Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang
PdAS33. Mengganggu


__ADS_3

"Siapa yang tadi nelponin terus?" tanyaku kemudian, karena sejak di kamar mandi aku mendengar suara telepon berdering berulang kali. 


Kaf menaikkan dagunya. "Tak tau." Ia terlihat melamun. 


Apa ia lelah? Atau memang, gara-gara telepon kamar yang terus berdering itu? 


"Udah mandinya? Sini aku bantu salepin dulu." Kaf mengajakku ke ranjang kembali. 


Aduh, deg-degan lagi. Aku takut Kaf melakukannya lagi. 


Namun, saat Kaf sedang menjadi dokter milikku. Tiba-tiba, bel pintu terus berbunyi. Aku merasa seperti berada di film horor, karena tak terdengar suara orang mengucapkan salam atau apapun, tapi bell terus berbunyi. 


"Haduh…. Honeymoon package apanya begini sih?! Ganggu!" Kaf menggerutu hebat dengan turun dari ranjang. 


"Aku lagi begini, masa mau terima tamu?" Aku menerima selimut yang ia lebarkan untuk menutupi tubuhku. 


"Tak, aku mau lihat aja. Aku belum selesai, tunggu sebentar." Kaf berjalan ke arah pintu kamar hanya memakai celana jeansnya saja, tidak dengan kaosnya. 


Tidak terdengar suara pintu yang terbuka, tidak terdengar suara orang mengobrol. Beberapa saat kemudian, bell pun tidak berbunyi lagi. 


"Bang…." Aku takut ditinggalkan sendirian di kamar hotel ini. 


Aku langsung gigit jari, aku takut ketakutanku berkembang. Aku teringat saat Rai pergi melihat bukit dan aku merasa seperti ditinggal. 


"Hmm…."


Alhamdulillah, ada suaranya. 


"Lagi ngapain? Udah belum?" Aku menantinya muncul. 


"Belum, ayo diobatin lagi." Ia membuang napas panjang, ketika duduk di tepian ranjang kembali. 


"Siapa tadi?" Aku pasrah saja ketika ia membuka selimut dan menarik betis kakiku. 


Sejak tadi ia benar-benar mengobatiku, bukan mengobrak-abrikku. 


Setelah pulang nanti, aku harus bertanya pada kak Ra atau ayah. Kenapa hubungan suami istri rasanya sakit sekali? Tidak ada enak-enaknya, perut pun sekarang masih tidak nyaman. Aku berpikir Kaf tidak tahu caranya, pasti ia dokter yang keliru dengan ilmu. 


"Staff, mau bersih-bersih keknya." Ia mengoleskan hampir menuju ke belakang. 

__ADS_1


"Kasian betul, bonyok begini. Jadi takut sendiri, gimana ya penanganannya?" Ia menggelengkan kepalanya berulang. 


Aduh, apa katanya? Bonyok? 


"Bonyok gimana? Aku mau tau." Aku mencoba bangkit dan melihat ke arah bawah. 


Tetapi, sayangnya tidak bisa dan tidak terlihat. 


"Merah, Dek. Lecet kali ya, bisa dibilang? Punya kau kecil betul soalnya." Ia merunduk, terkekeh kecil dan mencium pipiku. 


"Jadi gimana? Siapa yang salah?" Aku bingung karena ia mengatakan milikku kecil. 


"Harus sering kawin." Ia berbisik dan terkekeh geli. 


"Ihh, tak mau. Sakit." Aku mendorong dadanya. 


Ia menahan tanganku. Aduh, ampun. Aku takut ia langsung mengajakku berguling dan melakukannya lagi. 


"Tak sekarang, setelah sembuh kita harus sering." Ia memamerkan giginya. 


Sorot matanya terlihat mengincar seperti itu. 


"Tapi sakit." Aku sudah membayangkan malam-malamku selanjutnya yang tidak nyaman untuk melakukan hubungan ranjang. 


"Gih, pakai lagi bajunya. Aku mandi dulu ya?" Ia bangkit dan berjalan memunggungiku.


Pipis dan cebok saja perih sekali. Jika terus melakukan, kan yang ada milikku tidak rapat-rapat. Nanti luka lagi, luka lagi. 


Ia tidak lama di kamar mandi. Aku masih bersiap dengan atribut pakaianku, ia sudah keluar kamar mandi dengan rambut yang basah. 


"Mau makan dulu, atau langsung ke mana?" Ia menggosok kepalanya dengan handuk kecil. 


"Masih kenyang, tapi cemilan aja boleh sih." Aku mual-mual makan buah-buahan, apalagi pisang. Bukan karena gejala hamil, tapi aku amat bosan. 


"Jajanan minimarket aja? Terus ke mana lagi?" Ia memakai pakaiannya satu persatu di depan mataku tanpa malu. 


"Pulang aja." Jika mengelilingi swalayan, rasanya aku tidak sanggup. Masalahnya, kondisiku tengah seperti ini. 


"Jangan dong, Dek. Ya udah, sesuai rencana aku aja ya?" Memang dasarnya ia orangnya pemaksa, tapi caranya lembut saja. 

__ADS_1


Daripada menggerutu di belakang, aku harus mengatakannya dengan terang bahwa ia adalah jenis manusia pemaksa. Ia meminta pendapatku, tapi ia memakai pendapatnya sendiri. Tadi saja melakukan hubungan suami istri, ia setengah mati membujuk agar aku mau. 


"Kenapa sih dari tadi maksa terus?" Aku memandangnya dengan lekat. 


Aku belum memakai penutup wajahku. 


"Maksa apa?" Ia menoleh ke arahku. 


"Tadi minta begituan, sampai nelpon mama Aca biar bujuk aku. Sekarang, minta jalan-jalan keluar maksa betul. Kan aku lagi sakit." Aku bukan tengah memelas, tapi aku tengah mengutarakan tentang sikapnya yang pemaksa. 


Ia malah terkekeh kecil, kemudian duduk di ujung ranjang. 


"Begituan? Laki-laki? Segitu aku sabar loh, maksa gimana? Kan pelan aja kan tadi, pemanasan dulu biar rileks." Ia beranggapan hal itu lucu. 


"Ya maksudnya tuh, tak hari ini tuh." Aku tidak mengerti, kenapa ia merasa dirinya sabar. 


"Pembaca ada komen, pagi akad nikah, sorenya mandi wajib. Aku hari keduanya, masa salah sih minta begituan sama istri?" Ia garuk-garuk kepala. 


Nada bicaranya serius, aku jadi kicep. Ia tidak salah juga, entahlah aku merasa bagaimana. 


Ya sudahlah, aku kehabisan kata-kata. Aku hanya diam, tertunduk lesu. 


"Jangan mikir ke mana-mana, jangan beranggapan aku jahat. Wajar lah suami istri begituan, mikirnya jangan macem-macem." Suaranya lembut kembali, ia memelukku dari belakang. 


Aku kenapa sih begini? Ia juga sih wajar, tapi kan ia membujuk terus menerus. 


"Maksud hati jalan-jalan, biar seneng. Masa iya shopping tuh tak senang? Beli HP untuk Adek, beli barang. Mau beli niqab juga katanya? Sakit apa sih? Sehat kok, nyeri sedikit wajar. Nanti obatnya udah ngefek, tak akan terasa kok nyerinya. Masa mesti di rumah aja, menikmati efek nyerinya? Yang ada nanti ayah kepikiran, yang ada nanti ayah ngiranya aku kasar. Apa aku kasar tadi?" Ia berada di bahu kiriku. 


Aku menggeleng samar. Bahkan aku minta ia agar cepat, karena aku sudah lelah menahan pedihnya. 


"Uang dari pernikahan kemarin kan untuk beli HP, sisanya beli emas kah apa terserah. Nanti uang dari aku yang aku ambil tadi pagi, untuk pegangan jajan dan belanja. Maaf ya belum bisa belikan HP dari uang pribadi, tapi insyaAllah pasti aku belikan benda yang lebih berguna dan bermanfaat dari penghasilan aku untuk Adek Cani yang cantik macam Memei." Ia menempelkan kedua telunjuknya di kedua pipiku. 


Aku terkekeh kecil, karena teringat film kartun kesukaan Galen yang ada scene Memei yang cantik tersebut. 


"Cek out yuk? Biar tak digangguin aja. Hotel ini kita tandai, tak rekomended ini." Ia melepaskan pelukannya, kemudian ia mengambil barang-barang untuk tempur tadi. 


Aku lanjut berdandan, menutup kembali wajahku karena aku lebih nyaman diriku tidak terlihat menarik di pandangan orang. Eh, tapi ia mengatakan digangguin? Memang siapa yang mengganggu? Apa staff yang membunyikan bell terus menerus tadi, atau telepon kamar yang terus berbunyi tadi? 


Namun, mendengar kata cek out. Aku teringat jika kamu harus kembali ke resepsionis, kemudian kami akan bertemu dengan Dayana Fiki Kazakhstan itu. 

__ADS_1


Apa motifnya berlaku seperti itu pada Kaf? Apa mereka punya masa lalu yang sulit ditinggalkan, sampai Dayana berusaha mengingatkan kembali kenangan mereka pada Kaf? 


...****************...


__ADS_2