Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS31. Sedikit nasehat


__ADS_3

"Hei, tak apa." Ia terkekeh kecil, kemudian membalikkan tubuhku menghadapnya. 


Ia mendekapku dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Ia merasa hal ini lucu sepertinya, tidak denganku. Aku mencoba menahan tangisku, meski akhirnya merembes juga. 


"Sok, bilang. Takut kenapa?" Ia membawaku duduk di sofa kembali. 


"Rasanya dipegang-pegang tuh aneh," akuku dengan menutupi dadaku dengan menggunakan dua tanganku yang menyilang. 


Ia terkekeh kecil. "Rasanya gimana sih?"


Ya aku malu lah, masa iya perlu ditanya? 


"Udahlah." Aku sedikit sewot. 


"Mau kapan? Hari ini, besok, atau lusa, itu sama aja. Untuk kedepannya juga, kita bakal sering melakukan loh. Malah kalau baru pertama, libur dulu selama kurang lebih satu minggu lah. Aku ngerti kok, tenang aja." 


Aku tidak percaya, ia bakal meliburkan kegiatan itu. 


"Bohong!" Aku merasa suamiku ini tengah membujuk agar aku mau. 


"Bohong apa? Mau tanya ke mama Aca? Jangan ayah, nanti ayah malah suruh kita pulang." Kaf memaksa agar kepalaku terus menyender pada dadanya. 


"Libur tuh bohong kan?" Aku memandang wajahnya. 


Ia melirik dan pura-pura melihat ke arah lain. Aku tidak bohong, caranya bernapas saja berbeda. Ia seperti ngos-ngosan, tapi bukan ngos-ngosan juga. Ia seperti mengatur napasnya berulang, karena napasnya sangat berat dan tarikan napasnya sangat terlihat. 


"Lah, aku telpon deh. Ini bukan cuma akal-akalan dokter ya? Aku ngomong fakta." Kaf meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. 


Ia mengaktifkan speaker ponselnya, karena suara panggilan yang terhubung itu sangat jelas. 

__ADS_1


"Hallo, Ma." Kaf membuka suaranya, begitu terdengar suara panggilan diterima. 


"Ya, Kaf. Kenapa?" 


Masa iya aku harus bertanya pada mama Aca? Kan ini antara hubunganku dengan Kaf. 


"Mah, Cani ketakutan. Dipegang aja nangis, aku dikira bohong juga."


Kaf orangnya ngaduan juga lagi. Haduh, double malunya. 


"Wah, mana Caninya?"


Apa benar-benar aku harus membela diri di depan mama Aca? Ya, membela diri atas aduan Kaf. Lebihnya, aku pasti akan semakin malu juga. 


"Ini, Ma. Ngomong aja, aku speaker." Kaf meliriku. Namun, lagi-lagi ia memandang ke arah lain. 


"Dek…. Mau Mama temenin? Mau Mama tonton sekalian bimbing Kaf?"


"Dek, semua laki-laki tuh punya naluri untuk melakukan hal itu pada perempuan. Mereka tak nonton film blue aja, mereka dapat mimpi itu dari Yang Kuasa kok. Secara tidak langsung, mereka kek dapat ilham sendiri." Mama Aca bersuara lagi, meski aku tidak menyahuti. 


"Mama tau Kaf mau ngapain aku memangnya?" Aku memberanikan diri membuka mulutku. 


"Kaf bahkan minta saran untuk melakukannya di mana, karena di rumah kau Kaf yang canggung. Kebukti sekarang kan, belum diapa-apain aja kau udah nangis? Kalau di rumah kau, nanti ayah kau yang panik. Apalagi kalau laki-laki kau nanggung, bisa stress sendiri dia ngadepin tangisan kau. Janganlah gitu, Dek. Kalian pasangan halal, Kaf boleh kok nyentuh kau atau melakukan hubungan suami istri dengan kau. Kan kau istrinya, Dek. Kau belum ngerti sekarang, pasti belum kenal juga rasanya. Tapi setelah kau nyandu sama rasa itu, pasti Kaf tak boleh kerja jauh. Maklum sekali dua kali rasanya masih asing, tanya kakak perempuan kau, bahkan dia lima kali baru tau di mana enaknya. Perempuan yang tak takutan kek Nahda, dia malah langsung ketagihan begitu tau titik hebatnya. Dikiranya laki-laki tak butuh tenaga, misalnya harus nambah terus? Jadi, kau pun harus ada andil biar laki-laki kau tak kecapean. Tapi itu sih nanti aja, biar sekarang kau mau aja dulu. Jangan mikir ke mana-mana, jangan panik duluan. Semua perempuan merasakan kok, sama halnya kek haid dan melahirkan. Manusia normal dan yang berpasangan, pasti merasakan hal itu semua. Apa yang kau takutin memangnya? Apa Kaf nyentuh kau kasar?" Mama Aca seperti sedang makan di sana. 


"Rasa sentuhannya tuh asing, Ma. Geli-geli gimana, aku takut." Aku mencoba mengatakan apa yang aku rasakan. 


"Karena ini pertama kalinya ada laki-laki lain yang nyentuh kau, wajar. Setelah kau terbiasa, misal Kaf lama tak nyentuh tubuh kau, pasti ada yang kurang deh. Semua perempuan yang bersuami pun rata merasakan hal itu semua, Dek." 


Aku sadar kok hal itu akan lebih sering, tapi aku tetap takut dengan rasa asing itu. 

__ADS_1


"Ma, apa aku bakal tetep aman?" Tidak ada pilihan, selain aku pasrah dengan keadaan. 


Benar juga, cepat atau lambat aku akan tetap melakukan. Karena sekarang aku seorang istri, yang sudah jelas pasti akan melakukan hubungan biologis bersama suamiku secara rutin. Karena apa? Karena itu merupakan kebutuhan biologis suami, entah aku sih. Aku belum tahu di mana letak butuhnya, karena melakukannya saja aku takut. 


"Udah ya? Jangan nangis. Mama udah bilang banyak ke Kaf kok biar tahan diri, biar lembut ke kau. Karena sebenarnya laki-laki manapun gemes, pasti tak tahan kalau untuk masalah hubungan itu. Diam aja, nikmati. Cepat atau lambat, kau pasti tau titik enaknya. Kakak kau, si Ra aja sabar, nerima aja, pasrah aja tuh. Sampai lima kali melakukan, baru paham ternyata begini ya enaknya, ternyata begitu ya enaknya. Gitu, Dek." Mama Aca seperti meneguk air, setelah menyelesaikan kalimatnya. 


"Iya, Ma. Mungkin aku perlu nahan diri biar tak nangis juga." Aku jadi berpikir, apa ada perempuan yang merasa sepertiku? Apa semuanya pada berani melakukan meski sakit katanya? 


"Nangis tak apa, jangan kuat-kuat. Kaf bukan maksud untuk nyakitin kau, dia pun perlu mengeksplor diri kau biar tau caranya untuk buat kau enak. Itu tugas laki-laki dan kelak kau pun harus ada timbal balik yang seperti itu juga, Dek." 


Aku paham tugas istri itu ada tentang melayani suami di ranjang. Aku jadi berpikir, apakah di ranjang itu kami bertukar tugas? Tapi kan, yang punya anu kan dirinya. 


"Udah dulu ya? Mama mau cuci tangan, abis makan nih."


Bener tebakanku, jika mama Aca tengah makan. 


"Iya, Ma. Makasih, Ma? Maaf ganggu." Aku perlu berterima kasih dengan secuil nasehat yang tidak aku dapatkan di rumah itu. 


"Oke, Dek." Mama Aca mematikan sepihak panggilan teleponnya. 


Aku melirik Kaf, jadi aku harus pasrah dengan sosok suami yang tinggi besar ini? Menyeramkan lagi, karena ia malah memandangku dengan menyunggingkan senyum lapar. 


Kaf menaruh ponselnya. Kemudian, ia memegang daguku dan memandang kedua mataku dengan dekat. 


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."


Aku menarik napasku dalam, mendengarnya melafalkan doa itu. Ia benar-benar serius ingin melakukannya sekarang juga, meski hari masih pagi. Ini adalah pagi pertama, bukan malam pertama. 


Bismillah, aku pasrah karena tidak tahu akan berbuat apa. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2