
"Eh, dokter cabul ya kau, Kaf?! Ngapain kau undang Dayana?" Bang Chandra naik ke pelaminan kami, ia langsung menunjuk wajah Kaf.
"Mana aku undang dia, coba tanya Ra. Dia bantu list daftar temen aku kok. Temen di kampung ini, dua puluh orang. Temen di kuliah, sepuluh orang. Temen dokter, tujuh orang. Udah, sisanya keluarga besar semua. Anak makcik Icut, anak menantu pakcik semuanya." Kaf berdebat dengan bang Chandra dengan suara yang tidak nyaring.
"Ngapain dia ke sini-sini tuh?" Bang Chandra menunjuk ke arah penerima tamu, ada seorang perempuan menggandeng anak, perempuan tersebut tengah menulis di buku tamu.
"Tak paham aku, Bang." Kaf mengedikkan bahunya.
"Kok teman kau banyak, Kaf?" Aku menoleh memperhatikan wajahnya yang terlihat tegang.
Bang Chandra memandangku juga, seperti Kaf.
"Banyak apanya? Tiga puluh tujuh kok banyak?" Kaf duduk di kursi pelaminan kami, dengan mengendurkan dasinya.
"Teman KKN pun aku tak akrab semua, cuma kenal dekat sama satu orang." Aku ikut duduk di sampingnya juga.
"Kau memang tak punya teman kek biyung." Bang Chandra berkata sinis, kemudian turun dari pelaminan kami.
Teman baikku hanya ayah, biyung dan keluargaku saja.
Pandangan Kaf lurus ke depan, seperti memperhatikan tamu yang datang. Yang paling menghiasi pernikahan kami adalah kelima anak bang Chandra, mereka membuat kursi tidak beraturan dan menyerbu bolu pernikahan kami.
Biarkanlah, toh aku ingin cepat pulang untuk beristirahat.
"Aduh, sialan!" Kaf seperti kesal sendiri, dengan memukul pahanya sendiri.
"Mama sama Biyung mau foto, Dek. Turunkan dulu cadar kau." Mama Aca naik ke atas pelaminan kami dengan diikuti oleh biyung.
"Cani malu katanya, Ma." Kaf merangkulku.
"Sebentar." Mama Aca dan biyung bersiap di samping kami.
Arah pandangan Kaf mengarah pada perempuan yang berada di tangga pelaminan, perempuan itu yang tadi mengisi buku tamu. Ia urung naik, karena dicegah oleh pihak WO karena kami tengah berfoto.
Jadi, siapa Dayana? Jika memang Kaf tidak mengundang Dayana, harusnya ia tidak bisa masuk ke gedung pernikahan kami. Yang datang ke sini, harus membawa undangan pernikahan kami. Hal itu pun tertulis di bagian belakang undangan pernikahan kami, untuk membawa undangan ketika datang.
"Boleh posting ya?" Mama Aca mengambil ponsel yang diulurkan oleh pihak WO.
Ternyata fotonya tidak hanya menggunakan kamera fotografer, tapi dengan ponsel juga.
"WA aja, Ma." Kaf merangkulku kembali untuk duduk.
Kemudian, ia memasang kembali penutup wajahku.
__ADS_1
"Oke." Mama mertuaku dan ibuku turun dari pelaminan.
Centil sekali mereka ini, suka sekali berfoto.
"Cantik ya, pantesan sampai lupa?" Perempuan yang menggandeng anak kecil itu sudah berada di hadapan kami.
Aih, jadi ia tetap lanjut naik ke pelaminan?
"Alhamdulillah, tabarakallah." Kaf berdiri kembali, aku pun mengikutinya juga.
Lelah sekali berdiri duduk berulang kali. Ini hanya tamu terdekat saja dan keluarga, bagaimana rasanya jika seperti orang-orang yang sampai mengundang ratusan orang?
"Selamat ya?" Ia melewati untuk bersalaman denganku dan malah ingin memeluk Kaf.
Apa-apaan ini? Ia tidak berattitude sama sekali.
Kaf menahan perempuan tersebut, kemudian menjadikan tubuhku untuk menutupi tubuhnya.
"Iya, makasih," sahut Kaf kemudian.
"Kau kenapa begitu? Kau lupa tentang kita?" Perempuan itu terlihat marah dengan sikap Kaf.
"Kak…." Kaf melambaikan tangannya pada pihak WO perempuan yang membantu pemotretan foto candid keluarga besar.
Bukan pihak WO yang mendatangi tamu perempuan ini, tapi mama Aca. Mama Aca tersenyum ramah, kemudian merangkul perempuan itu pergi.
Apa mama Aca mengenal perempuan ini?
"Jangan dianggap, Dek." Kaf duduk kembali di kursi kami.
Aku menoleh ke belakang, untuk melihat keberadaan kursi pelaminan kami. Kalau aku asal duduk, bisa-bisa aku duduk di pangkuan Kaf.
"Siapa dia?" Aku duduk sedikit serong ke kiri, agar jelas melihat wajahnya.
"Dayana," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
"Dayana Fiki Kazakhstan?" Aku memperhatikan wajahnya yang terlihat kacau.
Entah apa yang dirasakan suamiku ini. Aku tidak tahu akadnya, rasanya seperti belum jadi istrinya. Tapi ya sudahlah, masa iya ayahku berbohong tentang pernikahanku? Kan tidak mungkin.
"Siapa dia?" Kaf menoleh dan menaikkan satu alisnya.
"Dayana," jawabku kemudian.
__ADS_1
"Heh? Gimana maksudnya?" Dahinya mengkerut.
"Dayana Fiki Kazakhstan itu," terangku kemudian.
"Yang itu?" Kaf menunjuk mama Aca yang mengajak tamu perempuan tadi berjalan keluar.
"Iya kali, katanya itu Dayana?" Aku mengedikkan bahuku.
"Tapi namanya bukan Dayana Fiki Kazakhstan, Dek." Kaf memandangku bingung.
Kita membicarakan apa memangnya?
"Memang aku bilang dia Dayana Fiki Kazakhstan?" Giliran dahiku yang mengkerut.
"Ish!" Kaf menepuk pahanya sendiri. "Kau buat aku bingung aja." Kaf berbicara lirih dan menggelengkan kepalanya berulang.
Suamiku tidak jelas, apa aku yang membuatnya bingung? Tapi aku pun bingung juga.
"Memang apa sih?" Aku tertawa, sampai bahuku bergetar.
"Namanya Dayana, tapi bukan Dayana Fiki Kazakhstan. Gitu, Cani." Kaf merangkulku, menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Si Dayana Fiki Kazakhstan juga namanya bukan Dayana Fiki Kazakhstan, Kaf. Namanya tuh. Dayana juga." Aku menegakkan kepalaku dan memandang wajahnya kembali.
"Terus kenapa ada tambahan Fiki Kazakhstan? Dayana yang kau maksud sama tak sama Dayana yang barusan ke sini?" Kaf menunjuk lantai pelaminan kami yang bercahaya dan bagai berada di atas air, karena menggunakan lantai seperti akuarium.
"Fiki itu orang Indonesia, pacarnya Dayana. Asalnya Dayana dari Kazakhstan, Kaf. Mereka artis Ome TV. Tapi tak jodoh keknya, lupa-lupa ingat aku cerita mereka," jelasku kemudian aku mengedikkan bahuku kembali.
"Ohh, gitu. Kalau tadi namanya Dayana, dipanggil dek Yana dulunya. Anaknya pejabat tinggi lah dia itu," ungkapnya kemudian.
Heh, apa katanya? Anak pejabat? Apa Dayana itu yang dimaksud pakcik Ghava saat memotretku di ruang make up tadi?
Jadi ia masa lalu Kaf? Jadi ia mantan pacar Kaf? Jadi perempuan itu yang kehadirannya membuat bang Chandra menegur Kaf? Jadi ia pacar Kaf yang mendonorkan darahnya untuk almarhumah kakak iparku?
Katanya ia tidak diundang ke sini? Lalu kenapa ia nekat datang? Apa ia ingin mengatakan sesuatu? Atau ia ingin merusak hari pernikahanku dengan Kaf?
Ditambah dengan mood Kaf yang terlihat buruk, ia pun banyak menunduk dan kurang tersenyum sejak kedatangan Dayana. Apa Kaf menyesal dan malu menikah denganku? Atau buruknya, Kaf menjanjikan Dayana untuk ia nikahi, tapi ia malah memilih untuk menutup aibku? Lebih parahnya lagi, atau anak yang Dayana gandeng itu adalah anaknya Kaf?
Tapi, Kaf tidak sumringah melihat anak kecil itu. Anak kecil itu pun tidak mirip Kaf, ia seperti orang Chinese. Sedangkan tahu sendiri, Kaf hitam manis dan hidungnya terlampau kokoh seperti Shahrukh Khan.
Aku jadi semakin penasaran dengan ini semua.
...****************...
__ADS_1