Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS29. Akses kamar


__ADS_3

"Paket honeymoon package ya?" Resepsionis tersebut sepertinya tengah melihat data Kaf pada komputernya. 


"Iya." Kaf masih terlihat tegang saja. 


"Mari, diantar." Dayana tidak memberikan kunci atau kartu untuk akses kamar hotel kami. 


"Loh? Tak perlu, aku minta akses kamarnya aja," jelas Kaf tiba-tiba. 


"Tak apa, sekalian aku perlu ngobrol." Ia membawa sesuatu yang kemungkinan adalah akses kamar hotel kami, tapi ia memasukkannya ke dalam sakunya. 


"Aku tak perlu ngobrol apapun, keknya pun kita tak punya masalah." Kaf merangkulku, tarikan napasnya jelas terdengar. 


"Kita tak punya masalah, tapi kita perlu ngobrol aja." Dayana meninggalkan meja resepsionisnya, ia berjalan mendekati kami. 


Ada dua resepsionis di situ, jadi meja resepsionis tetap ada yang menjaga. 


"Aku tak perlu." Kaf membawaku untuk mundur satu langkah. 


Dayana melirikku, kemudian sorot matanya mengarah ke wajah suamiku. "Asal kau tau, Kaf. Mama tiri kau yang ngebujuk aku untuk ninggalin kau."


Mama Aca? 


Aku mendongak memandang wajah suamiku, karena tubuhku pendek seperti biyung jadi aku perlu mendongakan wajahku agar bisa melihat wajahnya. Ia memandang Dayana, kemudian tertunduk memandangku. 


Namun, tiba-tiba ia menahan tawanya. 


"Apa?" Ia terkekeh geli dengan mengusap wajahku dengan tangannya yang menjuntai dari bahuku. 


Wajahnya serius, tapi tiba-tiba tertawa geli saat melihat mataku. Ya memang yang ia lihat pasti mataku, memang apalagi yang terlihat? Apa dahiku dan alisku lucu? Atau memang mataku menurutnya seperti bayi? 


"Dayana Fiki Kazakhstan itu?" tanyaku lirih. 


Tawanya pecah, ia membawaku membelakangi Dayana dan aku pun tertawa bersamanya. Aku tidak mengerti di mana letak lucunya, tapi semoga gelak tawa kami tidak membuat Dayana itu tersinggung. 


"Kita debat itu tak ada selesainya." Kaf meredam tawanya. "Aku minta akses kamarnya dulu ya?" Ia melepaskan rangkulanku dan ia berbalik menghadapi Dayana kembali. 


Aku mengikuti pergerakan Kaf, aku terus memandang perempuan yang menurutku tidak sopan menatap lawan jenisnya itu. Apalagi, jelas-jelas ada aku sebagai istrinya Kaf. 

__ADS_1


"Kami tak udah diantar, kami perlu waktu untuk berdua. Toh, pasti ada petunjuk untuk ke arah kamar yang udah aku pesan, kau tinggal perlu sebutin lantai berapa," jelas Kaf dengan lembut. 


"Tapi ada yang perlu aku bicarakan." Perempuan itu maju satu langkah, ia hendak meraih tangan Kaf yang rutin bekerja dengan tenaga yang full untuk membedah pasien-pasiennya itu. 


"Bang…." Aku lebih dulu menggandeng tangan Kaf, kemudian menggoyang-goyangkannya. 


"Kenapa?" Ia menoleh menunduk padaku. 


Aku menggeleng dan mengulas senyum. Aku mengganggu suamiku, agar Dayana tidak menyentuh tangan suamiku. 


"Kak…." Tiba-tiba Kaf menghadap ke meja resepsionis, ia berbicara dengan resepsionis satunya. 


Gandengan tangan kami tidak terlepas. 


"Kami boleh minta akses kamar kami tanpa diantar?" ungkap Kaf kemudian. 


Resepsionis yang satu lagi malah melempar pandangannya ke Dayana itu. Ah, ribet sekali padahal Kaf sudah membayar yang jelas. 


Aku terus memperhatikan Dayana, hingga Dayana memberikan akses pintu kamar itu ke temannya. Karena Kaf terus menghadap ke meja resepsionis, sedangkan aku di belakangnya dan merepotkan tangan kanannya. 


"Kalian pasti dijodohin kan? Aku tau kau tak pernah respon cewek manapun, Kaf. Kalian pasti tak bisa lupa tentang kita kan? Sampai kau menikah dengan paksaan orang tua, biar bisa lanjutin hidup kamu tanpa aku kan?" Dayana memandang telinga Kaf. 


"Aku dari SMA digangguin dia terus, risih. Ayah kasih izin, kalau dia udah punya gelar spesialis," jawabku jujur. 


"Terima kasih." Sepertinya Kaf mendapatkan akses kamarnya. 


"Apa tadi? Kau risih, Dek? Hm, hm, hm…. Hari kemarin adalah izin Allah untuk kita risih-risihan. Ayo, gaskan." Kaf langsung membawaku pergi. 


"Kenapa risih? Aku wangi kok." Kaf mencium tangan kiriku yang saling bertautan dengan tangan kanannya. 


"Abang berisik, I love you terus kalau ketemu. Jadi takut," akuku jujur. 


Ia tertawa lepas. Lalu ia mengapit leherku sembari berjalan, ia sudah tidak menggandeng tanganku kembali. 


"Menurut Adek, itu asli atau palsu? Kalau misalkan datang kabar mulut-mulut kek Dayana lagi, apa mau percaya?" Tangannya yang mengapit leherku, berubah mengusap kepalaku. 


Untungnya hotel ini sepi. Meskipun aku dan dirinya suami istri, tapi aku malu bermesraan dengannya begini. Karena menurutku, ini seperti keterlaluan. 

__ADS_1


"Aku tak tau sih, tapi apa motivasi Abang untuk nikahin aku selain karena nutupin masalah kemarin? Apa karena aku anak ayah?" Aku tidak memikirkan ucapan Dayana, tapi aku kurang yakin juga jika ia mencintaiku sebesar itu. 


Menurutku, tidak ada cinta laki-laki lain yang tulusnya melebihi ayah. 


"Kalau aku punya alasan, pasti aku bisa pakai alasan itu untuk perempuan lain. Kan aku tak begitu, ke kota besar manapun ketemu banyak perempuan, tapi aku bisa jaga diri dan hati aku."


Apa hubungannya? Aku tidak mengerti. 


"Kenapa harus jaga hati? Kan kemarin bujang?" Aku meraih tangannya dan membawa tangannya untuk menjuntai ke bawah saia, aku risih tangannya mengusap-usap kepalaku terus. 


Aku khawatir tiba-tiba jadi mengantuk. 


"Udah aku bilang, aku tak punya alasan. Kalau punya, udah aku buat alasan itu untuk dapatin perempuan lain." Ia mengajakku untuk masuk ke sebuah lift. 


Aku memikirkan kalimat itu, apa sih maksudnya? Masa menjaga hati pun butuh alasan? Atau memang benar, jika ia menikahiku karena keinginan orang tuanya? Apalagi, Dayana diminta mama Aca untuk meninggalkan Kaf. Aku mulai terpengaruh ucapan Dayana, yang menurutku ada benarnya juga. 


Ia menarik pelipisku untuk menoleh dan mendongak ke arah wajahnya. Namun, tiba-tiba ia menyibak penutup wajahku dan ia mendekatkan bibirnya ke mulutku. 


Menempel dan hanya sekilas. Aku pikir ia mau memberikan apa, aku tidak merasa itu seperti ciuman yang pernah aku lihat di film yang ada di daftar putar laptopnya kak Ra. 


Penutup wajahku kembali tertutup, kemudian ia melonggarkan tangannya yang tadi menarik pelipisku. Aku masih bingung, kenapa ia seperti itu? Aku menoleh dan mendongak kembali untuk melihat wajahnya. 


"Kenapa?" tanyaku bingung, karena ia seperti menahan senyum senang. 


Di dalam lift yang hanya kami berdua, ia malah bertingkah ada saja. Ya untungnya kami sudah suami istri dan tidak ada orang lain di sini. 


"Tak apa, kenapa gitu?" Senyumnya terlihat jelas saat ia menjawab pertanyaanku. 


Sampai mana otakku berpikir tadi? Hmm, malah jadi buyar. 


"Ngapain begitu? Kalau ada orang, gimana?" Aku berkaca dari pantulan pintu lift yang memantulkan bayangan tubuhku. 


"Ya kan udah baca situasi dulu, tak ada salahnya cium istri."


Ohh, begitu pun disebutnya dicium? Aku kira cium bibir itu seperti yang pernah aku lihat di film koleksi kak Ra. Ya sampai basah, bertukar air liur dan saling membelit. 


"Eh, Bang. Dayana kenapa begitu ya? Kenapa dia terkesan protes terus?" Aku teringat kembali apa yang aku pikirkan tadi, setelah aku mendapatkan jawaban tentang tindakan suamiku barusan. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2