
Tidak banyak pertanyaan dari kenalan mama Aca yang katanya ahli mental itu, sesi mengobrol tidak ada tiga puluh menit. Namun, yang malah makan waktu saat medical check up di rumah sakit.
Aduh, aku tidak suka dengan alat-alat medis yang menyakitkan seperti ini. Aku merasa medical check up itu seperti penyiksaan.
"Mana bajunya warna cream, penutup mukanya warna cream. Eh nangis, ya kelihatan air matanya." Kaf tertawa kecil.
"Ini Canda versi sachet, Kaf. Kau yakin sama yang ini aja?" Mama Aca melirikku dan melirik anaknya itu.
"Mama…." Aku langsung bersandar pada lengan mama Aca.
"Dia lebih cantik dari biyung. Otaknya upgrade sedikit, karena dia hampir lulus nih kuliahnya. Orangnya putih, bola matanya coklat agak terang. Kek nilai plus betul, Ma. Bola matanya kek kakek Adi gitu loh, tapi kulitnya kek biyung. Akhlak bagus, sopan santun terjaga, apalagi aurat. Keknya setelah menikah tuh, aku nih tak banyak tugas untuk memperbaiki dirinya, Ma." Kaf duduk berjongkok di depanku, sikunya bertopang di atas lututku. Kemudian, tangannya menopang dagunya.
Ia seolah amat memujiku.
"Iya-iya aja deh, belum sekamar kau tak akan tau sifat aslinya. Jangan sampai kau berpikir balikin dia ke orang tuanya, kalau di awal kau muji setengah mati begini. Malu kau yang ada!" Mama Aca menepuk dahi anaknya.
"Dek, kalau setelah nikah dan ada apa-apa dengan sikap aku, ngadunya ke Mama aja ya? Jangan ngadu ke ayah, nanti langsung panas pikiran. Ayah kira aku tak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya, padahal bukan maksud hati aku begitu." Kaf tersenyum dan enyah dari hadapanku.
"Tuh, dengerin." Mama Aca melirikku yang masih menjadi beban di lengannya.
"Ambil hasil tesnya nanti aja, biar aku yang ambil. Sekarang pulang yuk? Kak Key udah WA, nanyain kau lagi dibawa ke mana." Kaf mengotak atik ponselnya di depanku, dengan tangan kirinya yang masuk ke saku.
"Ajak makan dulu, Kaf. Biar anak orang tak kelaparan." Mama Aca meraih tasnya dan berdiri lebih dulu.
Aku tak membawa apapun, hanya membawa badan saja.
"Ma, utang uang untuk belikan HP untuk Cani. Aku mau ke Malaysia lagi minggu-minggu ini, biar bisa komunikasi sama dia." Kaf masih sibuk dengan ponselnya itu.
"Jangan ngelangkahin kehendak ayahnya, Kaf. Kau tak akan dikira romantis dengan kasih dia HP, apalagi ayahnya mampu." Mama Aca menarik tanganku agar aku segera bangkit.
"Pengen chattingan, pengen VC, jadi serba susah. Kek zaman dulu tuh, Ma. Apa-apa, aku harus ke rumah dia." Kaf berjalan mendahului.
Gagah dan tegap laki-laki ini dari belakang, seperti abdi negara yang siap berperang.
"Bilang dulu ke ayahnya, Kaf. Sekarang ke tempat makan dulu."
Kaf mengangguk, ia terlihat kecewa.
__ADS_1
Aku tidak tahu aku positif sindrom stockholm atau tidak, tapi ini kali keduanya aku datang ke tempat terapi tersebut. Seperti biasa, aku hanya mengobrol. Setelah selesai, Kaf dan mama Aca mengajakku makan dan pulang ke rumah.
Esok ia sudah akan tugas di Malaysia lagi, tapi sampai sekarang aku belum memiliki ponsel kembali. Aku sudah meminta pada ayah, tapi ayah mengatakan nanti saja jika sudah menjadi istrinya Kaf.
"Kapan aku nikah, Biyung?" Aku bosan dan aku menghampiri biyung yang sibuk di dapur.
"Tanggal tujuh belas, Dek. Kaf tak bilang?" Biyung menoleh ke arahku
Hah? Aku kaget karena Kaf tak mengatakan apapun. Apalagi, sekarang sudah tanggal sembilan.
"Kaf hari ini ke Malaysia." Benar, hari ini adalah sehari setelah aku datang kembali ke tempat terapi mental itu.
"Ya kan bisa pulang lagi, Dek. Nanti entah besok atau lusa pun, mama Aca pasti bawa kau untuk fitting gaun. Satu baju aja katanya, akad langsung resepsi empat jam. Setelah itu, pulang ke rumah."
Kenapa sangat singkat begini persiapannya? Aku takut jadinya, jika menikah dengan buru-buru begini.
"Assalamualaikum…." Wajah Kal tiba-tiba muncul dengan tas yang seperti cooling bag.
Seperti tasnya petugas posyandu. Aku tahu, karena sering ikut mengantar keponakanku ke posyandu.
"Waalaikumsalam." Aku dan biyung menjawab serentak.
Hah? Apalagi ini? Baru juga tenang dari medical check up itu, sudah dikagetkan dengan vaksin saja.
"Aku udah tak usah vaksin aja." Aku memeluk diriku sendiri.
"Nanti dikasih obat, biar tak sakit."
Aku yakin itu hanya akal-akalan Kal saja. Sampai malam harinya, akhirnya aku demam ringan karena vaksin itu.
Singkat cerita, gaun sudah ditentukan dan lain sebagainya aku tidak tahu menahu. Tibalah hari yang membuatku gelisah, sampai aku memikirkan hal-hal setelah menikah saja. Terang saja, karena begitu takutnya dan kacaunya. Bayangkan kenangan tentang Rai tak pernah lagi muncul dan rasanya seperti tidak pernah ada kejadian apapun dengan Rai. Entah karena efek tegang menghadapi pernikahan.
"Akadnya di mana? Aku mau ke mana ini?" Aku bingung karena sudah full make up, tapi keluargaku kebanyakannya pada hilang.
Hanya kak Ra di sampingku. Ia murung saja, mungkin karena kasusnya belum selesai.
"Akad di KUA, Dek. Kaf aja yang akad, memang kau tak diberitahu?" Kak Ra meluruskan pandangannya padaku.
__ADS_1
"Lah, memang boleh? Jauh sekali dong, Kak?" Aku duduk di sampingnya, aku memperhatikan kain penutup wajahku sebelum mengenakannya.
"Perempuannya di Turki, laki-lakinya akad di sini pun boleh. Yang penting, ada walinya perempuannya dan memang udah disepakati." Kak Ra mengatur napasnya setelah ia selesai berbicara.
Aku berada di sebuah gedung milik Kodam TNI AD terdekat dari daerahku. Tentu saja menyewa, bukan karena Kaf memiliki kenalan di sana.
"Untuk sesi foto, mohon nanti dilepas ya penutup wajahnya, Kak." Pihak WO berbicara dengan ramah padaku.
"Lagian kau kenapa sih?! Orang keluarga semua kok. Kakak pernah hadirin temen yang pakai cadar, pas nikah cadarnya dilepas kok. Pakai baju adat daerah kita biasa, bukan pakai gamis dipayet begini." Kak Ra menarik gaunku.
"Ini gaun, Kak. Bukan gamis dipayet." Aku memperhatikan pakaianku.
"Ya sama aja, Dek." Kak Ra mengatur napasnya lagi.
Sepertinya, ia tengah stress sekali sekarang.
"Ada temen-temennya Kaf, Kak. Malu lah aku." Aku sudah terbiasa memakai penutup wajah.
"Teman Kaf juga tak sampai lima puluh, Dek. Kau tak berdosa juga nampak wajah kau." Kak Ra memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Kak, aku takut sama malam pertamanya. Nanti aku harus gimana?" Aku menggoyangkan lengannya.
"Baca doa lah." Kak Ra mendelik tajam. "Jangan nangis yang jelas, Kaf tak mungkin salah masukin ke jalurnya."
Kakakku tidak ramah.
"Kaf besar betul, pasti sesak napas aku nih." Aku sudah membayangkan tubuh besar itu menimpaku.
Saat aku menoleh, ternyata kak Ra memandangku heran. Apalagi dengan kakakku ini? Salah berbicara di bagian mananya?
"Kau tau s**s? Milik Kaf masuk ke milik kau."
Kenapa mulut kak Ra sefrontal ini?
"Tau, Kak. Cuma kan nanti kita ditimpa kan?"
Makin terlihat heran saja raut wajah kak Ra.
__ADS_1
...****************...