Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS13. Sepiring nasi


__ADS_3

"Kaf, aku tak suka kau nuduh aku." Tangisku mungkin terdengar sampai telinganya, karena Kaf kembali menyentuh kakiku dan mengusap-usapnya. 


"Maaf, Dek. Bagaimanapun kondisi kau, aku terima."


Kembali lagi, ucapannya seolah mengatakan bahwa aku sudah rusak oleh laki-laki lain. 


"Aku tak mau sama kau, kalau kau ngomongnya gitu." Aku menekan ujung mataku. 


"Kok nangis, Makcik?" Galen bangkit dan memandang mataku amat dekat. 


"Kakek…. Makcik nangis karena Pakcik tuh!" Galen menunjuk laki-laki yang terus mengusap-usap kakiku itu. 


"Wah, apa?! Enak aja! Galen tuh!" Kaf bangkit terlihat panik, dengan menunjuk Galen. 


"Apa sih?" Ayah sudah berdiri di jangkauanku. 


"Katanya ngobrol, kenapa nangis? Kau apakan?!" Nada bicara ayah siap bentrok. 


"Dia kangen aku katanya, Yah. Kata aku, jangan minta peluk di sini, ada Galen ada Ayah."


Apa katanya??? 


Aku langsung lupa dengan air mataku dan menatap marah ke arahnya. Ampun, laki-laki ini mulutnya. Lancangnya ia, sok larisnya ia. 


"Kaf!!!" Aku melemparkan bantal dan memukulkannya pada Kaf secara brutal. 


Ia tertawa terbahak, ia mencoba melindungi dirinya. 


"Ck, anak muda ini buat bingung." Ayah tidak memisahkan kami, ia malah pergi ke luar kamar kembali. 


"Makcik, carikan basuri." Galen memberikan ponsel ibunya padaku. 


Ia tidak tahu situasi sekali, dasar bocil. 


Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Galen anteng bergulang-guling di ranjangku lagi. Ia selalu anteng jika tidak ada temennya, jika ada ya keluar semua sifat aslinya. 


"Aku tanya sekali lagi nih, apa maharnya?" Kaf bertanya lembut dengan memangku bantal yang aku pukulkan tadi. 


"Terserah aja, Kaf. Aku bingung, aku belum mikirin." Rasanya aku perlu menanyakannya pada ayah. 


"Tak, maksudnya emas kah, uang kah, atau barang. Jumlahnya, nanti aku tanya ke ayah biar ayah tak merasa anaknya direndahkan. Tapi ngomong-ngomong, Dek. Aku pengennya ada resepsi, aku pengen ngundang beberapa temen kuliah dasar aku pas di sini." 


Matanya terlihat merah, ia seperti mengantuk dan kelelahan. 


Emas? Aku tidak pernah memakai selain anting dari ayah. Uang? Aku hanya perlu sedikit. Kebutuhanku selalu dipenuhi oleh ayah dan tinggal meminta apa yang aku butuhkan, aku tidak gila uang. Barang? Yang ayah berikan sudah memenuhi kamarku. 

__ADS_1


"Masjid aja, Kaf. Eh, kan di rumah sakit keluarga yang di jalan depan sana belum ada masjid kan? Di sebelahnya kau beli ya tanahnya, kau bangun masjid di situ untuk mahar aku. Dekat jalan utama, keknya diperlukan tuh apalagi dekat rumah sakit. Usahakan airnya bor sendiri, biar airnya selalu sedia. Atau kau bisa minta sumber air terdekat, tapi keknya jauh ya? Terlalu banyak pipa nanti, mending bor aja sebesar pipa gitu kan?" Aku mengacungkan dua ibu jariku. 


Ia tersenyum lebar sampai giginya terlihat semua. "Aku memang tak pernah salah feeling udah milih kau, Dek. Aku siapkan segera, nanti aku langsung datangi pakcik Zuhdi."


Aku mengangguk mantap. "Untuk resepsi, aku keberatan. Aku malu dipajang gitu, Kaf." Kini aku menunduk lesu. 


"Keluarga inti sama beberapa temen aku aja, Dek. Mau ya?" Ia sampai menangkupkan kedua telapak tangannya, ia sampai memohon seperti itu. 


"Ya udah, iya." Mungkin ia ingin memberitahu pada teman-temannya jika ia sudah sukses dan beristri. 


"Oke, sip. Setuju ya?" Ia mengulurkan tangan kanannya ke arahku. 


Jemarinya besar-besar dan panjang, tidak seperti jemari Rai yang panjang-panjang kecil dan memiliki tato huruf di tiap jarinya. Kulitnya pun terlihat kontras sekali. Kaf tidak putih juga, kulitnya cenderung ke arah hitam manis, tapi kulitnya amat bersih dan sedikit cerah. 


Jika tidak ditanggapi, ia akan tersinggung. Sedangkan kemarin, aku sering menyentuh tangan Rai. Tapi jika aku bersentuhan dengan Kaf, beban akhiratku sudah menanti. Ehh, tapi kemarin dengan Rai pun sama ya? Kenapa aku baru terpikir sekarang? 


"Setuju." Aku menjabat tangannya dan tersenyum lebar, meski ia hanya melihat tarikan garis mataku saja. 


"I love you…." Bibirnya sampai monyong-monyong seperti akan mencium bibirku. 


"Thanks for the information." Aku menempelkan telunjuk tangan kiriku ke pipiku, karena tangan kananku masih ia genggam. 


Ia menghempaskan tanganku. "Ck…." Wajahnya masam sekali, ia memalingkan pandangannya ke arah lain. 


"Iya, iya, iya. I love you too." Aku bertopang dagu, dengan siku bertumpu pada lututku dalam posisi bersila. 


"Aku pulang ya? Dimakan sate kambingnya, awas ada sambalnya. Mau diambilin tak nasinya?" Ia memasukkan tangannya ke saku celananya. 


Gagahnya dokter muda ini, sayangnya ia terlihat letih dan lelah. Semoga ia sehat selalu, ia harus kuat karena anak laki-laki satu-satunya dalam keluarganya. 


"Boleh, Kaf. Sama minta tolong air putihnya satu gelas." Aku membuka barang bawaan Kaf tadi. 


"Heem." Ia berbalik badan dan keluar dari kamarku. 


Kaf keren memakai kemeja yang berwarna cerah lembut, biru muda contohnya seperti sekarang. 


"Apa itu, Makcik? Mau." Galen mendekatiku. 


"Itu kakek juga lagi makan sate ayam, Bang. Jangan minta punya Makcik." Aku berpura-pura melindungi makananku. 


"PAPAH…. MAKCIK PELIT, ADEK TAK DIKASIH SATE," teriakan dan tangisannya tidak diragukan. 


Ya benar, sangat lepas. 


Sepertinya ayahnya ada di depan rumah, entah memang tengah menempati rumah yang di sini. 

__ADS_1


"Boleh, boleh, nih…." Aku menyodorkan sate yang sudah aku buka. 


"PAPAH, BELI SENDIRI…." 


Manja sekali ia setelah punya ayah baru. 


"Apa, Dek?" Suara ayah barunya terdengar. 


Galen dipanggil adek karena ia memiliki kakak tiri. 


"Tak, Bang. Galen cengeng, aku bercandain aja," seruku kemudian, agar kakak ipar tidak salah paham. 


"Ini nih, bawa ke Ra." Itu suara ayah, ayah sampai memberikan makanannya untuk anak jimatnya itu. 


Semua keluarga tahu, jika kak Ra adalah copyan ayahku dalam bentuk yang berbeda. Sampai ayahku pun memberikan kepercayaan besar untuk usahanya pada kakak perempuanku yang sadis itu. 


"Nginep di sini aja ya, Yah? Aku ada kerjaan malam nanti, aku khawatir karena ada dia di sini." Tinggi hitamnya kakak iparku terlihat dari tempatku. 


"Ini, Dek." Kaf muncul dengan membawa sepiring nasi dan segelas air putih. 


"Makasih, Pak Dokter." Aku menyambut makananku. 


"Mana obat resep dari kak Kal?" Ia celingukan melihat isi nakasku. 


"Di dalam laci." Aku mulai menyantap sate dan nasi. 


Ia mendapatkan apa yang ia cari, kemudian mengeluarkannya dari bungkusnya. "Duh, keras ini. Ada gunting tak?" Kaf berjongkok di dekat ranjangku dan mengobrak-abrik isi nakasku. 


"Ini gunting di sini, Kaf," timpal ayah kemudian. 


Kaf pergi untuk mengambil gunting tersebut, sedangkan aku lanjut makan. Sepertinya kakak ipar masih di sini, ia berbincang dengan ayah  dan juga Kaf. 


"AYahhh," teriakan itu lamat-lamat seperti hilang mendadak. 


"Tolo….ng," Suara kakakku itu seperti dibekap. 


"RA! RA…." Kakak iparku panik, ditambah semua langkah orang terdengar keluar semua dari rumah. 


Ada apa dengan kakakku? Tidak seperti biasanya, ia sampai meminta tolong seperti itu. Ia seperti dalam kesulitan dan aku harus memastikan sendiri keadaan kakakku itu. 


"Ya Allah…. KURANG AJAR KAU!!!" Kakak iparku begitu murka melihat kondisi kakakku yang tidak baik-baik saja. 


Semua perhatian kami tertuju pada pintu penghubung halaman samping kiri, di mana kakak perempuanku berada dengan pelaku yang masih berada di tempat kejadian. 


Waktu begitu cepat, aku sulit menjelaskan tindakan kriminal yang tiba-tiba terjadi. Aku terbatas untuk membuka ceritanya saat ini, karena masih ada sangkut pautnya dengan cerita kakak perempuanku. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2