Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS25. Komitmen Kaf


__ADS_3

"BAAAAAA…." Seseorang membuka pintu kamar dan langsung lompat dengan memamerkan dada bidangnya. 


"KAF!" teriakku cepat. 


Aku langsung menutupi diriku dengan selimut, aku takut dengan dirinya yang sudah tidak memakai kemeja. Apa nanti ia akan mengeksekusiku malam ini? Tapi kan ia paham bahwa aku ini lelah. 


"Cium ah, cium." Tempat tidur yang empuk ini bergerak sedikit, kemudian selimutku disibak perlahan. 


"KAF!" Aku selalu tidak merasa tenang dengan pergerakannya. 


"Abang, Dek. Kaf, Kaf terus." Kaf menurunkan selimut yang menutupi wajahku, kemudian ia mendaratkan bibirnya di pipiku. 


"Peot betul pipinya, besok kita booster. Aku nanti atur menu, kau yang masak." Ia terkekeh kecil dan menjauhkan wajahnya. 


"Kaf, sana." Aku tidak siap dengan tangannya yang berada di pinggangku. 


"Kaf lagi, dasar Chanyeol." Ia mendayu-dayu mengucapkan nama plesetan itu. 


"Dia artis Korea." Aku terkekeh geli. 


"Oh ya? Ini apa? Artisnya ayah begitu? Siap hamil tidak artisnya ayah ini?" Kaf menarik perutku, membuat tubuhku lurus menatap langit-langit. 


Jaraknya dekat sekali denganku, tangan kirinya ada di atas perutku. Ia dalam posisi tengkurap dan tangan kanannya menahan berat badannya seperti push-up. 


Ohh, jadi begitu? Apa saat berhubungan suami istri pun posisi laki-lakinya seperti push-up? 


Namun, aku tiba-tiba kejadian sebelumnya. Di mana kami membahas tentang saluran kencing. 


"Kaf…." Aduh, lupa lagi. "Bang…." Aku mengulang panggilanku. 


"Hm, kenapa?" sahutannya lembut sekali. 


Ia suka mengagetkan, tapi nama bicaranya tidak selalu mengagetkan. Nadanya lembut, logatnya kuat tapi tersamarkan dengan suara bass di tenggorokannya. Jadi, suaranya itu berat bisa dibilang. 

__ADS_1


"Abang bilang saluran pipis Abang melebar?" Aku berkata perlahan, kemudian melirik wajahnya yang terus memandang wajahku itu. 


"Iya, kenapa?" Ia menganggukkan kepala. 


"Berarti, pernah melakukan…." Aku mencari kata-kata yang pantas. 


Apa ya? 


"Tak usah dibahas, Cantik. Dibuka kerudungnya." Ia menarik jahitan kerudung yang berada di bawah daguku.


"Bentar dulu." Aku takut hatiku tidak puas, kalau aku teralihkan lagi dan tidak mendapat jawabannya. 


"Gimana dulu?" Hembusan napasnya harum obat kumur. 


"Aku kepikiran tentang anak-anak kita. Aku takut mereka melanjutkan dosa yang Abang lakukan di masa muda." Aku takut ia tersinggung. 


"Apa harus sholat taubat lagi? Apa karena masih merokok pun, aku harus wajib sholat taubat dan meninggalkan Sampoerna Mild?" Ia bertanya perlahan, seolah berbicara dengan anak kecil agar mudah paham. 


"Sekarang pun masih muda sebetulnya," jawabnya serius. 


Sampai saat aku menoleh, aku mendapati alisnya yang menyatu. 


"Gurau terus." Aku terkekeh dan meraup wajahnya lembut. 


Ia pun terkekeh geli juga. "Aku udah sholat taubat. Tapi kalau harus diulang, aku tak masalah juga. Memang aku harus sebersih apa? Kau tak nerima aku? Kan aku udah nanya di awal juga, kau nerima aku tak. Kau bilang iya, kau mau. Aku tutup mata tentang kesalahan yang mungkin kau lakukan sama Rai, pikir aku pas kau udah jadi istri aku juga pasti fokus ke aku aja. Terus sekarang kenapa ribut dosa-dosa di masa lalu?" Urat wajahnya kini benar-benar serius. 


Apa ia marah? 


"Abang lakuin sekarang aja, kalau memang masih nuduh aku ada khilaf sama Rai, untuk mastiin sendiri. Aku nerima Abang, tapi aku mau Abang betul-betul pastikan sendiri kalau Abang memang udah taubat. Karena kalau kita udah bismillah buat anak, terus benih itu jadi anak kita. Misalnya kondisi Abang belum sempat sholat taubat atau menyesali perbuatan Abang, takutnya nanti anak kita melanjutkan dosa ayahnya." Aku menyampaikan kekhawatiranku di masa depan tentang anak-anak kami. 


"Ya ampun, Chandani." Ia bangkit dan menghela napas panjang. 


"Kenapa kau takut dengan takdir Allah? Semisal anak kita berbuat dosa pun, bukan berarti ia melanjutkan dosa ayahnya. Aku udah bilang, aku udah sholat taubat dan udah ninggalin maksiat jauh-jauh hari. Dek, kalau aku masih pengen hura-hura, bergelimang maksiat, mungkin aku tak akan milih nikah. Pernikahan itu bukan candaan, itu hal yang paling sulit diputuskan oleh seorang laki-laki. Karena kenapa? Karena itu komitmen besar untuk kita. Beda dengan perempuan, sebelum menikah dan setelah menikah itu paling bedanya cuma tentang teman-temannya. Kalau laki-laki, tak begitu. Setelah menikah, kita harus pikirin gimana caranya untuk bisa nyukupi kebutuhan perempuan yang kita nikahi. Otomatis harus putar otak, biar penghasilan bertambah. Bukan tak bersyukur, kalau masih kerja di titik ini aja, untuk kebutuhan sendiri aja pas-pasan. Apalagi ditambah kalau harus memenuhi kebutuhan istri kita. Setelah laki-laki nikah pun, kita mikir juga gimana caranya bisa buat istri betah, bisa ajarin anak-anak kita. Kalau aku masih punya pikiran untuk berbuat dosa, masih pengen main, nongkrong, ya aku tak akan nikah. Malah enak bujangan, bebas, tak ada yang atur. Mau berbuat dosa atau tak pulang, tak ada istri yang nyariin. Dengan aku milih untuk nikah aja, harusnya kau mikir sejauh apa komitmen aku, Dek. Eh, sekarang malah ngeraguin aku." Ia membelakangiku dan menggelengkan kepalanya di akhir kalimat. 

__ADS_1


Ia marah. 


"Maaf, bukan ngeraguin. Kok malah marah gitu, manipulatif ya?" Aku menyentuh lengannya. 


Ia menoleh ke belakang, ia memandang wajahku dan tanganku. 


"Malam pertama udah diuji aja kesabarannya. Segala dibilang manipulatif." Ia seperti menggerutu. 


"Ya malah marah balik begitu, kan aku nanya baik-baik." Aku merapatkan bibirku. 


Aku tak mau air mataku meledak. 


Aku merasa Kaf galak juga. Ia tidak benar-benar suka mengagetkan dan heboh sendiri. Selain ia serius, ia pun orangnya galak juga. Bagaimana hari-hariku nanti dengan laki-laki sepertinya? 


"Mana ada aku marah!" Ia bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi. 


"Tapi Abang ngomongnya gitu! Ngomongnya panjang-panjang, ngomongin komitmen." Suaraku bergetar sudah. 


Ia berhenti melangkah, padahal sudah amat dekat dengan pintu kamar mandi pribadiku. Ia memutar badannya ke arahku, kemudian bertolak pinggang dan mengatur napasnya. 


"Ca ni, aku pi lih ni kah ka re na u dah be ra ni ber ko mit men. Ka lau me mang a ku ma sih pe ngen be bas dan ber bu at do sa, aku mi lih ja di bu jang an a ja."


Hah? 


Aku melongo saja mendengarnya berbicara perkata begitu. 


"Aku tak ngomong panjang-panjang tuh. Udah ya, tidur, jangan drama terus, nanti mimpi buruk." Ia berbalik badan dan lanjut melangkah, kemudian masuk ke kamar mandi. 


Aku tertawa geli seorang diri, meski orangnya sudah masuk tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya tadi masih teringat jelas. 


Apa aku salah mengutarakan maksudku tadi ya? Sampai Kaf mengulang kalimatnya dan memenggal-menggalnya. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2