
"Apa? Tania?" Ibu Fatimah tak percaya bahwa wanita yang membuat suamiku berpaling adalah Tania, sahabatku.
"Iya, Bu. Di mana Tania sekarang?" tanyaku pada Ibu Fatimah.
"Sejak tadi sore dia pamit untuk mencari rumah atau apartemen," jawab Ibu Fatimah.
"Tapi, mengapa kamu masih mau membantunya?" tanya Ibu Fatimah bingung dengan tindakan putrinya.
"Tania adalah sahabat Alisya, Bu. Alisya tidak mau dia terus-menerus disakiti oleh suaminya." Aku mengungkapkan alasanku menolong Tania waktu itu.
Aku berharap dengan hal itu, dia tidak lagi mengganggu hubungan rumah tanggaku dengan Mas Yoga. Namun, semua yang sudah aku lakukan tak ada arti baginya.
"Ya sudah, kamu beristirahatlah terlebih dahulu, Ibu tak ingin terjadi yang tidak diinginkan pada cucu Ibu," nasehat Ibu.
Kami melangkah menuju kamar yang biasa aku tempati di rumah ini.
"Bu, temani Alisya," pintaku pada Ibuku.
Setiap Aku bersedih, aku selalu meminta Ibu Fatimah tidur bersamaku. Belaiannya sebelum aku tidur dapat memberikan kedamaian pada jiwaku.
"Baiklah." Ibu Fatimah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Seperti biasa Ibu Fatimah memeluk tubuhku, dia membelai lembut kepalaku hingga aku tertidur nyenyak.
****
Author POV.
Dua bulan berlalu, Alisya kini menyibukkan diri dengan mengurus perusahaan keluarga Herlambang menggantikan posisi Yoga. Kakek Herlambang sengaja menyuruh Alisya bekerja agar Alisya dapat melupakan kesedihannya.
"Nona, meeting akan di mulai," ujar Rima sekretaris Alisya yang baru saja masuk ke dalam ruangan Alisya.
"Baik, Rima. Terima kasih. Siapkan semua yang kita butuhkan!" perintah Alisya pada sekretarisnya.
Dengan perut buncitnya, Alisya masih dapat melaksanakan pekerjaannya dengan profesional. Dia melangkah menuju ruang meeting diikuti oleh Rima.
Di ruang meeting, beberapa klien sudah berada di ruangan itu. Mereka menyambut sopan pemimpin perusahaan keluargaHerlambang yang anggun dengan hijab panjang menutupi auratnya.
"Pagi, Semua!" sapa Alisya saat sudah berada di posisinya.
"Meeting hari ini kita akan membahas tentang kerja sama dengan beberapa media online dalam mempromosikan produk-produk yang di keluarkan oleh Helrambang Group." Alisya memulai pembicaraan dengan bijaksana.
Tanpa disadari Alisya, sepasang mata menatap kagum ke arahnya, dia mengembangkan senyumannya yang menawan terpukau pada performa wanita berbusana syar'i tersebut.
"Hari ini cukup sekian meeting kita, semoga apa yang kita harapkan dapat tercapai." Alisya menutup meeting pagi itu.
__ADS_1
Semua rekan bisnisnya pun perlahan keluar dari ruangan meeting.
"Amazing, Cha!" ujar seorang rekan bisnis pria yang ikut meeting dengan Alisya.
Alisya yang sedang merapikan perlengkapannya menoleh ke arah suara tersebut. Dia membulatkan bulat mataya saat mendapati pria yang sangat dia kenal.
"Masya Allah, Firman!" pekik Alisya saat menyadari salah satu rekan bisnisnya adalah teman kuliahnya.
"Hebat, Cha! Kamu memang wanita yang cerdas!" puji Firman mulai melangkah mendekati Alisya.
"Terima kasih, aku tak menyangka kamu ada di dalam ruangan ini. Sama sekali aku tidak memperhatikan klienku dengan baik." Alisya menepuk jidatnya.
"Wajar saja, kamu sangat fokus dengan isi presentasi kamu dan misi yang harus kamu raih." Firman mengoceh masih dengan senyum yang menyungging di bibirnya.
"Kamu apa kabar?" Alisya mengalihkan pembicaraan.
"Baik, kamu?" tanya Firman kembali bertanya.
"Alhamdulillah, aku baik!" jawab Alisya.
"Bagaimana kabar istrimu?" tanya Alisya pada Firman.
Firman menundukkan kepalanya, ada luka yang disembunyikannya. Alisya masih menunggu jawaban dari Firman.
"Istriku pergi meninggalkanku, dia tak sanggup hidup susah di tahun pertama pernikahan kami," jawab Firman jujur.
Alisya mengenang masa-masa kuliahnya yang sangat dekat dengan pria yang kini sudah berstatus duda di hadapannya.
"Cha, kamu tahu aku akan menikah!" seru Firman setelah mereka sidang kompre.
Alisya kaget dan kecewa saat mendengar perkataan pria yang dikagumi secara diam-diam.
"Be-benarkah?" Alisya memastikan pendengarannya tak salah mendengar.
"Iya, Cha. Setelah wisuda aku akan menikah dengan wanita yang selama ini aku cintai," ujar Firman bersemangat.
Alisya dan Firman telah menjalin persahabatn sejak awal mereka mulai kuliah, Alisya merasa nyaman berteman dengan Firman. Firman yang memanggil namanya berbeda dengan yang lain membuat Alisya diam-diam menyukai pria yang sangat perhatian padanya.
Seketika itu Alisya mulai menghapus rasa kagum dan sukanya pada pria yang sholeh di matanya.
"Cha!" panggil Firman membuyarkan lamunan Alisya.
"Eh!" Alisya mengusap air matanyayang tanpa disadarinya jatuh begitu saja.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Firman mengkhawatirkan Alisya.
__ADS_1
"Mhm, aku baik-baik saja kok!" jawab Alisya berusaha menutupi kesedihannya.
"Ya sudah, lain kali kita lanjutkan obrolan kita. Hari ini masih ada meeting di tempat lain," ujar Firman.
Dia berdiri dari duduknya, dia menangkupkan kedua tangannya pertanda salam perpisahan dengan Alisya. Semenjak kuliah Firman memang sangat menjaga adab bergaul dengan lawan jenis.
Firman keluar dari ruang meeting, Alisya dan Rima pun ikut keluar dari ruang meeting kembali ke ruangan Alisya.
"Rima, hari ini aku akan pulang lebih awal. Batalkan jadwal meeting setelah dzuhur," perintah Alisya.
Setelah berjumpa dengan Firman, mood Alisya menjadi buruk sehingga dia memutuskan untuk pulang lebih awal.
Alisya keluar dari ruangannya lalu melangkah turun menuju parkiran. Dia menghubugi Angel, sopir pribadi Alisya yang disediakan Kakek Herlambang untuknya.
"Angel, kita pulang sekarang juga!" pinta Alisya pada Angel.
"Baiklah, Nona." Angel yang biasa ikut membantu OB di pantry melangkah keluar dari gedung perusahaan menuju parkiran.
Sesampai di lobi, Angeltelah menunggu Alisya keluar dari perusahaan.
"Silakan, Nona!" lirih Angel pada majikannya yang tengah mengandung 7 bulan.
Alisya masuk ke dalam mobil. "Angel, kita pergi ke Bandung sekarang juga." Alisya memberi perintah.
"Bandung, Nona?" tanya Angel tak percaya.
"Iya, aku akan memberitahu Ibu nanti." Alisya mengambil ponselnya.
"Halo, Bu! Alisya kangen Ibu Fatimah. Alisya minta izin pergi ke Bandung sekarang," ujar Alisya saat panggilan telah tersambung pada ibu mertuanya.
"Kenapa mendadak, Sya?" tanya Ibu Rahma khawatir.
"Nggak apa-apa, BU. Tiba-tiba Alisya ingat Ibu Fatimah dan ingin berjumpa dengannya," jawab Alisya.
"Baiklah, katakan pada Angel untuk berhati-hati dalam membawa mobil, pesan Ibu Rahma.
"Baik, Bu!" Alisya memutuskan panggilannya.
Dia menyimpan kembali ponselnya lalu merebahkan posisi sandaran kursi, dia berusaha memejamkan matanya sekedar beristirahat.
Dua bulan sudah perpisahan yang terjadi antara dirinya dan suami yang dicintainya. Degan susah payah Alisya berusaha melupakan kesedihannya, kini kesedihan itu kembali datang menghampirinya.
"Andaikan kala itu,kita berjodoh. Mungkin kamu tidak akan terluka. Dan Aku juga tidak merasakan sakit hati daripengkhianatan yang dilakukan sahabatu," bathin Alisya di dalam hati.
Dia mulai menyesali takdir, pria yang dicintainya di masa kuliah memilih menikah dengan wanita lain. Nasib mereka kini sama-sama sendiri. Terluka karena pernikahan.
__ADS_1
Buliran bening kini mulai membasahi pipi Alisya. Sepanjang perjalanan dia hanya memikirkan kesedihan dan kekecewaannya.
Bersambung...