Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS34. Sampai di rumah.


__ADS_3

"Sebentar ya, kamarnya dicek dulu?" ucap Dayana yang seolah-olah terlihat ramah. 


Dayana berbicara dengan teleponnya. Mungkin di seberang sana, tengah ada seseorang yang mengecek kamar. Mungkin pihak hotel takut televisi mereka dibawa kabur pengunjung, atau ranjang mereka ditukar dengan ranjang pikul seharga tiga ratus ribu. 


"Mau yang tipe ini kah, Dek?" Kaf membelakangi meja resepsionis, dengan menunjukkan layar ponselnya padaku. 


"Yang terbaru berapa harganya, Bang?" Ia menunjukkan model ponsel terbaru. 


"15 Pro Max kisaran dua puluh limaan, Dek? Mau yang ini? Mungkin di counter ada lebih berapa ratus." Ia tersenyum manis. 


"Jadi gimana, Dek? Masih enak?" Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari resepsionis yang menjaga mejanya seorang diri ini. 


Ia tersenyum lebar dan bertopang dagu dengan kedua tangannya. 


Kaf lekas menoleh, sejak aku melirik ke arah perempuan tersebut. 


"Apa masalahnya sebetulnya? Ini untuk pertama dan terakhir kalinya aku ke hotel ini, tak bagus betul pegawainya ganggu kenyamanan pengunjung." Kaf menunjuk-nunjuk meja resepsionis ini. 


"Ohh, jadi mau langsung ganti istri?" Dayana terkekeh renyah. 


"Pilihan orang tua ternyata kurang buat kau selera ya?" Ia melirikku dan memandang Kaf. 


Apa maksudnya? Ia merendahkanku? 


"Yang tak terpilih orang tua biasanya kecewa dan merusak." Kaf merangkulku dan membawaku duduk di sofa lobby yang tersedia. 


"Hei, kabur ya?" Dayana melambaikan tangannya ketika kami berjalan menjauh dari meja kerjanya. 


Kok begini ya pegawai hotel berbintang? 


"Dia anak pejabat katanya?" Aku memperhatikan Dayana dari jauh, kemudian memandang suamiku yang memasang wajah datarnya. 


"Iya, kenapa?" Ia melirikku sekilas, kemudian menatap lurus ke depan. 


Moodnya gampang rusak ternyata. 


"Apa orang tuanya bangkrut? Kok dia kerja jadi resepsionis? Kenapa tak menjabat kek orang tuanya?" Aku bingung dengan anak orang kaya di luar sana, pasalnya di keluargaku semuanya membuka usaha masing-masing, tidak malah bekerja begini. 


Atau memang, Dayana adalah jenis anak yang tidak mau diarahkan? Atau, ia hanya mencari pengalaman? Tapi pengalaman apalagi? Kan ia sudah memiliki anak juga. 

__ADS_1


"Mungkin kesepian, dia tinggal di rumah besar dekat lampu merah kampus itu. Dia tinggal seorang diri, orang tuanya bukan pejabat daerah sini. Petinggi semua, ada di Jakarta keknya."


Kesepian? Benarkah ada orang yang kesepian? Rasanya, yang penting punya uang saja deh. Teman pasti banyak, yang mengaku saudara pasti banyak. Tapi semacamnya kakakku, kak Ra. Ia punya uang, dia bahagia saja keluyuran sendiri dengan mobilnya dan dasternya. Anaknya sih lempar sana sini, untungnya anteng dan tidak rewel itu anak. Padahal ia mengaku tidak keluyuran, tapi pendapat anak-anak yang melihat pasti menyebutnya demikian. 


"Kak Ra mana pernah kesepian, ada anak juga sama kek dia. Tau sendiri orangnya gimana?" Aku sedikit merendahkan suaraku. 


"Ya mungkin beda orang, beda caranya menyikapi semuanya." Kaf lebih sudi memandang ke arah luar, ketimbang memandang keberadaan Dayana yang menggemaskan itu. 


"Permisi, Bapak Kaf." Dayana berseru. 


"Tunggu di sini aja ya, Dek?" Kaf bangkit dari duduknya. 


Daripada sendirian, aku nanti tidak tahu apa percakapannya dengan Dayana. Lebih baik aku ikut saja, daripada Dayana membicarakanku di depan Kaf. 


"Ikut, Bang." Aku menahan tangannya. 


Ia dengan cepat membantuku untuk bangkit. 


Ternyata tidak ada percakapan di luar tentang kamar yang kami sewa tadi. Tidak ada uang tambahan dan tidak ada kehilangan, kami langsung pergi setelah menyelesaikan hal-hal yang merepotkan tadi.


Aku lebih memilih tidur di rumah saja. Di hotel berbintang, cek out pun diperiksa segala. Dikira kami ingin mencuri apa ya? 


Hingga sampailah di rumah, aku dan Kaf dipelototi ayah. Bukan barang bawaan kami yang diperiksa, tapi melainkan ayah merebut aku dari rangkulan Kaf. 


"Istirahat, Dek. Duduk sini." Ayah langsung memberikan teh manis miliknya padaku. 


Terlihat dari isi gelasnya yang sudah tinggal setengah. 


"Ya ampun, Ayah." Kaf menghela napasnya dan masuk ke kamar lebih dulu. 


"Dari mana aja, Cantik? Ayah khawatir, sampai jam berapa ini?" Ayah menunjuk jam dinding. 


Aduh, bagaimana ya mengatakannya? Masa iya aku harus berbicara, ayah aku sudah bersuami, begitu? Atau, ayah aku pergi dengan suamiku? 


"Diajak jalan-jalan sama Kaf, Yah. Aku beli HP, terus masukin icloud lama. Jadi butuh proses juga untuk ini itunya. Belum lagi aku ke butik, aku beli-beli niqab banyak betul. Kaf ijinin aku pakai niqab." Aku berbicara dengan girang, karena memang sesenang itu aku akan mengganti penutup wajahku dengan kain yang lebih tertutup. 


Ayah terdiam, ia seperti kaget entah bagaimana. Karena memang sebelumnya, aku tidak pernah membicarakan tentang niqab itu. 


"Ayah cemburu." Ayah tertunduk murung. 

__ADS_1


"Kenapa, Ayah?" Aku mencium pipi ayahku. 


"Tak tau, rasanya cemburu aja. Yang kemarin selalu sama Ayah, selalu izin Ayah. Sekarang tentang niqab aja, Ayah tak tau apa-apa."


Apa ayah di seluruh dunia seperti ayahku? 


"Maaf ya, Ayah?" Aku bersandar pada lengan ayahku. 


Ingin berkata apalagi coba? Aku tidak mengerti kenapa ayah cemburu pada suamiku. 


"Gih, istirahat. Eh, tapi kau tak diapa-apain Kaf kan?" Ayah menahanku pergi. 


Menjawab apa ya? Jika jujur, apa Kaf dimarahin karena ingkar janji pada ayah? Jika berbohong, ya untuk apa juga? Kan Kaf suamiku juga, kami halal melakukan. Tapi untuk menjaga kepercayaan ayah dan agar ayah tidak berpikir buruk, aku menggelengkan kepalaku saja. 


Jika berbicara, aku pasti akan terlihat bohong. 


"Dek, minum suplemen dulu nih," seru Kaf bertepatan dengan aku yang kikuk di depan ayah. 


"Iya," sahutku cepat. 


"Bentar ya, Yah? Aku mau minum suplemen kesehatan dulu, bersih-bersih, sholat, terus lanjut beres-beres barang-barang yang aku beli." Aku bergegas pergi. 


"Oke, jangan capek-capek, Dek."


Aduh, nyerinya. Mungkin efek obat pereda nyeri itu sudah hilang, sekarang rasanya nikmat sekali ketika aku melangkah ke kamar. 


"Kenapa, Dek?" 


Hah? Ayah masih memperhatikanku? Apa jangan-jangan ayah memperhatikan langkah kakiku yang sedikit aneh karena nyeri di tengah-tengah sana. 


"Hmm?" Aku menoleh ke arah ayah. "Tak apa kok, Yah." Apa langkah kaki anehku tetap terlihat meskipun aku menggunakan pakaian yang lebar dan besar seperti ini? 


"Tak apa apanya? Kenapa langkah kaki kau begitu? Mampir ke mana dulu kalian?!" Suara ayah menggelegar, ayah malah masuk ke dalam kamarku dan mungkin ingin menemui dan menanyakan langsung pada Kaf. 


Semoga datang pencerahan dari seseorang, agar ayahku tidak mengamuk. Aku paham aku milik Kaf sekarang, Kaf berhak atas diriku. Ayah pun mungkin sangat mengerti akan hal itu, tapi rasa khawatir ayah pasti menutup wawasan yang ia miliki tentang hak-hak menantunya terhadap anaknya. 


Aduh, bagaimana ini? 


"Kaf!" Suara ayah terdengar amat tegas. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2