
"Minum ini, Dek." Kaf memberikan soft kapsul.
Kami sudah berada di rumah ayah, aku sudah berbaring dan menguap. Hanya saja, aku tidak bisa terpejam karena tidak ada yang menemani.
"Kaf, sini dulu," panggil ayah kemudian.
Baru juga Kaf masuk ke kamarku, sudah dipanggil saja. Padahal sejak tadi Kaf sibuk sekali, ia bahkan belum sempat mandi.
"Iya, Yah. Bentar, ini lagi kasih suplemen untuk Cani." Kaf menungguku yang tengah minum obat ini.
"Tanda tangan dulu ini," seru ayah kembali.
Tanda tangan apa sih? Perasaan sudah dapat buku nikah juga.
"Iya, Yah." Kaf mengambil gelas yang sudah habis airnya, kemudian ia keluar kembali ke luar kamarku.
Aku sudah payah, tapi aku tidak bisa terpejam. Namun, aku tiba-tiba teringat tentang malam pertama. Apa Kaf akan meminta malam ini? Tapi aku kelelahan, apa ia bisa mentolerir rasa lelahku? Aku mencoba terlelap sendiri, meski rasanya tidak pernah tenang.
"Dek, makan belum?" Kaf masuk kembali dengan membawa sepiring makanan.
"Udah tadi barengan sih." Keluarga kami memiliki adat dan kebiasaan untuk makan satu piring berdua setelah akad nikah.
"Makan lagi." Kaf duduk di tepian tempat tidur, dengan menunjukkan isi piringnya.
"Udah ngantuk." Aku berbaring mepet mendekatinya yang tengah makan.
"Nih, mau?" Kaf menunjukkan brokoli yang seperti direbus saja.
Aku menggeleng. "Panggilin ayah sih, Kaf. Aku udah ngantuk." Aku mencoba mengambil rasa kasihannya.
"Ayah? Ngapain? Tidur sama aku, Dek." Kaf seperti menahan tawa.
"Kan kau masih makan juga." Ini hanya alasanku, agar ayah diperbolehkan masuk.
"Hm, gitu? Biasanya ayah ngapain?" Kaf lanjut menyantap makanannya.
"Ya rebahan aja. Bisa juga ayah duduk begini, atau main HP pun aku tetap bisa tidur kok." Rasa harumnya ayah itu nyaman.
"Ya tidur lah, ada aku. Aku capek, besok-besok aja bongkar-bongkarnya." Ia menoleh dan tersenyum mengerikan.
Tiba-tiba, tangannya mencolek sesuatu yang membuatku panik.
"KAF!!! Iseng betul sih!" Aku memukul tangannya.
Ia tertawa lepas, seperti aku hiburan untuknya. Aku menutupi dadaku yang tadi dicoleknya, aku tidak mau hal itu terulang.
Anehnya, keluargaku tidak ada yang menanyakan keadaanku di dalam kamar dan tidak ada yang mengetuk pintu kamarku. Padahal, terdengar ada aktivitas manusia. Aku yakin mereka belum tidur.
__ADS_1
"Boleh, Dek. Suaminya loh, biasa aja kali." Ia meredam tawanya dan melanjutkan makanannya kembali.
"Daging nih, mau tak?" Ia menyuapkan padaku.
Aku melihat isi sendoknya. "Kau makan apa sih? Ada brokoli, ada daging." Aku setengah duduk.
"Panggil Abang juga tak masalah, Dek." Kaf tersenyum. "Sop buatan mama Aca, kesukaan aku ini. Brokoli, sama daging. Aku kurang suka ayam, tapi tetep doyan kok." Ia memaksa sendok itu untuk masuk ke mulutku.
"Nanti, Kaf." Aku mengarahkan sendok untuk melewati penutup wajahku.
"Buka aja, ini suami kau. Tak masalah, aku tak akan ledek tahi lalat kau." Kaf menaruh piring makanannya ke sisi kirinya, kemudian tangan kirinya melepaskan tali yang terikat ke penutup wajahku.
"Malu." Aku menutupi hidungku.
"Buka dulu mulutnya, nih makan. Makan daging, biar badannya jadi." Kaf tetap memaksa agar aku memakan isi sendoknya.
"Anyeb." Aku mengunyah makanannya.
"Aku tak suka pedas, aku tak suka lada." Kaf lanjut menikmati makanannya.
Kaf seolah memberitahu bagaimana caranya aku memasak untuknya. Ia suka daging sapi, ia tidak suka lada dan tidak suka pedas.
"Kau suka sayur apa aja?" Aku masih mengunyah daging.
Dagingnya tidak lembut, seperti sengaja agar tidak terlalu matang. Atau memang sengaja dimasak tidak lama, agar menjaga nutrisi yang terkandung di dalamnya.
Ada lagi seleranya, ya ampun. Keluargaku doyan sekali daun kunyit, keluarga adik ayah suka sekali daun pace.
"Kaf aku ngantuk." Aku menggulingkan tubuhku dan memunggunginya.
"Panggilannya diganti, abang kek, abi kek, atau sayang." Kaf sudah berbicara dua kali tentang hal ini.
"Maunya apa?" Aku akan memenuhi harapannya saja, dari pada berinisiatif sendiri.
"Yang Mulia Raja Kaf."
Mataku mekar sempurna, kemudian aku berbalik untuk menghadapnya kembali. Tawanya langsung menggema, ia berusaha mengunyah makanannya di tengah tawanya.
"Serius ini?" Aku mengira hal itu benar.
"Ya tak lah." Ia menarik hidungku. "Panggil abang aja kek umumnya, nanti setelah punya anak ya panggil abi." Ia menaruh piring kotornya di atas nakas, kemudian meraih air minumnya.
"Buat anak itu sakit tak? Aku takut punya anak karena buatnya sakit." Aku membicarakan ketakutanku dengan perlahan.
"Hm?" Ia menaruh gelas kosongnya di atas piring kotorku.
"S**s?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
Aku mengangguk samar dan tertunduk, aku malu mendengarnya menyebutkan hal itu dengan jelas.
"Nanti kita belajar, aku juga belum tau gimana buat enak. Tapi kalau kata laki-laki sih, ya enak aja. Cuma pas pertama kali itu, aku malah ngerasa sakit pipis." Kalimatnya terpenggal-penggal, ia seperti mengulas rasa yang pernah iya rasakan.
"Terus gimana yang dirasakan perempuan?" tanyaku penasaran.
"Kesakitan dari ekspresinya sih."
Aku mengerutkan dahiku, aku merasa ada yang aneh dengan kalimatnya. Aku merasa ini seperti pengalamannya sendiri.
"Kau sakit pipis?" Aku teringat ia minta dipanggil abang. "Eh, maksudnya Abang." Aku mengganti panggilan kesayangannya.
"Iya, ya betul kata medis. Jadi tuh, saluran kencing bagian paling luar itu melebar karena pergerakan keluar masuk."
Jadi yang ia bicarakan ini tentang wawasannya mengenai ilmu medis tentang perkawinan, atau tentang pengalamannya?
"Abang ngerasain?" Aku mencoba memberikan pertanyaan agar aku bisa menyimpulkan dengan jelas.
Ia mengangguk. "Iya, agak gede." Ia membuka pengait celana jeansnya.
Ia sudah tidak lagi mengenakan setelan jas berwarna putih. Tapi ia berganti pakaian menggunakan celana jeans hitam dan kemeja berwarna kunyit.
"Mau apa?" Aku sudah berpikir, bahwa ia ingin menunjukkannya.
"Dulu sih tak selebar ini, apalagi pas sebelum pernah cobain." Ia benar-benar menunjukkan barang yang lebih gelap dari warna kulitnya itu.
"KAF!!!" Aku buru-buru memejamkan mata, aku panik luar biasa.
Ya Allah, sampai mana pemikiranku tadi?
"Huuu, lebay."
Sepertinya tepian tempat tidur sudah tidak dibebani oleh bobot tubuhnya. Aku membuka mataku dan melihatnya berjalan ke arah pintu kamar dengan membawa piring dan gelas kotor itu.
Sesantai itu ia, berani-beraninya ia melangkah keluar setelah membuatku panik. Lagi pula, kenapa ia menunjukkan saluran kencing bagian luarnya?
Eh, oh iya. Ia ingin menunjukkan bahwa saluran kencing bagian luarnya itu melebar, ditambah dengan kalimat setelah mencoba.
Jadi, ia benar-benar sudah pernah melakukan hal hina itu?
Innalillahi, apakah ia tidak punya iman? Apakah pasangannya tidak memiliki rasa malu pada lawan jenis?
Aku jadi teringat tentang ucapan seseorang yang aku dengar. Dosa zina itu menurun ke anak katanya, bukan dosanya, tapi kelakuan orang tuanya. Ini bukan patokan pasti, karena ada juga keturunan orang baik-baik, ustadz contohnya, tapi anaknya tidak bisa menjaga marwahnya.
Jaman sekarang memang pandai-pandai anak muda. Mereka di rumah alim sekali, di luar rumah akhlaknya berbanding terbalik. Karena ada satu teman KKNku yang seperti itu.
Kembali lagi, jadi bagaimana keturunanku jika suamiku seperti itu? Pikiranku langsung semrawut.
__ADS_1
...****************...