
"Bang…. Udah aja." Aku menggigit ujung bantal hotel, ketika ia terus bergerak dengan waktu yang cukup lama.
"Pedih kah?" Ia menyangga tubuhnya dengan kedua siku tangannya, ia seperti posisinya katak. Bedanya matanya menatapku, tidak menghadap ke atas.
Aku mengangguk lemah. Rasanya tak enak, perut terasa penuh, milikku rasanya pedih juga.
"Belum enak ya? Maaf ya? Jangan fokus ke sakitnya aja, coba nikmati gerakan aku, sentuhan aku."
Masalahnya tidak ada enak-enaknya, hanya sakit dan rasa tidak nyaman yang aku rasa. Jadi bingung jika aku harus fokus ke hal lain.
"Iya, udah cepet selesaikan aja. Selesainya pas apa?" Finishnya itu kapan? Aku kira ia sudah selesai, saat pertama masuk. Tapi katanya, ia mengusap darahku. Aku tidak haid padahal, aku jadi memikirkan itu darah apa.
Saat beberapa saat aku diminta menyesuaikan rasanya pun, ia melepaskan kembali miliknya. Aku kira sudah selesai juga, tapi ternyata ia ingin aku berbaring menyamping dan dirinya di belakangku. Sampai akhirnya kembali ke posisi awal, karena ia ingin melihat semuanya katanya.
Aneh-aneh sekali, posisi yang kedua itu yang ada membuat bibir milikku semakin pedih.
Ia menegakkan punggungnya, ia berlutut dan duduk pada bagian tumit kakinya. "Padahal udah dipijat, tapi kenapa ya bibirnya tegang begini?" Aku merasakan jamarinya mengusap permukaan luar milikku.
"Tak sadar kah, segitu besarnya tuh?" Entah aku yang memang tidak pernah melihat milik laki-laki, atau memang ukurannya besar sekali.
Tidak seperti lontong, tidak seperti pisang yang konon diibaratkan orang-orang. Miliknya seperti bentuk ikan jaman aku menggambar dulu, di mana ujung dan ujungnya mengecil, tapi di tengah-tengahnya besar sekali. Susah menceritakannya, masa iya harus difoto? Nanti aku terkena pelanggaran lagi.
"Ya kan enak?" Ia mendorong masuk lagi, dengan kedua tangannya yang seperti posisi gorila duduk.
Berarti benar ukurannya besar.
"Apa itu terus tumbuh?" Aku berpikir jika semakin dewasa dirinya, semakin besar pula miliknya.
Lihat saja punya anak kecil. Jangan jauh-jauh lah, Galen saja. Aku merasa itu terus tumbuh, seiring bertambahnya usianya. Karena kakakku dulunya lanjut pendidikan dan Galen selalu ada di rumah kakek dan neneknya, jadi aku tahu karena sering membantunya untuk pipis dan mandi. Ia sudah tidak menggunakan diapers sejak lama soalnya, sekitar saat usianya satu tahun lebih.
"Gak…." Ia tergelak renyah.
"Ayo dicepetin, sakit." Aku mengusap dada bidangnya, agar ia merasa kasihan padaku.
"Nanti takut sakit kalau cepet-cepet." Ia bergerak perlahan dan mengungkungku kembali.
Aku kini sudah tahu jika tubuhnya tidak menimpaku. Ya, aku tahu jika aku tidak akan sesak napas sekarang.
"Tapi kelamaan ya pedih juga." Aku menghapus air mataku, karena ditahan seperti apapun tetap sakit juga.
Rasanya saat ia memasuki itu, seperti dibelah dan diterobos hingga masuk ke perut. Aku memperhatikan perutku saja, perutku sampai mengembang di bagian bawah kok saat posisi miliknya ada di dalam. Terus mengempis kembali, saat ia menarik keluar kembali.
"Oke dicepetin sedikit." Ia menempelkan dahi kami.
__ADS_1
Aku jadi berpikir, seperti apa rasanya h***** dan b***** pada perempuan itu? Kenapa aku tidak merasakannya ya?
"Uhmmmm…. Mana sarung tadi?" Ia melepaskanku tiba-tiba, kemudian menoleh mencari sesuatu.
"Apa? Kita tak bawa sarung dari rumah." Aku meraih selimut dan seketika aku sadar jika pergerakan kakiku itu membuat milikku sangat sakit.
Seperti ada luka menganga pada milikku.
"Ini…." Ia mendapatkan sesuatu dari kantong plastik apotek.
"Apa?" Aku melihat barang itu seperti permen karet.
"Apa ya? Karet gitu, k****. Kan kita tunda kehamilan dulu, aku belum bisa caranya narik pas lagi enak-enaknya. Takut kebablasan. Kalau KB, efeknya bahaya karena kau belum punya keturunan." Ia memasang permen karet yang mengembang itu di miliknya.
Ohh, seperti balon ya?
Ia membubuhkan pelumas lagi, sebelum akhrinya aku harus menahan sesak dan pedih lagi. Aduh, kapan selesainya sih?
"Aku mau dapet, bentar lagi." Keringetnya bercucuran, ia memejamkan matanya dan bergerak sedikit lebih cepat dari gerakan sebelumnya.
Aku tersiksa dengan hen*****nya.
"Dapat apa?" Apa milikku mengeluarkan hadiah?
"Kl****." Mulutnya terbuka dan kepalanya mendongak ke atas.
Suaranya seperti keluar lepas dari dalam kerongkongannya. Napasnya lebih berat dari sebelumnya, aku bisa memastikan bahwa sekarang ia ini ngos-ngosan.
"Makasih, Dek." Ia ambruk di atasku, kali ini aku seperti tertindih dirinya.
"Berat, Abang." Aku takut penyek karena ia cukup besar.
"Alhamdulillahilladzii khalaqa minal maa-i basyaran." Ia melafalkan doa itu, dengan memindahkan tubuhnya di sebelahku.
"Aku ambil napas dulu, Dek." Ia berbaring menghadap langit-langit kamar.
Jika patokan kak Ra lima kali melakukan sudah merasakan enak, lalu patokan untukku itu berapa? Satu kali saja, rasa sakitnya ke mana-mana.
"Bang, kakinya gerak aja sakit. Pedih, kek sobek." Aku mencoba meluruskan kakiku perlahan.
"Maaf ya? Nanti dipakaikan salep." Ia meraih tangan kanannku dan menciumnya.
Pagi pertama ini tidak enak.
__ADS_1
"Pulang aja lah, tak usah jalan-jalan." Aku merasa seperti disiksa, jika lanjut berbelanja.
"Nanti minum obat, Dek. Ayah curiga pastinya, kalau kita balik lagi." Ia mengangkat tangan kirinya, ia melihat jam tangannya.
Ia keras kepala dan pemaksa orangnya. Tahu sendiri, tadi saja membujukku sedemikian rupa agar aku mau untuk melakukan pagi pertama dengannya.
"Wudhu dulu, lanjut mandi wajib." Ia bangkit dan meraih tisu yang berada di atas nakas.
Ia fokus pada miliknya, aku baru tahu saat duduk dan ternyata ia tengah melepas balon yang memiliki cairan di ujungnya.
"Dek, ini nih yang namanya cairan laki-laki. Benih, ini yang buat perempuan hamil. Tadi yang dimaksud aku dapat, ya dapat ini." Ia menunjukkan cairan putih seperti susu.
Aku manggut-manggut, aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Tadinya kami bermain di bawah selimut, tapi tiba-tiba selimutnya hilang entah ke mana.
"Mau makan apa?" Ia mengusap keringat di pelipisku.
Atmosfernya panas sekali, padahal AC-nya menyala.
"Perutnya tak enak, tak kepengen makan." Aku mengusap perutku.
"Kenapa, gitu?" Ia mengikuti gerakanku yang mengusap perutku sendiri.
Aku menggelengkan kepalaku, aku tidak mengerti keadaanku sendiri.
"Apa karena h******* kah?" Ia terlihat kasihan padaku.
"Mungkin." Aku bergerak pelan untuk turun dari ranjang.
Nyata, rasanya sakit pedih pada milikku. Aku sakit meringis, sampai akhirnya ia menyadari keadaanku.
"Maaf ya? Nanti libur kok."
Jika tidak libur, aku yang akan mengadu pada ayah. Namanya ia tega jika begitu, aku kesakitan dan ia tidak mengerti.
"Mandi duluan gih, sini aku bantu." Kaf meraih CDnya, kemudian ia memakainya dan berjalan ke kamar mandi.
Tak lama ia kembali, kemudian memberikan handuk dan baju handuk padaku. "Bersihkan dulu, terus niat mandi besar," ucapnya kemudian.
"Iya, Bang." Aku bangun perlahan, kemudian memakai baju handuk yang ia berikan.
Ia tanggap dengan meraihku dan membantuku berjalan. Ia terlihat perhatian dan kasihan padaku, entah sebenarnya bagaimana aslinya.
Namun, bertepatan dengan hal itu. Telepon yang tersedia di kamar ini berbunyi terus menerus.
__ADS_1
...****************...