Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS9. Diperiksa


__ADS_3

"Apa, Cendol?!" Ayah berlari ke arah biyung, dengan wajah yang terlihat amat panik. 


"Cani cerita, katanya dibawa masuk ke kebun singkong." Biyung berbicara sambil menangis. 


"Udahlah! Udahlah! Kau sih cerita belum selesai juga, udah bikin orang panik aja. Udah Adek istirahat aja." Ayah beralih memandangku. "Biar nanti aku ngobrol sama Rai," lanjut ayah lirih dengan mengusapi air mata biyung. 


Apa katanya? Bertanya pada Rai? Ayah mengatakan hal itu pada biyung yang jelas berada di hadapanku. Jadi selirih-lirihnya suara ayah, aku tetap bisa mendengarnya. 


"Tapi gimana kalau dia bohong? Anak kita kan jelas bakal jujurnya." Biyung menarik-narik baju bagian dada ayah. 


"Nanti aku tanyakan dua-duanya. Udah kau pikirkan masakan yang enak aja, minta Jasmine bantuin tuh. Cani harus makan-makanan yang bergizi, aku ngerasa dia kurus betul." Ayah memandangku, kemudian fokus menghapus kesedihan di wajah istrinya lagi. 


"Mas Givan mau makan apa?" Tangis biyung cepat mereda di tangan ayah, padahal ayah tidak romantis untuk memenangkan biyung. 


"Tumis udang, kupasin semua kulitnya. Ingat, kotoran di punggungnya dikeluarkan." Ayah langsung berlalu pergi. 


"Ck…." Bang Chandra geleng-geleng kepala, ia meninggalkan kursinya dan berlalu ke depan. 


"Ibu…. Minta susu kotak." Muncul anak kecil berambut jabrik dan tidak mau diikat. Rambutnya mengembang, tetapi lurus. 


Itu adalah cucu kakak asuhku. Kakak asuhku memiliki suami baru yang sudah memiliki cucu, jarak usianya sekitar delapan belas tahun. Jadi, ayah dan biyungku itu mengurus kakak asuhku yang merupakan anak dari mantan suami biyung yang sudah wafat. Intinya kalian baca semua novelnya, karena berkesinambungan. 


"Boleh, Dek. Ambilah, masih ada tak di rumah?" Kak Jasmine yang berkutat dengan pisau dan talenan, meninggalkan pekerjaannya sementara. 


"Masih, tapi minta izin dulu." Farah, anak usia dua tahun lebih itu amat manis dan berattitude.


"Iya boleh, Dek. Ibu bantu Nenek Buyut masak dulu." Kak Jasmine melirik biyung. 


"Kau aja tak mau dipanggil nenek! Segala kau ngajarin Farah manggil nenek buyut ke Biyung! Tak ada, panggil Biyung aja, Dek." Protes biyung membuatku geli, pasalnya dia habis menangis tadi. 


Namun, ia malah sewot dengan nada cepat. 


"Iya, Biyung. Aku pulang dulu, dadah, assalamualaikum…." Farah melambaikan tangannya dan berlari pergi. 


Usianya tiga tahun lebih, jarak novel ini dan novel kak Ra itu sekitar tiga tahunan. Anak kak Jasmine yang kemarin ada di dalam kandungan pun, sudah dua tahun lebih. Sedangkan kak Ra sudah menikah kembali, ia kakakku yang doyan nikah.


"Waalaikumsalam." Kami semua menyahuti salam dari Farah. 

__ADS_1


"Masak apa, Kak?" tanyaku kemudian. 


"Sayur oyong, Dek. Biar ada seruput-serupnya." Kak Jasmine menoleh dan tersenyum padaku. "Kau istirahat gih." Ia kembali beraktivitas. 


Meski ia adalah anak asuh, tapi ia selalu ada untuk membantu biyung memasak. Malah kak Ra, kakak sulungnya yang perempuan namanya kak Key dan aku yang sibuk dengan urusan masing-masing. 


"Dek, disuruh ayah tidur," seru bang Chandra dari ruangan lain. 


"Ayah temenin." Aku meninggalkan dapur dan mencari keberadaan ayah. 


Bang Chandra masuk ke sebuah kamar yang dekat dengan kamar pribadi orang tuaku. Sepertinya, ayah dan Rai ada di sana. 


"Ayah…," panggilku kembali. 


Bertepatan juga, Kal keluar dari kamar itu ketika aku akan masuk ke dalam kamar tersebut. 


"Ayo periksa dulu, Dek. Lihat iritasi di kulitnya, kata Ayah kau iritasi," tegurnya kemudian. 


Aku bisa melihat ayah, Rai dan bang Chandra berada di ranjang kamar tersebut. Mereka terlihat sedang mengobrol serius, bahkan Rai menjadi pusat perhatian mereka semua. 


"Ayah, tidur," rengekku manja. 


"Sama biyung, Dek," ujar bang Chandra lembut. 


"Kangen Ayah." Aku masih berdiri di ambang pintu ini. 


"Sama Bang Chandra dulu, Rai." Ayah menurunkan kakinya satu persatu dari ranjang tersebut. 


"Resep obat Rai sama Cani nanti kasihkan aja sama orang yang di depan, suruh mereka ke apotek." Ayah menutup pintu kamar tersebut. 


"Ayah, nanti tunggu aku pulas dulu ya?" Aku memeluk ayah sembari berjalan ke arah kamarku. 


"Iya, Dek. Ayah masih hafal itu." 


"Dek, nanti nikah sama Kaf kau masih gini juga kah? Kaf minta percepat katanya, takut kau ngilang lagi." Kal membuntutiku. 


"Kau pun pernah ngilang juga." Aku sengaja menyindirnya. 

__ADS_1


"Ya kan aku pulang bawa calon suami." Pembelaannya membuatku geli. 


"Dia tak bawa calon suami, calon suaminya tetap Kaf." Perkataan ayah ambigu menurutku. 


Tunggu dulu, aku harus mencernanya. Kal liburan cukup lama dan pulang membawa calon suami, aku pun menghilang dan pulangnya membawa laki-laki. Apa kasus ini mirip? Tapi ayah mempertegas bahwa calon suamiku tetap Kaf, yang artinya Rai tak akan menjadi calon suamiku. 


Ya kan aku tidak menginginkan hal itu juga. Tapi tidak tahu jika Rai sudah tidak ada di pandanganku lagi, aku harap aku tidak merasa kehilangan laki-laki itu. 


"Kapan dia datang? Nanti kasih tau tuh, Yah. Jangan ngagetin terus, orangnya udah di belakang juga suaranya nyaring riang gembira buat aku kaget aja." Aku sudah masuk ke kamarku dan sekarang duduk di tepian ranjangku. 


Kal dan ayah terkekeh geli. "Dia itu cari perhatian kau, Dek. Dia berharap kau tertawa karenanya, dia berharap dengan begitu dia bisa menarik di mata kau" Kali ini Kal yang mengutarakan hal itu. 


Sebelumnya, ayah pernah mengatakan bahwa Kaf memang mencari perhatianku. 


Bagaimana ya? Dibilang biasa saja padanya, aku memang sudah terbiasa dengannya dan dibawa-bawa olehnya dan tentunya dengan mama Aca juga. Cuma rasanya lebih plong jika tidak dengannya, tidak ada yang merecokiku dan rasanya lebih tenang. 


"Minta tolong tutupin pintunya, Yah." Aku langsung melepaskan cadarku dan kerudung besarku. 


Sebenarnya, aku tidak melulu menggunakan pakaian berwarna hitam. Hanya saja, aku suka dengan pakaian berwarna gelap dan kemarin kebetulan aku pergi dengan pakaian berwarna hitam. Sekarang aku menggunakan pakaian berwarna coklat tua. 


"Rambut kau masih basah, Dek." Ayah bergerak ke arah meja riasku, setelah ayah mengunci pintu kamarku. 


"Maaf, Dek. Pakailah selimut, aku pengen nyibakin baju kau." Kal duduk di tepian ranjangku. 


Aku langsung memposisikan diri untuk mempermudah Kal memeriksaku. Sedangkan ayah merapatkan jendela dan merapikan pakaian kotorku tadi, intinya ayah tidak mengamatiku yang tengah diperiksa oleh Kal. 


"Tubuh kau baik-baik aja, tapi apa yang kau rasa?" Kal membantuku merapatkan pakaianku lagi. 


"Kaki capek, pengen dipijat. Kaki aku pernah terkilir tiga hari yang lalu, tak diapa-apakan, tapi Rai sering gendong aku, jadi kakinya ngerasa enakan sendiri karena tak banyak gerak. Selebihnya, aku ngerasa sehat semua. Sama lapar mulut kali ya? Aku lihat spanduk sop iga, ya kepengen. Lihat rumah makan padang, ya kepengen. Lihat gerobak sate kambing biarpun cuma gerobaknya aja, ya kepengen." Aku terkekeh kecil. 


"Rai gendong-gendong kau??? Kau mau???" Ayah berjalan ke arah ranjangku dengan mata melebar. 


Memang kenapa? Rai kan hanya berniat untuk membantuku? 


"Ada apa antara kau sama Rai? Kalian udah macam-macam, Dek? Hidung kau tertutup cadar aja, kau panik Kaf colek hidung kau. Kok sekarang kau cerita kau digendong-gendong laki-laki???" Ekspresi Kal tidak jauh beda seperti ayah. 


Aku jadi memikirkan, ada apa ya denganku? Kenapa aku tidak keberatan dengan sikap kecil dari Rai? 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2