Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS26. Cerita penghantar tidur


__ADS_3

"Mau ke mana, Bang? Aku ngantuk, tak bisa tidur-tidur," rengekku kemudian.


Aku kesal, aku mengantuk sedari tadi tapi aku sulit tidur. Aku sudah turun dari ranjang, keluar kamar dan memanggil ayah. Tapi ayah tengah sibuk, ia tengah ada tamu yang katanya tamunya itu adalah kuasa hukum kepercayaan keluarga besar. 


"Ambil beberapa baju di rumah mama, sambil ngerokok." Kaf tetap tidak memakai baju setelah rambutnya basah itu, ia memakai celana jeans yang tadi juga. 


"Temenin aku tidur dulu, Bang. Ayah sibuk." Air mataku meleleh, karena lelahnya badan dan sulitnya terpejam. 


"Gimana sih nemenin tidur tuh? Seriusan ini? Jadi, dari tadi tuh tak merem-merem?" Kaf tengah menyisir rambutnya. 


Rambutnya hitam pekat. 


"Ya Abang rebahan aja di samping." Aku merasa tidak tenang, tidak ada yang menemani tidurku begini. 


Saat hilang, untungnya ada Rai yang menemani. Tapi ya sudahlah, jangan mengingat Rai. Kenangan apapun dengan Rai terlupakan, saat aku memiliki banyak kesibukan kemarin. Masa sekarang sudah bersuami, malah teringat dengan laki-laki lain. 


"Ampun, padahal mulut asem udah pengen ngerokok." Ia berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya di sampingku. 


"Abang suka operasi dadakan tak kalau tugas? Aku gimana, kalau Abang tugas? Tidur sama siapa?" Aku sudah membayangkan kerepotannya. 


"Ya beberapa kali dadakan, kalau ada hal yang darurat. Adek mau ikut berdoa sama keluarga pasien? Kalau mau, ya Abang ajak." Ia berbaring menyamping, dengan tangannya yang hinggap di perutku. 

__ADS_1


Aku mencari posisi nyaman, aku memutuskan untuk menghadap ke arahnya. "Kasus apa aja kalau dadakan? Aku takut malah ikut nangis bareng keluarga pasien." Aku memeluk guling sebagai sekat.


Kaf terkekeh kecil. "Kecelakaan biasanya, terus misalkan usus buntu pecah, pernah juga datang pasien kondisi udah parah dan sebelumnya belum ada pemeriksaan. Kalau operasi itu, tak aku sendiri. Ada dokter spesialis lainnya, yang ikut operasi juga. Untuk masalah bius pun, ada dokter khususnya, Dek. Jadi kita pegang peran masing-masing, pasien itu pernah sampai dikerubungi dua puluh dokter dan perawat. Operasi transplantasi organ paling makan waktu, pernah ikut ditarik untuk operasi transplantasi jantung. Masya Allah, habis waktu dua puluh jam. Sekalinya pernah ngerasain gagal operasi, operasi sederhana padahal, aku langsung butuh psikiater. Tak bisa tidur, merasa bersalah terus. Sampai minum obat psikotropika yang diresepkan psikiater tiga mingguan, baru bisa stabil lagi. Sampai kurang darah, sampai mimisan, orang sehat ngerasa ngedadak sakit. Jadi mikirin, gimana mental dokter jaga IGD."


Aku nyaman mendengar mulutnya bercerita. 


"Berapa kali gagal operasi pasien, Bang?" Mataku sudah terasa berat dan nyaman. 


"Satu kali, waktu itu operasi nenek tua yang bungkuk begitu. Kata keluarganya itu, perutnya selalu diikat setiap kali ngeluh sakit perut. Tak taunya, ususnya bermasalah intinya. Susah jelaskan dengan pemahaman medis, nanti kau ngeng ngong." Tangannya menarik kerudung dari bagian daguku. 


"Meninggal pas di meja operasi?" Aku mengagumi suaranya yang seperti aliran air yang menenangkan. 


"Tak, rusak nanti akreditasi rumah sakit kita. Kalau misalnya ada pasien yang meninggal di meja operasi, biasanya ada pihak yang menelusuri lebih lanjut. Ini apa betul murni kondisi pasien yang lemah, atau mengalami stress berat karena tidak siap harus dioperasi, atau memang tenaga medisnya. Soalnya pernah ada kasus, aku tak bisa sebutin nama rumah sakitnya, tapi yang jelas terjadi di luar negeri. Jadi itu kasusnya ditinggal makan siang sama dokternya, jadi pasien yang umurnya udah tujuh puluh dua tahun itu meregang nyawa di meja operasi. Kita tak bisa main-main sama profesi tenaga medis, tanggung jawabnya dunia akhirat. Di dunia kalau gagal diperiksa, di akhirat ditanya pula."


Kenapa lagi pak dokter ini mengusap-usap alisku, kan nyaman sekali rasanya. 


"Pasien yang meninggal, yang buat Abang butuh psikiater itu, dia meninggal di mana?" Mataku sudah terpejam, tapi telingaku masih sanggup mendengar. 


"Meninggal pas dipindahkan ke ruang ICU. Aku tau, jadi mental aku drop sendiri. Makanya mikir ulang kalau nanganin pasien sepuh tuh, selain resikonya besar, jadinya trauma takut gagal. Rumah sakit pakwa di sana, hampir tak pernah ada kasus meninggal di ruang operasi. Pokoknya bagus lah, meski dibilang rumah sakit elit. Sebenarnya bukan karena elit, tapi yang bekerja di sana tenaga profesional semua. Dokter juga bukan keluarga sendiri aja, kek rencana di rumah sakit ini. Dokter yang kerja di sana ada dokter yang dari Swiss, ada yang dari USA. Ditambah obat-obatannya khusus, makanya tak bisa dicover asuransi kalau nebus obat di sana. Perbutir itu, ada yang sampai tujuh juta. Misalkan efek samping obat sih, ya mungkin sama aja. Tapi jangan sampai sakit, Dek. Tak enak orang sakit tuh, uang banyak keluar cuma untuk sehat aja. Makanya jaga kesehatan, jaga apa yang masuk ke mulut kita. Jangan pengennya mie ayam bakso ceker terus. Ngerti tak?" 


Aku merasakan usapan lembut di area hidung bagian atas. Aku mengangguk samar sebagai respon, lalu aku seperti dipindahkan ke tumpukan awan yang sangat lembut, empuk dan nyaman. Aku pulas, mendengar ocehan mulut dokter spesialis bedah ini. 

__ADS_1


Pagiku disambut dengan geli di area hidungku, aku tak henti-hentinya bersin karena wewangian yang asing di hidungku. Apa ini parfum suamiku? Tapi apa ya sudah terbangun segelap ini? 


Aku duduk dan menggosok hidungku, dengan mencari keberadaan jam dinding yang sudah tidak di tempatnya lagi. Untungnya tidak tersembunyi, jam dinding itu ada persis selurus dengan ranjang tidurku. 


Pukul empat lebih lima belas pagi. 


Berarti ini bukan wangi parfum suamiku, karena orangnya masih pulas tanpa memakai kaos. Kulit hitamnya terlihat kontras di sprei dan selimut yang berwarna putih ini, napasnya teratur dengan wajah yang teduh. 


Ia tidak nampak galak dan keras. Semoga sifat aslinya tidak ada yang membuatku takut pada suamiku sendiri. 


Ya ampun, aku baru menyadari jika letak barang-barang di kamarku semuanya berubah. Bahkan, aku merasa kehilangan rak penyimpanan tas dan sepatuku. Ke mana hilangnya? Apa pak dokter ini menjualnya untuk menambah fasilitas rumah sakit keluarga? 


Oh, ya. Pantas saja parfumnya menyengat sekali. Ada pewangi ruangan otomatis yang terpaku di bawah pendingin ruangan yang berada di bawah jendela besar kamarku. Tepatnya, di bawah jam dindingku. 


Aku merasa kamarku kekurangan barang, atau memang banyak yang harus tereliminasi dari pandangan pak dokter ini. Aduh, aku baru ingat jika mama Aca pernah mengatakan bahwa anak tirinya ini seorang yang perfect dan tidak suka perabotan yang berjejer di kamarnya karena mengganggu pandangannya untuk mendapatkan rasa nyaman agar bisa terlelap. 


Jadi, ia bekerja keras semalam merubah isi kamarku? Aku baru tahu hal baru yang benar-benar nyata dari sifat aslinya. Pasti selalu ada hal baru, yang menjadi kejutan di setiap hari-hari pertamaku menjadi istrinya. 


Semangat, aku harus bisa menyesuaikan diri. Awan yang orang tuaku pilihkan ini, rasanya tidak buruk untuk aku warnai setiap harinya. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2