadapannya itu.


Alisya menatap dalam dan kembali mengingat masa masa mereka kuliah.


"Firman andaikan kita berjodoh mungkin pendeta ini tak harus aku lalui, aku yakin kamu adalah pria yang baik yang akan selalu menjaga hati setiap wanita," gumam Alisya di dalam hati.


"Cha," lirih Firman sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah Alisya.


Firman sangat mengenal Alisya, bertahun-tahun mereka bersahabat dia tahu betul bagaimana sahabatnya itu, dalam pedihnya perjalanan hidupnya Alisya selalu berusaha untuk terlihat tegar dan ceria, tapi kali ini Firman mulai penasaran dengan perjalanan hidup yang sebenarnya dijalani oleh sahabatnya itu.


"Apakah kamu ada masalah keluarga?" tanya Firman tak sanggup menahan diri.


Alyssa bergegas mengusap air matanya yang telah jatuh membasahi pipinya.


"Maafkan aku, Fir, aku terbawa emosi," lirih Alisya.


"Apa sebenarnya masalah yang saat ini kamu hadapi?" tanya Firman ikut sedih.


Firman mulai mengkhawatirkan keadaan wanita yang selama ini selalu menjadi sahabat setia baginya.


Sekian lama tidak bertemu, tak membuat dirinya merasa jauh dengan wanita yang selalu ada di sampingnya semasa kuliah.


Alisya masih diam, dia tidak tahu harus berkata apa pada pria yang kini berada di hadapannya, pria yang dulu sempat dikaguminya.


Dia ragu untuk menceritakan masalah yang kini tengah dihadapinya kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Cha, kalau kamu memang ada masalah ceritakan saja padaku. Apakah kamu sudah melupakan aku sebagai sahabatmu?" ujar Firman.


Firman terus mendesak Alisya untuk menceritakan apa yang menyebabkan wanita yang ada di hadapannya itu kini mulai menangis.


"Firman, kamu tahu segala hal tentang diriku, sebagai seorang anak yatim piatu mana mungkin aku bisa berada di hadapanmu saat ini, tapi perjalanan hidup yang panjang membawaku kini berada di sini, rasa kasih dan sayang yang diberikan keluarga suamiku tidak bisa mengobati luka yang ada di hatiku saat ini," tutur Alisya.


Tanpa disadarinya dia mulai menceritakan apa yang terjadi dalam bahtera rumah tangganya.


Firman mendengarkan semua cerita itu dengan cermat, dia ikut sedih mendengarkan nasib yang kini dijalani oleh sahabatnya.


Lain dirinya yang ditinggal oleh sang istri karena hidup miskin pada waktu itu.


"Cha, kamu adalah wanita yang kuat, aku yakin kamu akan menemukan pria yang lebih baik dari Yoga. Kamu harus banyak bersabar dan berdo'a kepada Allah semoga kamu bisa hidup lebih bahagia daripada bersamanya selama ini." Firman memberikan motivasi dan semangat kepada Alisya.


"Terima kasih, Fir, kamu udah mendengarkan keluh kesahku," lirih Alisya.


"Ya sudah, bagaimana kalau kamu ikut denganku untuk minum kopi sejenak, supaya rasa sesak yang ada di dadamu bisa hilang," bujuk Firman.


"Apakah kamu tidak malu pergi denganku?" tanya Alisya.


"Alah, ayo," ajak Firman lagi.


Akhirnya Firman dan Alisa pun keluar dari gedung perusahaan Herlambang.


Mereka berpindah ke sebuah cafe yang berada di depan perusahaan, Alisa tidak mau jauh-jauh dari perusahaan karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.


****


Firman POV.


Aku kaget mendengar cerita Alisya, aku tak menyangka dia akan bertemu dengan pria bajingan seperti Yoga.


Sebagai seorang sahabat aku ikut membenci pria yang bernama Yoga itu karena dia telah menyakiti hati wanita yang telah aku anggap sebagai adikku.


Kebaikan Alisya selama kuliah tidak dapat aku lupakan, bahkan kebersamaan kami dalam mencari rezeki untuk membiayai kuliah kami membuatku sudah menyayanginya.


Rasa sayang itu tumbuh sebagai seorang kakak, karena aku sudah mengagumi wanita lain yang mana waktu itu aku sedang pendekatan dengannya.


Aku sengaja mengajak Alisa untuk minum kopi di luar kantor, agar dia merasa rileks dan melupakan kesedihan yang kini dihadapinya.


Kami melangkah beriringan menuju sebuah cafe yang ada di depan perusahaan milik Alisya.


Saat kami hendak menyeberangi jalan, seorang pengendara sepeda motor tak sengaja menyerempet Alisya.

__ADS_1


"Alisya," pekikku histeris saat melihat Alisya terjatuh di pinggir jalan.


Bersambung...


__ADS_2