
"Kaf suruh pulang, Cani tak boleh keluar dari rumah ini." Ayah menoleh padaku dan memandangku cukup lama.
"Masih kaku hati lah dia, Van. Anak kau aja sana suruh jemput suaminya." Mama Aca memandangku dengan bersedekap tangan.
"Apa-apaan begitu?!" Ayah sampai memukul pangkuannya sendiri.
"Lah, ya gimana? Apa tak wajar? Suami istri loh, yang buat kaku hati suaminya itu ayahnya sendiri." Mama Aca membuang napasnya perlahan.
"Terus harus Cani mohon-mohon ke Kaf gitu?!" Ayah sampai melotot-melotot.
"Ya tak juga, biarin mereka tetap tidur seranjang juga kenapa sih? Masa kau yang buat kaku, anak kau yang harus tidur sendiri? Kau mau jandakan anak kau dalam semalam? Kek si Ra lagi? Silahkan, kaku hati aku besanan sama kau. Untung Nahda tak macam-macam, untung Chandra tak aneh-aneh. Kasian kalau diceraikan sama kau, anak-anaknya banyak." Mama Aca berbalik badan dan melangkah pergi dari ruang tamu ini.
"Sana bawa! Bawa Caninya!" seru ayah dengan menunjuk ke arah rumah mama Aca berada.
Mama Aca berhenti melangkah. Ia berbalik badan dan tersenyum lebar. "Nah, gitu aja apa susahnya? Tak dibawa kabur, tak dihilangkan juga. Dia ada di rumah aku, dia tak dibawa merantau sama Kaf." Mama Aca berjalan ke arahku. "Ayo, Dek. Ambil beberapa pakaian kau untuk salin kau." Mama Aca membantuku bangkit.
Aduh, nyerinya. Tapi aku mencoba biasa saja, agar ayah tidak semakin mencak-mencak. Bingung aku pun ingin heran pada siapa, Kaf ya seperti Kaf, ayah ya seperti ayah.
"Tiga setel baju tak masalah, Dek. Untuk ganti-ganti gitu, sama baju tidur yang nyaman. Kau punya gaun terbuka?" Mama Aca membantuku memilihkan baju.
"Gaun terbuka? Kan aku pakai kerudung, masa pakai gaun terbuka?" Aku heran mendengar ucapan mama Aca.
"Ish, ada. Nanti Mama belikan di online, karena di daerah sini hampir tak ada yang jual. Biar rahasia tetap terjaga juga, gitu kan? Biar tak malu." Mama Aca cekikikan.
Apa yang beliau maksud ini?
Ayah sudah tidak lagi di ruang tamu, dipanggil pun ia tak menyahut. Sepertinya ayah benar-benar bad mood, atau memang ayah tengah keluar dari rumah. Jadi aku pergi dengan mama Aca tanpa izin dari ayah.
Sesampainya di kamar Kaf, aku kembali heran karena ada foto lamaku yang terpajang di sana. Aku pernah masuk ke kamar Kaf saat ia tengah ada di Malaysia, tapi foto itu tertutup kain dan beberapa barang-barangnya tertutup kain semua. Aku tidak tahu begini penampakan kamar pak dokter, ketika ada pemiliknya.
"Udah makan kan? Gih istirahat." Mama Aca hanya membukakan pintu kamar Kaf, kemudian ia mendorongku masuk dan menutup lagi pintunya.
__ADS_1
Aku sudah makan di luar, makanya tadi Kaf langsung menyuruhku minum suplemen.
"Bang…." Aku mendekati ranjangnya, karena ia tengah tengkurep di sana dengan masih mengenakan celana jeans yang pagi tadi.
"Hmm, sini tidur." Ia menepuk tempat di sampingku.
Semakin terlihat, semakin jelas bahwa ia sudah memejamkan matanya. Tapi telinganya masih berfungsi.
"Mau minta obatnya, punya aku sakit lagi." Aku tidak mau tidak bisa tidur karena nyeri itu.
"Ada di mobil, Dek. Sebentar." Ia membalikkan tubuhnya dan ia merenggangkan ototnya.
Tak lama ia bangun, ia duduk dan mengucek matanya.
"Ya ampun." Ia terlihat kaget saat menoleh ke arahku.
"Minggat, Dek?" Ia terkekeh kecil dengan arah pandangannya terarah ke tas jinjing yang aku bawa.
"Kata mama Aca suruh bawa baju." Aku menaruh tas jinjing itu di lantai.
Aku kira ia tengah mangamuk atau bagaimana? Ternyata tengah mengantuk. Niat mama Aca bagus juga, tapi aku kira Kaf yang tengah kaku hati itu tengah mengadu hebat pada orang tuanya.
Aku memilih pakaian dan berganti pakaian di kamar mandi. Namun, saat aku membuka pintu kamar mandi. Aku dikejutkan dengan makhluk tinggi besar plus hitam itu yang tengah berganti baju.
"Kaget." Aku mengusap-usap dadaku sendiri.
Dengan santainya ia memasukkan miliknya ke dalam wadah barunya. "Itu obatnya di nakas. Aku mau cuci muka dulu." Ia berjalan ke arah kamar mandi hanya menggunakan CD.
Ya ampun, lucunya.
Aku jadi terkekeh sendiri, aku geli melihatnya seperti tuyul dalam ukuran besar. Galen kalah lucunya, ternyata orang dewasa yang seperti tuyul lebih menggelikan.
__ADS_1
Pagiku baik-baik saja meski di rumah mertua, hanya saja aku merasa canggung. Tidak ada pekerjaan yang harus aku kerjakan juga, apalagi Kaf temanku satu-satunya itu malah pergi untuk mengecek rumah sakit keluarga.
Notifikasi banyak muncul di ponsel baruku. Iseng-iseng, aku menyimak pesan yang masuk melalui direct message itu.
Dayana Aulia.
Ohh, jadi itu nama asli si resepsionis itu. Tapi kenapa nih ia mengirimiku pesan, serta mentap love semua postinganku yang tidak jelas ini. Ya karena semua postinganku tidak ada wajah diriku, hanya jepretan asal yang memperlihatkan tumpukan buku atau semacamnya. Cuma memang, Kaf memfollow akunku, mungkin karena itu Dayana menemukan akun milikku.
Istri Kaf ya?
Isinya seperti itu, aku pun tidak meladeni pesan darinya. Namun, aku malah penasaran isi dari profil Dayana tersebut.
Jadi ia sudah janda, aku menemukan postingannya dengan isi map dari pengadilan agama. Foto yang ia posting banyak sekali, bahkan sampai ribuan.
Namun, tambah ke bawah. Aku merasa kenal dengan sebuah motor yang di posting oleh Dayana. Ya, itu motor suamiku.
Tahun upload foto tersebut sudah sangat lama, kualitas gambarnya pun jelas berbeda dengan foto terbarunya. Memang suamiku tidak pernah ganti motor, itu adalah motornya sejak dulu.
Bertambah ke bawah ada lagi postingan tangan seseorang yang memakai jam tangan. Tangan berurat itu sepertinya tangan suamiku, berarti benar mereka pernah ada hubungan.
Foto yang semakin membuatku terkejut adalah, foto Kaf memakai ransel dan ia membelakangi kamera.
Kok ada ya perempuan tidak menghapus foto kenangannya, padahal ia sempat menikah dan berumah tangga dengan laki-laki lain.
Di postingan yang paling akhir dan paling bawah, ada video singkat yang memperlihatkan tangan berurat itu lagi dengan suasana ruangan yang gelap. Namun, tidak terlihat pemilik tangan tersebut.
Seperti di dalam kamar dan dalam keadaan lampu kamar yang mati, lalu flash dari ponsel dinyalakan saat membuat video singkat tersebut. Suasananya seperti sepi, galau dan menyedihkan dalam video singkat itu. Ya karena gelap seperti itu dan disertai tangan laki-laki tanpa rupanya.
Ngomong-ngomong, ngapain ya Kaf berada di kamar yang gelap dengan Dayana?
Teringat kembali tentang Dayana yang tinggal sendirian di rumah megah milik orang tuanya, apa Kaf sering menemani Dayana yang kesepian di rumah besar itu seorang diri?
__ADS_1
Rasanya, rasa cemburuku bangkit membayangkan suamiku bersama perempuan lain.
...****************...