Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS22. Pose foto


__ADS_3

"Praktik sendiri nanti malam ya? Aku bukan seorang kakak yang penyabar, ditambah aku lagi banyak masalah. Aku tak mau ngomong apapun sama orang-orang yang mancing emosi aku." Kak Ra memasang tangannya di depan tubuhnya dan berlalu pergi. 


Masa iya aku tidak ditemani? 


"Kak, ikut…." Aku mengangkat sedikit gaunku dan berjalan cepat. 


Namun, tiba-tiba aku melewati sebuah cermin berukuran besar. Rupaku terlihat jelas dari pantulan cermin itu. Selama ini, aku masih bercadar. Di mana dahi dan alisku masih terlihat. Rasa maluku bertambah, aku teringat saat Kaf tiba-tiba masuk ke kamarku. Tidak memakai penutup wajah, rasanya seperti tidak berpakaian. Ditambah hari ini aku akan dipajang di depan keluarga besar, rasanya pasti ditatap dengan pandangan tidak sopan. 


Bagaimana jika setelah hari ini, aku akan meminta izin pada Kaf untuk mengganti seluruh cadarku dengan niqab? Ya, di mana hanya terlihat mataku saja. Dahi dan alisku tertutup rapat, dengan kain tambahan. Niqab tentu berbeda dengan cadar, jika cadar seperti masker wajah, yang menutupi bawah mata sampai ke bawah. 


Dengan begitu aku akan merasa aman dipandang setiap orang, apalagi keluarga suamiku kelak. Ada kakak ipar laki-laki di rumah Kaf, yang sudah pasti aku akan sering mengunjungi rumah mertuaku itu. 


"Dek, sini!" seru kak Ra yang ternyata menungguku. 


Aku merapikan gaun berwarna putih ini. "Iya, Kak." Aku bergegas berjalan menghampirinya. 


"Duduk sini, rombongan mau datang. Udah akad katanya."


Aduh, aku mulai deg-degan. Aku teringat akad nikah kakakku yang kedua, di mana suaminya langsung menciumnya bertubi-tubi. Apa Kaf akan seperti itu? Tapi Kaf kan tahu aku orangnya pemalu. Aku akan marah besar, jika ia berbuat tidak sopan begitu. Aku tidak masalah dicium suamiku, tapi aku tidak suka jika dicium di hadapan orang banyak meski mereka keluargaku. 


"Kaf pakai jas warna apa, Kak?" Aku mencoba mengalihkan pikiranku. 


"Warna putih kan? Kan kau yang fitting sama mama mertua kau, gimana sih?!"


Ya Allah, kakakku ngegas saja. 


Iringan musik ringan mulai, diikuti rombongan yang datang masuk ke dalam gedung. Aku mundur beberapa langkah, kemudian berbalik ke ruangan yang tadi. Aku takut, aku deg-degan, aku panik. Rasanya aku ingin bersembunyi saja. 


"Itu, tuh…." Kak Ra membukakan pintu ruangan, kemudian wajah Kaf muncul dengan menampilkan senyum geli. 


"Kau kenapa balik lagi?" Ia mentertawakanku. 


Jadi rombongannya melihatku yang ngibrit masuk? Aduh, malunya aku. 


"Kaf, malu." Aku menutupi wajahku dengan tangan, meski wajahku tertutup. 


"Sama Ayah aja sini, Yah. Cani malu katanya." Kaf berbicara dengan seseorang yang berada di belakangnya. 


"Tukang fotonya sih? Gimana kau ini?" Ayah muncul, dengan pakcik Ghava juga. 


Pakcik Ghava pemilik studio musik dan video. Meskipun fotografernya pamanku sendiri, tapi aku malu rasanya. 


"Itu Caninya malu." Kaf berjalan masuk mengikuti dua laki-laki di depannya. 


"Foto aja, tak usah video. Agak lama pas cium kepalanya, Kaf." Ayah mendekatiku. 

__ADS_1


"Iya, bentar doa dulu." Kaf berada di hadapanku. 


"Berdiri, Dek." Pakcik Ghava sudah bersiap dengan kameranya. 


Apalagi ini? Kenapa menikah tidak cukup akad nikah saja? Aku lebih rela langsung disuruh menanak nasi setelah akad, ketimbang berfoto-foto begini. 


Kaf berdoa dengan mengusap ubun-ubun kepalaku, ia sepertinya sudah tahu doanya karena ayah tidak membimbingnya juga. 


"Pegang pipinya, cium ubun-ubunnya." Pakcik Ghava memberikan perintah. 


"Jangan kuat-kuat, nanti make up aku nempel di cadar." Aku memegangi tangan Kaf. 


"Ya kali make up MUA transfer ke permukaan yang lain?" Ayah terkekeh kecil. 


"Tahan." Pakcik Ghava sudah membidik pose kami, setelah Kaf mendaratkan bibirnya di ubun-ubunku. 


Ia tinggi, jadi mudah saja untuk mencium kepalaku. 


"Salim, Dek." Ayah memberikan perintah yang membuatku bingung. 


"Memang mau ke mana, Kaf?" Aku mendongak memandang wajah Kaf. 


Mereka bertiga malah serentak tertawa. 


Ohh. 


"Sambil usap kepalanya, Kaf." Pakcik Ghava membantu kami untuk berpose. 


"Aduh, Canda lagi aja nih." Ayah masih asyik tertawa saja. 


Apa ia tidak sedih karena tanggung jawabnya kini diberikan pada Kaf? Ayah malah asyik tertawa saja, aku jadi heran. 


"Tahan." Pakcik Ghava mengambil gambar kami kembali. 


"Udah ya? Fotoin keluarga besar aja, jangan fotoin aku terus." Aku menjaga jarak dengan Kaf, rasa deg-degan mulai semakin terasa dengan laki-laki ini. 


"Pakcik dibooking untuk foto kau, Dek." Pakcik Ghava menepuk bahu ayahku, mereka malah tertawa bersama dengan ceria. 


"Candid aja tuh, Pakcik. Kalau dia lagi nguap, lagi ngelamun, lagi pijat pelipisnya gitu." Kaf tiba-tiba merangkulku. 


"Iya dah, gitu aja. Kalau suruh pose gini, malah tak bagus karena banyak ngeluhnya." Ayah memandangku seperti meledek. 


Aku punya jiwa tersinggungan seperti ayah dan baper seperti biyung. 


"Satu lagi, untuk koleksi pribadi kalian. Buka cadarnya, Kaf." Pakcik Ghava sibuk dengan kameranya lagi. 

__ADS_1


"Jangan…." Aku langsung berlindung di lengan ayah. 


Ayah terpingkal-pingkal, sedangkan Kaf melebarkan matanya dan menyatukan alisnya. Ia seolah kaget dan heran dengan reaksiku. 


Tapi benar, aku malu rasanya. 


"Dek, belum diapai-apain loh." Celetuk Kaf begitu ringannya. 


Apa-apaan ia mengatakan hal seperti itu? Kan aku jadi takut membayangkan jika sampai diapa-apakan olehnya. 


"Untuk foto aja, Dek." Pakcik Ghava tidak jauh beda dengan ayah yang tiba-tiba doyan tertawa. 


"Tak dicium, Dek. Ya ampun, kau ini." Kaf menyentuh lenganku, ia membawaku berdiri dan berada di hadapannya kembali. 


"Dibuka, terus dibingkai wajahnya. Terus, Cani dongak lihat wajah kau. Kau nunduk mandang wajah Cani, Kaf." Pakcik Ghava membantu kami berpose. 


"Jangan merem, Dek. Dikiranya Kaf jelek apa ya?" Pakcik Ghava membuatku malu saja. 


"Kau tak tau kan, kalau anak pejabat ngejar-ngejar dia? Bersyukur kau malah dikejar-kejar Kaf." Pakcik Ghava memasang jemarinya di depan wajahku, ia memasang wajah jeleknya.


"Ngaco Pakcik ini." Kaf menyingkirkan jemari pakcik, kemudian ia menyentuh kedua pipiku. 


Aku memandang wajah suamiku ini, hidungnya tinggi dan kokoh seperti hidung Shahrukh Khan. 


"Tak dengar aku kabar itu." Sepertinya ayah fokus ke bualan pakcik Ghava. 


Aku tidak menganggap hal itu benar, tapi reaksi wajah Kaf seperti tidak suka dengan candaan mulut pakcik Ghava. Apa hal itu benar? 


"Rere ada cerita, tak tau betul tak. Betul tak sih, Kaf?"


Rere adalah anaknya om Dendi. Om Dendi adalah partner kerja pakcik Ghava. 


"Ah, ngomong apa sih Pakcik ini?" Ekspresi Kaf datar, tapi terlihat seperti badmood. 


"Udah belum sih, Pakcik?" Aku ingin menyudahi foto-foto seperti ini. 


"Jangan main-main perempuan ah, Kaf. Gila aja kau, mana bisa Cani ngadepin masalah begitu." Ayah setengah sewot. 


"Tak, Yah. Kalau mainan perempuan, bakal lambat aku dapat titel. Nanti minta jemput lagi, minta antar lagi, belikan ini belikan itu, tiga puluh tahun aku nanti dapat spesialis." Kaf membantu menutup wajahku kembali. 


Benar tidak ya? Aku takutnya malah masa lalunya belum selesai. Aku pernah mendengar sedikit cerita bahwa pacarnya Kaf yang mendonorkan darah untuk almarhumah kakak ipar, yaitu istri pertamanya bang Chandra. Tapi tidak tahu juga, kejadian itu saat aku masih SMP kalau tidak salah. Ditambah, aku mendengar kabar itu setelah besar dan setelah dikhitbah oleh Kaf. 


Aku kini memiliki khawatir jika anak pejabat itu mengganggu Kaf. Ditambah dengan sekarang hari pernikahan kami, apa mungkin kurang lebih lima puluh undangan untuk teman-temannya Kaf itu salah satunya adalah mantan pacarnya itu? 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2