Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS17. Pertanyaan-pertanyaan Kaf


__ADS_3

"Aku antar Cani pulang dulu, Ma." Kaf menggandengku kembali, begitu turun dari mobil. 


Laki-laki ini sekarang lebih agresif, ia selalu main gandeng-gandeng saja. 


"Oke." Mama Aca meninggalkan halaman rumahnya, ia berjalan ke arah rumah bang Chandra. 


Mungkin beliau ingin mengembalikan Akandra. 


"Dek, aku mau ngomong." Kaf mengajakku duduk di ruang tamu rumahku, setelah pintu utama terbuka. 


"Ngomong apa?" Aku menaruh curiga, jangan-jangan ia mendengar pembahasanku dengan Rai saat di klinik lagi. 


Jangan-jangan, tadi ia hanya berpura-pura kalap mencariku. Padahal, ia tahu aku di dalam dan menguping pembicaraanku dengan Rai. 


"Santai aja, aku cuma mau nanya. Tapi tolong, jawab jujur ya?" Ia menepuk-nepuk punggung tanganku dan ia tersenyum manis. 


Yang ada aku deg-degan. 


"Mau nanya tentang apa?" Mungkin mataku tidak bisa berbohong akan kecemasanku dengan pertanyaan Kaf. 


"Bukan tentang kita, santai aja. Aku ngerasa ada yang janggal aja, mungkin perlu ditindak lanjuti." Ia mempertahankan senyum, seolah agar aku tenang. 


Keningku mengkerut. "Apa ini tentang kesehatan aku?" 


Kaf manggut-manggut. "Aku rasa, mungkin iya."


Waduh, apa ya? Aku merasa sehat terus. 


"Jawab aja ya?" Ia mengambil sebuah bantal dan menaruhnya di atas pangkuanku. 


Ia seperti membuatku serileks mungkin. 


"Apa, Kaf?" Aku masih belum bisa mengalihkan perhatianku darinya. 


"Kau teringat kejadian pas kau hilang kemarin?"


Aku merasa, pertanyaannya ini mengarah ke Rai. Apa ia cemburu? Atau ia ingin mengorek tentangku dan Rai? 


"Oke, gini aja. Jawab dengan anggukan ya? Aku pengen hidup kita nantinya bahagia, aku pengen masalah ini pecah bukan di saat kita udah bersama. Tak lama lagi, sembari nunggu masjid mahar untuk kau dibangun, aku harus tugas kembali. Yang artinya, nanti lama kita tak ketemu sampai menjelang pernikahan." 


Kaf menuntut jawaban. 


"Kenapa harus bahas hal itu? Kenapa tak kita bahas pernikahan kita aja?" Aku tak ingin membuka masalah baru dengan Kaf, apalagi ini gara-gara Rai. 

__ADS_1


"Dek Cani, aku sayang sama kau. Ini menyangkut segala hal, termasuk kesehatan kau sendiri. Yang paham, aku pengen di masa tuaku ada yang nemenin."


Aku tidak mengerti maksudnya, tapi apa hubungannya dengan pertanyaannya dan masa depan kita? 


"Lebih jelasnya gimana?" Aku merasa belum mengerti maksud pembicaraan Kaf. 


Kaf menarik napas panjang dari hidung, kemudian mengeluarkannya perlahan dari mulutnya. Ia melakukannya berulang, sampai ART rumah masuk keluar untuk menyapu dan sampai masuk lagi. 


"Aku rasa, mental kau tak baik-baik aja. Korban penculikan, penyanderaan, pencurian, perampokan, pemerkosaan, pelecehan, bully, kekerasan dan KDRT juga biasanya butuh terapi mental khusus. Maaf, bukan maksud buat kau tersinggung, tapi keknya ayah luput dari hal itu karena permasalahan lain langsung datang. Atau mungkin juga, wawasannya kurang untuk menangani kasus yang baru pertama kali terjadi di keluarga besar kita ini." Kaf berkata tenang dan perlahan, seperti menjelaskan sesuatu yang berat pada pasiennya. 


"Jadi, aku kenapa?" Aku merasa baik-baik saja, aku tetap bisa terlelap pulas. 


"Ya makanya aku tanya dulu nih, jawab jujur biar aku bisa memastikan. Kalau memang tak, ya tak usah dilanjut ke pemeriksaan lanjutan. Kalau memang iya ada indikasi, aku bakal arahin langsung sesuai prosedurnya."


Apa ini akal-akalan Kaf saja, agar ia bisa mendengar jawaban jujurku? Tapi, aku merasa ia serius. 


"Aku kenapa sih memangnya, Kaf?" Aku mulai gelisah dengan kondisiku sendiri. 


"Iya, jawab aja." Kaf menarik napasnya. "Anggukan kepala aja kalau gugup, tapi aku mau kau jujur." Ia tersenyum manis kembali. 


Aku mengangguk, aku mencoba mengikuti Kaf karena mana tahu ini penting untuk kedepannya. 


"Apa kau sering teringat kejadian pas kau hilang kemarin?" Pertanyaan pertama sudah keluar dari mulutnya. 


"Kau merasa tidak percaya akan sesuatu? Ini kompleks sih, bisa tentang bahwa kau udah kembali, bisa tentang kau tak percaya fakta yang Rai ucapkan. Contohnya gini, Rai penjahat, Rai DPO dan Rai benci sama kau. Kau tak percaya fakta itu."


Aku mengulang kembali kalimat Kaf, rasanya masih bingung saja. Aku tak percaya fakta yang Rai ucapkan katanya? Ah, tidak juga. Tapi rasanya aku perlu memastikan sendiri, seperti saat tadi di ruang inapnya. Tapi ada benarnya juga, aku merasa Rai bukan penjahat, ia terlalu baik dan terlalu lembut. 


"Mungkin iya, mungkin tak juga." Aku masih ragu dengan jawabanku sendiri. 


"Oke, dikupas aja. Kau ini dibegal, terus diculik. Rai itu penjahat yang tega misahin kau dari keluarga kau, dia tak mikirin masa depan kau. Bener kan?" Kaf mengarahkan telunjuknya dan terdiam sejenak. 


Aku menggelengkan kepala. "Dia baru pertama kali begal aku, dia takut untuk kabur sendiri dan kita kesasar bareng." Aku rasa kesimpulan Kaf terlalu berlebihan. 


"Nah, ada pembelaan dan kau memandang positif hal itu. Ini yang menjadi poin yang aku cari." Kaf menjentikkan jarinya. 


Berbicara apa ia? Rasanya tidak sampai ke otakku. 


"Kau jengkel ke orang yang berpendapat tak sama kek kau tentang Rai? Jawab dengan anggukan." Kaf fokus sekali memandangku, ia amat menunggu jawabanku. 


Ya memang aku agak jengkel dengan kesimpulan Kaf barusan tentang Rai. Rai tidak seperti yang ia katakan, ia pun tak menginginkan jadi penculik. 


Aku mengangguk mantap. 

__ADS_1


"Oke, jawab lagi ya?" Kaf mengusap-usap dagunya. 


"Kau gelisah dan cemas dengan Rai?"


Pertanyaannya cukup menjebak, aku takut ia cemburu dengan jawabanku. Tapi seolah ia tahu semua tentang apa yang aku rasakan, ini benar berkaitan dengan medis atau memang karena ia mendengar percakapanku dengan Rai? 


"Kok mikir? Rasanya gimana loh, Dek Cani." Ia mencolek pipiku yang terlapisi penutup. 


Ia terkesan santai, tapi aku takut ia tiba-tiba menjauhiku. 


"Kenapa sih nanya itu?" Aku memalingkan pandanganku sejenak. 


Aku gugup. 


"Tak apa, jawab aja. Nanti pulang makan siang aku bawakan mie ayam bakso ceker."


Segala ia memberi iming-iming. 


"Kaf, serius ih. Aku tak suka ditanya-tanya begitu." Aku bersedekap tangan. 


"Aku janji cuma sebatas nanya itu aja, biar aku bisa menyimpulkan. Nanti aku lanjutinnya enak." Kaf menarik tanganku yang terlipat. 


"Lanjutin apa? Pernikahan kita? Mau digagalin gitu?" Aku langsung kepikiran tentang ayah dan papah Ghifar. 


"Tak lah, Dek. Untuk pemeriksaan lanjutan." Ia terkekeh kecil. 


"Aku tanya ulang ya? Kau gelisah dan cemas sama Rai?" tanyanya ulang. 


Aku menarik napas panjang, kemudian menganggukkan kepalaku cepat. 


"Oke, makasih atas jawabannya. Semoga masih bisa diobati, semoga cuma sindrom ringan aja." Kaf merangkulku, kemudian mengusap lenganku. 


"Aku gila???" Aku menoleh ke arahnya dengan suasana hati yang meradang. 


"Hah? Masa?" Ia malah melebarkan matanya. 


"Loh!" Aku mencoba mencubit perutnya, tapi terasa keras dan kencang. 


Apa begitu rasanya otot perut yang jadi? Aduh, kok pikiranku sudah membayangkan Kaf yang tidak memakai baju?


"Kemungkinan kau terkena sindrom…….


...****************...

__ADS_1


__ADS_2