Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS28. Pacaran dulu


__ADS_3

"Aku tak nginep di luar, Yah. Tenang aja, cuma mau jalan-jalan, beli barang, beli HP sama makan di luar aja." Kaf melirikku, ia seolah membutuhkan suaraku untuk mengiyakan perkataannya. 


Sejak tadi ayah tidak mau memberi jarak, ia terus menahan pintu mobil ini. Aku merasa heran dengan ayah, ayah merestui Kaf sebagai suamiku. Tapi, ia seolah tidak mengizinkan jika aku dibawa oleh Kaf. 


Apalagi, rencananya aku ikut ia Malaysia sampai ayah mengizinkan aku untuk melanjutkan sedikit pendidikanku lagi itu. Bukan karena aku ingin selalu bersama Kaf, tapi karena aku ingin jalan-jalan dan tahu kota besar.


"Janji ya? Malam udah di rumah ya?" Ayah sampai menunjuk-nunjuk wajah Kaf. 


"Iya, Yah." Kaf mengangguk-anggukan kepalanya cepat. 


Ia seperti hanya asal menjawab agar ayah memberikan akses untuk mobil ini bisa bergerak. Aku baru tahu ayahku seperti itu, menikahkan tapi seolah tidak mengizinkan Kaf menjadi suamiku. 


"Dek, udah pakai anting yang barunya?" Ayah mengusap kepalaku. 


Apa sekhawatir itu ia padaku? Sampai suamiku sendiri kurang ia percaya? 


"Udah, Yah." Kedua tanganku terangkat dan mengusap daun telingaku. 


Anting itu ada di sana, anting yang menentukan di mana keberadaanku. 


"Udah, ati-ati ya?" Mama Aca menarik baju ayah begitu mudahnya, sehingga ayah tidak menghalangi pintu mobil untuk tertutup. 


Selain mereka ipar, mereka juga sepupuan. Tapi akrab sekali ya? Padahal masing-masing dari mereka sudah menikah dan berkeluarga. 


"Iya, Ma. Pamit dulu, Ma." Kaf berjalan memutar setelah menutup pintu mobil di sisi jokku. 


Kami sudah salim tadi, jadi kami langsung tancap gas begitu Kaf sudah menempati tempat kemudinya. Aku tidak tahu ke mana dulu tujuannya, karena waktu masih cukup pagi dan mall atau konter ponsel belum ada yang buka. 


"Hari pertama haid kemarin kapan, Dek?" tanyanya tiba-tiba. 


Tidak ada pembahasan apapun, eh langsung menanyakan haid saja. 


Aku menjawab dengan benar, ia hanya manggut-manggut dan fokus pada jalanan di depan. Sampai di apotek yang cukup besar, mobilnya menepi dan ia turun dari mobil menuju apotek tersebut. 


Aku diminta menunggu, karena katanya sebentar saja. Entah apa yang ia butuhkan, aku pun tidak tahu apa yang ia beli. Karena setelah ia kembali, ia memasukkan kantong plastik berwarna putih tulang itu ke dalam tas dinasnya. 

__ADS_1


"Pendidikan kurang lebih berapa lama lagi?" Mobilnya melaju kembali. 


"Kurang tau, tapi kemarin kan masih KKN." Mungkin aku harus mengulang KKNku yang gagal itu. 


"Nanti aku urus, otaknya mampu tak kalau ngebut? Berarti kurang lebih kita tunda kehamilan sampai enam bulanan lagi ya? Enam bulanan lagi, keknya aku pun udah stay di rumah sakit ini. Bangunan lagi disempurnakan, fasilitas lagi dilengkapi, nunggu staf dan ini itu ya kira-kira butuh waktu sekitar enam bulanan lagi. Tapi selama itu aku di Malaysia ya, Dek? Sabtu dan Minggu aku pulang, kau belum bisa dibawa karena urusan pendidikan belum rampung. Biar tak nambah panjang tuh pendidikannya, jadi kau fokus pendidikan dulu, setelahnya bisa ikut aku. Kalau dijeda lagi, wisudanya pun lama lagi. Belum lagi kalau kebobolan hamil, bisa-bisa dua tahun lagi baru dapat gelar sarjana." Ia mengemudi ke arah kota. 


Aku semakin yakin jika ia mengajakku membeli barang dan ngemall. 


"Tapi pengen tau Malaysia, Bang." Selama jadi anak ayah, aku selalu di rumah. Aku tidak pernah diajak perjalanan bisnis ke manapun, tidak seperti saudara-saudaraku yang lain. 


Ayah selalu mengatakan bahwa aku tidak boleh keluar dari daerah ini, aku harus tumbuh di lingkungan ini tanpa tercemar pergaulan kota-kota besar katanya. 


Ya mungkin terbentuknya diriku yang sekarang, karena pengaruh lingkunganku. Aku jelas sangat berbeda dengan kak Key, kak Jasmine atau kak Ra yang sering keluyuran ke kota besar sejak remajanya. 


"Iya, nanti sesekali diajak. Bismillah aja, ini baru rencana. Maksudnya, biar kedepannya kita enak tuh."


Loh, loh, loh? Kok belok ke arah hotel berbintang? 


"Mau apa? Dhuha? Kan bisa di masjid pinggir jalan, nanti aku Dhuha juga kok." Aku berpikir sepositif ini. 


Namun….


Jantungku mulai tidak aman. Aku panik dan aku tidak bisa berkata-kata, ia mengingkari janjinya pada ayahku. Tapi kan ia suamiku, ia berhak atas diriku. 


"Tenang, aku tak semenakutkan apa yang kau bayangkan."


Perkataannya membuatku terbayang kembali dengan sesuatu di dalam resletingnya yang semalam ia tunjukan. Warnanya saja lebih gelap dari kulitnya, pasti seram bentuknya. Apalagi jika ia tegang, kemudian memasuki surgaku yang setahuku seperti garis saja. 


Membayangkan hal itu, jemariku langsung dingin semua. 


"Bentar ya cari parkir dulu."


"Ehh, ngomong-ngomong kau mau beli apa? Mau dikasih pegangan berapa untuk tiap bulannya?" 


Ucapan demi ucapan dari mulutnya, mengacaukan pikiran fokusku tentang hubungan suami istri. Itu memang haknya, tapi rasanya aku tak siap. 

__ADS_1


"Aku mau beli niqab, aku mau ganti semua cadar aku sama niqab. Itu loh, yang nutupin dahi sama alis." Aku menutup keningku sendiri dengan telapak tanganku. 


Pikiranku mudah sekali dialihkan. 


"Alhamdulillah, mau berapa lusin, Dek?" Mobilnya bergerak perlahan mengisi parkiran kosong. 


Ah, sial. Aku kembali teringat aku akan dikurung olehnya di kamar hotel. Pasti saat tadi ia ke apotek, ia membeli beberapa barang yang diperlukannya untuk memperdayaku.


"Aku mau pilih warna, di butik langganan kalau aku pergi sama ayah. Kalau boleh tau, berapa gaji Abang di Malaysia?" Sopan tidak ya aku menanyakan penghasilannya? 


"Gajinya…. Sepuluh ribu sampai tiga puluh ribu ringgit Malaysia." 


Kenapa ia tidak menyebutkan langsung secara rupiah? Kenapa juga diberi kisaran? Apa aku tak boleh tahu? 


"Cuma mau tau, tak mau minta uang." Aku tertunduk tersinggung. 


"Delapan puluh juta, Dek. Tapi kotor, belum bayar apartemen, belum biaya hidup. Di Malaysia, dokter spesialis profesi nomor dua dengan penghasilan tertinggi setelah chief executive. Makanya pakwa tuh nyuruh tugas di sana aja, eh tak taunya keluarga besar kita malah minta bangun rumah sakit. Uang makan Adek berapa? Kan aku merantau nih, jadi ibaratnya uang makan untuk Adek aja. Terus, berapa untuk nafkah pribadinya? Untuk skincarenya dan pakaiannya. Oh, iya. Aku biasa jatah orang tua lima juta sebulan, entah untuk listrik kah apa. Kita buat sama aja ya? Ke orang tua Adek pun lima juta aja dulu ya? Tau kok nilainya kecil, tapi bagi-bagi dulu. Biar kita bisa cukup untuk nutup ini itu." Kaf mematikan mesin mobil. 


Ia sudah selesai memarkirkan kendaraannya ini. 


Aku jadi bingung, gajinya delapan puluh juta tapi seolah delapan juta. Apa benar menurutnya nilainya itu kecil? Ia seolah bingung pendapatannya senilai itu dan banyaknya kebutuhan. Padahal menurutku, lima juta saja besar. Entah karena aku tidak pernah memegang uang, jadi merasa uang senilai itu sangat besar. 


"Yuk, sambil jalan ke lobby. Aku udah reservasi online." Ia turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu mobilku. 


Tidak ketinggalan, ia membawa tasnya. 


"Aku tak tau aku butuh berapa, apa Abang tak mau menuhin kebutuhan aku aja kek ayah? Aku tak usah dikasih uang. Aku tak dikasih uang sama ayah, kecuali uang saku untuk kuliah." Yang ada aku bingung jika memegang uang sendiri. 


"Hah? Ayah begitu?" Kaf menggandeng tanganku. 


"Ya keknya ke aku aja, ke kak Ra dulu selalu bilang nanti ayah transfer." Sudah teralihkan pikiranku, malah teringat tentang kamar hotel kembali. 


"Ke situ dulu, Dek." Kaf menunjuk resepsionis yang tengah berbicara dengan seseorang. 


Aku seperti pernah melihat wajah resepsionis tersebut. 

__ADS_1


"Dayana…." Kaf terpaku dengan wajah kaget, setelah kami berada di depan meja resepsionis. 


...****************...


__ADS_2