Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS8. Buka suara


__ADS_3

"Sok makan dulu tak apa." Kal tersenyum dan duduk di meja makan. 


Ia adalah seorang dokter yang akan memeriksaku. Ia juga sepupuku dan ngerinya lagi ia adalah kakak dari Kaf, laki-laki yang kelak akan meminangku itu.


"Ke mana Kaf?" Aku bertanya setelah aku menelan makananku. 


"Masih di penyeberangan Banda Aceh - Sabang. Tapi udah dikasih tau kok kalau kau udah pulang, dia lagi siap-siap pulang sama rombongannya." Kal duduk dengan memangku tas dokternya. 


Bukan tas bergambar palang merah seperti pada mainan dokter-dokteran juga. Model tasnya sama seperti tas kotak yang ada di mainan dokter, tapi bedanya tas itu tidak ada gambar palang merahnya dan terbuat dari kulit. 



Kaf pun memilikinya, hanya saja modelnya sedikit berbeda. Tas seperti itu pun ada harganya, yang berbau tentang dokter itu serba mahal, untungnya orang tua mereka kaya. 


"Ngapain Kaf di sana?" Aku mencicipi air putih yang sudah disediakan di gelas ini. 


Tawar ya? Air minum dari sumber air lebih sedikit ada rasanya dan amat sejuk. Tapi aku bersyukur sudah kembali ke rumah, meski tidak lagi bisa mencicipi air minum dari sumber air yang asli. 


"Nyari kau, dugaan katanya udah ada indikasi keluar dari pulau. Jadi beberapa orang ayah disebar di daerah penyeberangan. Jadi pada orang-orang yang ditunjuk udah mencar di penyeberangan jalur laut," jelas Kal kemudian. 


Aku manggut-manggut, aku tak meragukan usaha keluargaku untuk mencariku. Sayangnya, kenapa mereka tidak berpikir untuk mencari ke hutan? Padahal aku masih di daerah Aceh Tengah dan aku masih di seputaran daerah sendiri. Bener Meriah dan Takengon, danau yang tadi itu. Jarak perjalanan di jalan mulusnya hanya empat puluh lima menit. Yang aku lalui sampai sembilan belas hari. 


"Rai, kau mau ini?" Aku memberikan kemasan abon sapi padanya. 


Lauk makan Rai ada telur dadar dan juga chicken nugget instan. 


"Udah mau abis, Can." Ia menunjuk isi piringnya. 


"Tak apa nambah juga, Bang," ujar biyung dengan siap-siap mengambil centong nasi. 


"Tak usah, Tante. Makasih nih, perut malah tak enak dikasih makan tuh." Kedua tangannya memegangi perutnya. 


Iyakah? 


"Kok bisa? Punya maag?" Aku yang malah menambahkan sedikit nasi lagi ke piringku. 


Ia mengangguk. 

__ADS_1


Waduh, bahaya ini. Ia punya penyakit, sedangkan selama ini ia kurang asupan makanan, bahkan tidak pernah makan berat. 


"Kal, Rai periksa dulu aja. Apa yang kau rasa bilang ya?" Aku membiarkan nasiku sedikit dingin, aku lebih dulu untuk membantunya bangkit dan memberikan jalan padanya. 


"Dek, Dek…. Biar Ayah aja yang bantu Ray." Ayah menyerobot tindakanku. 


"Ra-i, Yah. Namanya Ra-i, bukan Ray. Keren betul nama dia kalau begitu." Aku terkekeh kecil, membiarkan Rai dibantu oleh ayah. 


"Oke." Ayah tersenyum kaku padaku. 


Aneh juga ayahku ini. Tapi ya sudahlah, aku masih lapar. 


"Rai, tas aku mana?" tanyaku sebelum ia diajak ayah pergi ke kamar tamu. 


"Ada di Bibi yang tadi." Rai celingukan seperti mencari seseorang. 


"Ohh, Makcik Munah." Maimunah nama ART di sini. 


"Istirahat di kamar sebelah sana, terus diperiksa dulu." Ayah membawa Rai ke arah depan. 


"Tinggal dulu ya, Dek? Nanti gantian." Kal beranjak pergi. 


"Kau ketemu dia di mana, Dek?" tanya bang Chandra lembut. 


Aku menoleh ke arah perginya Kal. "Kan Kal datang sendiri ke sini, dipanggil ayah katanya kan?" Aku berusaha menelan makananku lebih cepat. 


"Ish…." Bang Chandra menyatukan alisnya. 


"Ra-i tadi." Bang Chandra memenggal kata yang ia ucapkan. 


Aku terkekeh geli, aku merasa jika memang fokusku terbagi. 


"Nanti aku ceritakan." Aku memerlukan waktu untuk mengarang. 


"Bang, aku itu tak pergi curi motor. Motor itu dibegal." Aku mengemukakan satu kejujuran, entah selanjutnya aku bisa jujur tidak. 


"Katanya nanti ceritanya? Huuu…. Kocak." Bibir bang Chandra sampai begitu lancip. 

__ADS_1


"Ya kan cuma ngomong gitu." Aku lanjut menghabiskan nasiku. 


Rasanya sudah kenyang, eh malah mengantuk. Dasar manusia. 


Aku menghabiskan air minumku, kemudian mengambil piring kotorku dan piring kotor Rai. Peraturan di sini habis makan ya dicuci piringnya, aku tidak hilang ingatan untuk peraturan itu. 


"Tapi motornya ada di daerah Campuran, Dek. Ada kuncinya, tapi rusak parah karena bensin kosong," ungkap bang Chandra, yang membuat pekerjaanku tertunda. 


Aku mengatur napasku, aku harus mulai berbohong. Tapi berbohong apa ya? Aku tahu dari sini, berarti aku mulai tersesat di daerah Campuran. 


"Aku diturunkan tak jauh setelah motor itu berhenti, Bang. Tapi di daerah yang sepi betul, tak ada penduduk di sana. Aku tak tau kalau motor itu rusak mendadak." Semoga aku tidak terlihat gelagapan. 


Namun, tiba-tiba bang Chandra ada di sampingku. Ia mengamatiku begitu lekat sambil bersedekap tangan. 


"Motor yang kau pakai dibegal dan kau dibawa? Ah, yang betul?" Bang Chandra menaikkan satu alisnya. 


Ish, kan aku langsung grogi. Pasti aku ketahuan, jika aku menyembunyikan sesuatu. Padahal, aku belum mulai berbohong seluruhnya. 


Ah, lari ke biyung saja. Semoga biyung mudah percaya padaku. 


"Biyung…." Aku meninggalkan bang Chandra, aku bergerak cepat ke arah biyung.


"Kenapa, Dek?" Biyung menyambutku dan menarik tanganku, agar aku duduk di sampingnya. 


"Aku pengen cerita ke Biyung aja, ke Bang Chandra tuh nyudutin terus. Kek aku sebelumnya pernah ngecewain aja." Aku melirik bang Chandra sinis, kemudian memandang biyung dengan senyum lebarku kembali. 


Meski aku tahu, mereka tidak melihat jelas senyumku. 


"Gimana? Gimana? Sok, Biyung dengerin." Biyung tersenyum lebar. 


"Jadi tuh aku disuruh sama kelompok aku untuk ngeprint tugas. Tiba-tiba, dijalan tuh motor temen aku diberhentikan orang. Aku kira orang mau minta tolong kan? Eh, tak taunya dia langsung dorong-dorong aku dan coba kuasain motor. Itu bukan motor aku, aku merasa bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan keutuhan motor itu. Ehh, malah akunya yang dibawa. Jadi aku sekalian dibonceng depan kek anak kecil itu, Biyung. Di motor masih ribut kan kami, aku udah nangis payah tapi dia bisa bawa motor itu tetap seimbang. Abis itu dia masuk ke jalanan gang-gang sepi, ancam aku mau diapa-apain kalau banyak berontak dan ribut aja. Jadi aku milih diem, aku pikir barang-barang berharga aku bakal dirampas, terus aku diturunkan di jalan. Tak taunya pas motor mati, aku ditarik ke ladang penduduk kek ladang singkong gitu, Biyung. Terus…." Aku mengambil napas lebih banyak, karena aku harus mulai mengarang tentang Rai. 


"Terus gimana? Kau diapakan di ladang itu?! Jawab Biyung, Dek! Jangan diem aja! Ayo jawab!" Biyung menggoyangkan lenganku begitu heboh. 


"Ya Allah, Mas Givan…. Mas…. Anak kita, Mas…." 


Aku panik melihat kondisi biyung yang tidak bisa dikondisikan, biyung panik dan mengundang kepanikan semua orang. Aduh-aduh, aku harus bagaimana? Bagaimana jika seluruh keluarga menodong pertanyaan dan aku harus menjawab cepat? Apa aku tetap bisa untuk berbohong? 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2