Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS30. Kamar hotel


__ADS_3

"Kenapa nanya-nanya, hayo??? Kan udah dibilang, mulutnya tak usah dianggap." Ia menggandeng tanganku kembali, begitu lift sudah berhenti dan pintunya terbuka. 


Kaf melihat kartu yang ia genggam, kemudian melangkah mantap lurus ke depan. 


"Jadinya penasaran." Aku mengikutinya. 


"Aku tak pernah buka hati untuk perempuan lain, karena kan udah punya anaknya ayah Givan yang dijadikan tujuan. Terus juga pendidikan dokter itu bukan hal mudah, apalagi aku nih ngebut dengan alasan pakwa takut umurnya tak panjang dan biar ada yang meneruskan usaha pakwa sepeninggalan pakwa. Bukan tak ada waktu nyantai, buktinya nongkrong ngopi sama temen pun ada waktu meski tak setiap hari. Kata mama Aca, rasanya perempuan kan gitu-gitu aja. Kata mama Aca, perempuan kan ujian hidup juga. Kata mama Aca juga, kalau aku tak kaya, jangan ajak perempuan untuk hidup susah. Mama Aca alumni perempuan ekonomi lemah, jadi dia tak mau anak laki-lakinya buat perempuan lainnya susah. Aku selalu minder kalau soal uang, sampai pendidikan setinggi ini kan uang orang tua semua. Tau kok orang tua aku kaya, tapi aku tak mau tak bisa jadi apa-apa, aku tak mau tak bisa diandalkan orang terdekat aku. Aku kelak jadi laki-laki, aku punya harga diri dari profesiku, aku yakin aku bakal dihormati istri aku kalau aku bisa diandalkan dalam hal ekonomi. Lagian, belum pernah ada ceritanya ngerebut warisan itu jadi kaya. Buat dagang, katanya pasti bangkrut. Dibelikan harta, pasti habis. Ujung-ujungnya uang habis sama perempuan, paling ujung-ujungnya uang habis tak terarah. Coba lihat orang tua kita, mereka tak ada yang berebut warisan. Ayah apalagi? Sampai nolak. Warisan bagian nenek dan kakek kita kan ujung-ujungnya dikelola bersama, diarahkan untuk bangun asrama santri, mengikuti ide ayah Givan yang awalnya punya ide itu. Dibangun rumah sakit, invest ke rumah sakit pakwa, untuk bangun masjid, ini itu segala macam fasilitas warga yang diperlukan. Irigasi air kotor warga bukan dari desa, itu dari hasil ladang nenek dan kakek. Coba aja dilihat, anak nenek dan kakek itu semuanya berpendidikan. Semuanya terarah dan semuanya punya usaha masing-masing, meskipun awalnya dari modal orang tua."


Tapi apa benar ya ada laki-laki selurus ini? 


"Masa iya Abang tak pernah ngerasain masa-masa nakal?" Kami sudah sampai berada di ujung koridor, kemudian memilih jalur kanan. 


Seram ya ternyata hotel itu, sepi sekali. 


"Pernah, makanya lebih memfokuskan diri untuk pendidikan aja. Karena dikasih tau semua resikonya sama mama Aca, kalau aku lanjutin kenakalan aku. Panutan mama tiri kek mama Aca itu, meski banyak yang tak bisa dicontoh." Ia mengulas senyum bangga. 


Kira-kira apa ya kenakalannya? 


"Nakal apa, Bang? Pernah pesantren juga kan?" Aku sedikit heran dengan orang-orang yang memiliki ilmu agama tinggi, tapi tetap bermaksiat. 


Aku tidak merasa diriku suci juga, tapi rasa maluku terhadap Tuhanku begitu besar. 


"Iya, SMP di pesantren modern. SMA tuh sekolah paket kalau tak salah, jadi cepet naik ke jenjang kuliah, ini itu. Makanya di umur sekarang udah punya titel." 


Eh, tapi kok bisa ya ia memiliki profesi yang bagus meskipun sekolah paket? 


"Sampai deh, ayo kita masuk." Ia berhenti di kamar nomor 123.


Aduh, runyam sudah. Aku yakin ia tidak mengajak pacaran seperti di sinetron, di mana ia memberikan bunga dan berbicara tentang hal romantis saja. 


"Pipis dulu, wajib. Dekhem pelan setelah habis pipis ya, mana tau air pipisnya sisa di saluran pipis. Nanti aku pijat dulu area bibirnya, biar pas meregang tak pedih dan tak luka setelahnya."


Hah? 

__ADS_1


Langkah kakiku mogok di belakang pintu yang telah tertutup setelah kami masuk ke dalam ruang kamar. 


Apa katanya? Ada lukanya segala? Kenapa aku harus dibuat luka sih? 


"Jangan sampai luka, nanti aku ngeciriin dan ayah tanya, gimana?" Pikiranku sudah kacau. 


"Semua perempuan pasti ngerasain hal ini, Dek." Kaf meraih tanganku dan mengajakku berjalan ke arah ranjang. 


Ohh, kalau paket honeymoon itu ada mawar-mawarnya di ranjangnya? 


"Nanti malam kan kita…. Anunya." Aku malu menyebutkannya. 


"Malam? Kan tak boleh nginep kata ayah. Booking sih sampai siang besok, tapi kalau siang nanti kita udah bersih lagi ya pulang aja tak apa. Terus kita belanja-belanja, beli HP untuk Adek untuk komunikasi kita." Senyumnya menenangkan sekali. 


Tapi aku tahu ia seperti itu karena ada maunya. 


"Kan namanya malam pertama?" Aku melangkah pelan, agar lama untuk sampai ke ranjang. 


Meski mustahil, karena ranjang tersebut ada di hadapanku. 


"Takut kah?" Ia membuka penutup wajahku, kemudian menggenggam tanganku. 


Aku memandangnya, kemudian tertunduk dan mengangguk. 


"Aku pasti lembut, Dek. Aku beli sesuatu juga nih." Ia membuka tasnya dan mengeluarkan kantong plastik berwarna putih susu bertuliskan 'semoga lekas sembuh' itu. 


"Ini pelumas, yang ini gak buat iritasi. No parfum, pH-nya juga aman. Ini salep, nanti dipakai setelah kau mandi, nanti aku pakaikan biar lecetnya tak sampai iritasi. Aku belikan obat untuk diminum, sebagai pereda nyeri. Nanti lanjut suplemen kesehatannya yang semalam aku kasih ya?" 


Aku mantuk-mantuk saja, aku seperti tengah mendapat resep obat dari dokter. 


"Sekarang pipis, gantian." Ia melepaskan kerudungku. 


Hmm, aku malu. Meski semalam dan Subuh tadi ia sudah melihat rambutku, tapi rasanya masih malu aja. 

__ADS_1


"Aku jelek ya?" Rambutku keriting, tidak lurus. 


Biyungku berambut keriting, aslinya.


"Cantik kok, wangi lagi." Ia mencium leherku. 


Aku berkeringat, aku takut ia ilfeel. Namun, rasanya geli sekali. 


"Jangan begitu." Jantungku mulai tidak aman. 


Apa rasanya geli seperti itu? Wajar kah? 


"Gih." Ia bangkit dan membukakan pintu kamar mandi. 


Ia seperti tahu semua letaknya. 


Aku mematuhi perintahnya. Tak lupa, aku mengusap dengan tisu, sebelum memakai pakaianku kembali. 


"Udah?"


Aku kaget, karena saat membuka pintu kamar mandi ada dirinya yang berdiri di depan kamar mandi. 


"Sebentar ya?" Gantian ia yang masuk ke dalam kamar mandi. 


Aduh, makin tidak karuan rasanya hatiku. Bagaimana, kalau rasanya menyeramkan? Bagaimana, kalau rasanya membuatku trauma? 


"Hai, kenapa?" Tiba-tiba ia memelukku dari belakang, kemudian tangannya meraba apa yang ada di tubuhku. 


Yang benar begitu? Rasanya geli sendiri. Tangannya dua, tapi bisa ke mana-mana. 


"Tegang betul sih." Ia terkekeh dan mencium leherku kembali dari belakang. 


Ya Allah, semoga ada adegan di mana ayah mengetuk pintu dan menjemputku. Rasa takutku semakin menguasai. Aku takut suamiku ini gelap mata terpengaruh minatnya, karena napasnya saja sudah sangat beda. 

__ADS_1


"Mau pulang aja." Bibirku rapat, aku mencoba tidak menangis lepas karena ketakutanku. 


...****************...


__ADS_2