Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS20. Medical check up


__ADS_3

"Jangan cuma untuk nutupin aib, Kaf. Kalau kau belum siap, ego kau masih tinggi, kau tak bisa nuntun Cani, ya percuma juga. Di balik niat yang baik itu, ada komitmen yang sungguh-sungguh."


Tumben sekali biyung menimpali dengan lurus. 


"Sungguh-sungguh kuat, jaminan deh. Keluarga Adi's Bird ini kuat-kuat," ujar Kaf membuat ayah tertawa geli. 


"Kenapa, Yah?" Kaf ikut tertawa juga. 


"Mulut kau ke mana-mana. Heh, Ayah tau ya masa lalu kau!" Ayah menunjuk wajah Kaf, dengan masih dengan tawanya. 


"Ya Allah, Yah. Sekali aja itu, udah sholat taubat juga. Bang Chandra ini pasti, memang mulutnya lemes betul." Kaf terlihat seperti kesal. 


"Ya dah lah, jaman sekarang mana ada juga yang belum pernah nyelub juga. Ada juga, paling rajin dimainkan sendiri." Ayah meraih sendok makannya kembali. 


"Apa sih, Mas?" Giliran biyung yang menaruh sendok makannya, padahal makanannya sudah tinggal setengah. 


"Tak apa, Cendol." Ayah sedikit ngegas dan menunjuk makanan biyung. "Habiskan!" pintanya kemudian. 


"Aku lanjut aktivitas ya, Yah? Ayah kalau ada waktu ngobrol aja dulu sama mama atau papa, yang jelas maharnya memang udah disiapkan." Kaf bangkit dan menggulung ulang lengan kemejanya. 


Dokter pun, tangannya berurat begitu. Apa ia mengoperasi pasiennya dengan tenaga yang powerful, hingga otot tangannya terbentuk seperti itu? Atau karena ia rajin olahraga? 


"Kalau niatnya kek gitu, habis makan juga Ayah langsung datangi kantor papa kau." Ayah memasukkan makanan ke mulutnya. 


Ayahku sampai bergegas setelah mendengar niat baik Kaf itu. Lalu, apa aku yang tengah diupayakan ini mempersulit mereka? Tentunya tidak dan tak akan pernah. 

__ADS_1


Niat mereka semua baik. 


"Makasih, Yah." Kaf tersenyum senang. 


"Heem, sana berangkat. Tak usah salim lagi, udah kek tamu aja kau. Dari kecil pun keluar masuk nyelonong aja, gayanya." Ayah melirik ke arah Kaf. 


Kaf terkekeh kecil. "Berangkat dulu ya, Biyung, Yah?" Kaf berbalik badan dan langsung pergi. 


"Dimakan, Dek. Banyakin istirahat." Ayah memandangku sekilas, kemudian melanjutkan sesi makannya. 


"Iya, Yah." Aku mematuhi perintah ayahku. 


Aku tidak tahu bagaimana nanti setelah aku terikat pernikahan dengan Kaf, apa ia akan bisa memperlakukanku seperti yang ia katakan pada ayah. Atau, hanya mulutnya saja yang action. 


"Mama udah janjikan ngobrol di rumahnya, Kaf." Mama Aca tidak menghiraukan keberadaanku, ia sibuk dengan ponselnya. 


"Privat aja, Ma. Barangkali Cani malu sama kita. Lepas ini sekalian ke rumah sakit, aku mau medical check up sama Cani."


Apa Kaf masih berpikir aku sudah ternoda, lebih buruknya ia mengira aku tertular penyakit dari Rai? 


"Nikahnya kapan sih? Tak sekalian vaksin aja?"


Apalagi yang mama Aca katakan ini? 


"Papa ngomong belum? Katanya ayah udah ngobrol sama papa kemarin." Mobil sudah melaju di jalanan aspal. 

__ADS_1


"Lagi laporan akhir bulan, papa kau ya keteteran. Semalam aja Mama lembur sampai jam satuan, papa kau sampai pulas di sofa. Cepat belajar sama papa, sama ayah. Papa kau pengen pensiun muda, dia pengennya fokus nerusin kakek kau jadi founder perusahaan aja. Pengen sibuk terjun di ladang katanya, pengen sibuk ngurus SDA aja, daripada ngurusin dokumen begini." 


Aku jadi berpikir, Kaf pasti sangat sibuk nantinya. Apa nanti ia memiliki waktu untukku dan untuk anak-anak kami kelak? Sedangkan ia harapan semua orang. Ia menjadi harapan terbesar orang tuanya, karena ia satu-satunya anak laki-laki mereka. Lalu, ia menjadi harapan utama dari pakwanya. Sejak sekolah pun, Kaf selalu diarahkan pakwanya. Memang tak hanya Kaf yang diarahkan untuk menjadi dokter, tetapi juga Kal. Tapi akhirnya seperti yang mereka duga di awal, Kal fokus menjadi ibu rumah tangga. 


Ia mugkin akan ikut andil di rumah sakit keluarga nanti, tapi pasti perannya tidak seberat peran Kaf. Belum lagi ayah mengharapkan Kaf bisa belajar bisnis padanya, ayah ingin Kaf mampu meneruskan usahanya yang ayah berikan untukku nanti. 


Apa bahunya akan sekuat itu? Apa ia akan mampu untuk memikul semua tanggung jawab itu? Apa ia akan bisa membagi waktunya untuk keluarga kecilnya? 


"Ohh, gitu. Aku mau medical check up aja dulu, Ma. Mau pemeriksaan golongan darah dan Rhesus, pemeriksaan kelainan darah, pemeriksaan penyakit menular s******l, pemeriksaan gula darah, USG ginekologi, pemeriksaan TORCH. Biar misalnya aku atau Cani punya masalah dalam tubuh kita, bisa diobati dulu biar tak menular ke anak-anak kita." Kaf tersenyum padaku, kemudian fokus memandang jalanan lagi. 


Pemeriksaan penyakit s*****l katanya? Apa Kaf masih tidak percaya padaku? 


"Kaf, aku kan udah bilang aku tak pernah diapa-apakan Rai." Rasanya ingin menangis saja, aku kesal karena ia tidak percaya padaku. 


"Ya kan Kafnya, Dek. Kaf tak bilang kondisinya memang?" Mama Aca terkekeh lepas. 


"Hustttt…. Mama ngomong apa tuh?!" Kaf menoleh pada mama Aca. 


"Dek Cani, dengerin. Medical check up pranikah itu bertujuan untuk mengenali kondisi kesehatan, risiko  dan riwayat masalah kesehatan yang dimiliki masing-masing pasangan. Kek risiko penyakit menular s*****l ringan hingga penyakit keturunan. Selain itu, mungkin juga terdapat kondisi yang tidak menimbulkan keluhan. Tapi, kalau menyatu dan diturunkan ke anak bisa menimbulkan keluhan atau kondisi yang berbahaya. Oleh karenanya, pemeriksaan medical check up pranikah perlu dilakukan oleh setiap pasangan sebelum dilakukannya pernikahan. Lengkapnya begitu tujuannya, nih dengerin tujuan dari setiap tes yang akan dilakukan. Pemeriksaan cek darah dan Rhesus dilakukan untuk mengetahui kecocokan rhesus dan efeknya terhadap ibu dan bayi, kondisi kek gini kalau tak diketahui dikhawatirkan mengakibatkan penyakit kuning pada bayi. Pemeriksaan kelainan darah, bertujuan untuk mengetahui apakah ada resiko melahirkan keturunan dengan penyakit akibat kelainan faktor genetika, seperti thalasemia atau hemofilia. Kalau pemeriksaan penyakit menular s*****l, untuk mendeteksi penyakit sifilis, hepatitis B dan virus HIV. Pemeriksaan gula darah, biar pas hamil nih Adek tak kena komplikasi gula darah. Kalau aku punya gula darah tinggi pun diobati dulu, biar tak berpengaruh ke kondisi kesehatan janin Adek pas dilahirkan. Usg ginekologi ya untuk lihat kondisi rahim Adek, untuk mendeteksi kelainan pada rahim misalnya kista ovarium atau mioma uteri. Terus pemeriksaan TORCH nih untuk mendeteksi toksoplasma, rubella, cytomegalovirus, dan herpes simplex pada ibu hamil atau yang berencana hamil untuk mencegah komplikasi pada janin. Gitu, Adek Cani yang cantik macam Memei." Pas sekali Kaf mencolek daguku yang tertutup penutup wajah. 


Bahuku diusap dari belakang, tepatnya oleh mama Aca. "Dek, jangan tersinggung. Kaf seorang dokter, dia pengen keluarganya baik-baik aja menurut versinya. Kau harus terbiasa dengan aturannya, meski Mama pun kaget di awal. Apa nih tiap bulan disuntikin vitamin terus, apa nih tiap tiga bulan diambil darahnya terus, apa nih tiap enam bulan diajak medical check up terus. Tapi jadi Mama tau kesehatan Mama dan bisa berobat lebih awal, karena maksa aja udah tua segini gula ada naiknya, ada asam uratnya, terus jadi tau kek mana caranya hidup sehat di masa tua biar bisa menikmati hidup terus. Ambil sisi positifnya aja, kau bakal jadi istri dokter yang planningnya di luar perkiraan kau. Kasih sayangnya pun bukan dengan kata-kata semata, tapi dengan dia ajak kau cek kesehatan terus, dia cukup membuktikan bahwa dia pengen kau selalu sehat biar hidup lebih lama. Gitu, Dek," terang mama Aca lembut. 


 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2