
"Apa, Yah?" Ayah cekikikan.
"Apa! Apa! Apa!" Ayah bertolak pinggang menatap Kaf yang tengah mengganti kaosnya.
"Yah, maaf betul ini, Yah. Numpang-numpang." Kaf yang tidak memakai kaos mendekati ayah, kemudian ia merangkul ayah dan mengajaknya berjalan ke arahku yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
"Ini nih istri aku, dosa dia aja nih udah aku yang nanggung. Kek mana lah Ayah bisa marah, wajar tak sih Yah anaknya digaulin menantunya?" Kaf menepuk pundakku.
Secara tidak langsung, Kaf mengatakan kebenaran di kamar hotel tadi.
Ayah langsung mencilak melihat wajah Kaf yang berada di dekatnya itu. Aku tidak bodoh-bodoh sekali, ayah pun pasti paham dengan jelas apa yang Kaf ucapkan.
"Kan Ayah udah bilang!" Ayah melepaskan rangkulan Kaf dan mendorong Kaf.
Aduh, aku sempat khawatir ia terhuyung. Untungnya tubuhnya besar, jadi ia kuat menahan dorongan dari ayah.
"Di sini itu, biar Ayah tau kalau ada apa-apa!" Ayah menuangkan emosinya dalam suaranya.
"Yah, aku laki-laki dewasa loh. Masa Ayah gitu ke aku, kek tak sama laki-lakinya aja." Kaf merengut seperti anak kecil.
"Memang keputusan Ayah nyusahin kau?! Memang Ayah ngelarang? Kan tak juga, cuma minta untuk di sini. Apa susahnya sih?! Dengan kau nyolong-nyolong begini, yang ada Ayah mikir kalau kau tak bisa memperlakukan dengan baik dan biar tak kena tegur Ayah." Ayah menunjuk-nunjuk Kaf dan melangkah maju mendekati Kaf, Kaf sampai terduduk di tepian ranjang karena terus mundur untuk menghindari ayah.
"Terserah lah!" Kaf beringsut dari telunjuk ayah, begitu jaraknya sudah terpojokkan oleh ayah.
"Mau ke mana?" tanyaku, ketika ia melewatiku begitu saja.
"Pulang," jawabnya dengan berlalu, dengan masih menggunakan celana jeans yang pagi ia kenakan.
Mungkin jika menantu lain akan canggung tidak memakai kaos di rumah mertua, tidak ingin Kaf. Tapi lihatlah sekarang? Ia malah marah dan mengatakan dirinya pulang.
Bingung berada di posisiku, menasehati ayah pun bagaimana? Aku anak yang jelas akan dipandang kecil terus oleh ayah, nasehatku pasti tidak dianggap.
"Anaknya Ghifar ya begitu, Ghifarnya kan gitu kalau marah ya pulang ke rumah orang tuanya." Ayah berbicara lantang keluar dari kamarku.
"Udah, kau tak usah nyamperin dia. Ngapain begitu?! Nikah baru dua hari kek yang sanggup sendiri!" Suara ayah terus terdengar.
__ADS_1
Ke mana pawangnya ayah?
Hmm, baru juga terbiasa dengan sosok suami. Ayah malah begitu.
Ingin mendamaikan mereka pun bingung, harus dari sebelah mana? Menasehati ayah, pasti dibilang berat ke suami. Menasehati Kaf, pasti dibilang aku miliknya dan sudah menjadi haknya.
"Biyung…." Aku memanggil ibuku.
Ke mana beliau? Kenapa tidak ada suaranya?
"Tak ada, Dek. Lagi di rumah kak Ra, dia lagi tak enak badan. Tadi dua jagoannya ke sini, bantu rawat mamah yuk nek katanya." Ibu Maimunah menceritakan dengan terkekeh kecil.
Hufttt…. Kesal sendiri rasanya, panutanku begitu, suamiku pun begitu. Kan aku yang menjadi korban.
"Assalamu'alaikum…. Ada tamu nih." Seseorang membuka pintu rumah kami, berarti orang tersebut bagian dari keluarga besar kami. Karena ia tahu pin atau sidik jarinya terdaftar di gagang pintu rumah ayah.
"Mana ayah kau, Dek?" Ternyata mama Aca yang datang, beliau bahkan memakai kain untuk dijadikan penutup kepala.
Asal cepat saja.
"Duduk dulu, Dek. Mama mau minta izin ayah kau untuk jemput kau." Mama Aca malah membantuku untuk duduk, tapi dirinya tetap berdiri.
Ia seperti tahu bagaimana kondisi milikku yang memang bergerak sedikit saja pun sakit.
"Van…." Suara mama Aca seperti memakai toa.
Apa benar aku akan ikut mertua?
"Hmm…." Suara sahutan ayah, dibarengi dengan pintu kamar ayah yang terbuka.
"Apa?" Ayah berjalan mendekati kami yang duduk di sofa ruang keluarga.
"Aku mau jemput menantu ya?" Mama Aca langsung menoleh ke arah ayah.
"Tak boleh!" ketus ayah kemudian.
__ADS_1
"Apa sih kau? Kolot betul jadinya. Anak perempuan kau itu hak Kaf, Van. Bolehlah kau ambil Cani, kau larang Kaf nemuin Cani, kalau dia durhaka jadi suami, kalau dia jadi suami yang tak betul. Ini belum kelihatan betul taknya, belum ada salahnya di mana, kau walinya udah main ikut campur aja. Biarin mereka dewasa dengan hubungan mereka, jangan terlalu mencampuri, bisa kan?" Mama Aca datang ke sini, ternyata berniat menegur ayah.
"Aku khawatir, Kak. Aku takut Cani dapat pengalaman pertama kek Canda, aku takut dia trauma." Pernyataan ayah ambigu sekali.
Eh, tapi aku salah fokus dengan sebutan ayah pada mama Aca. Jadi sebenarnya ayah memanggil mama Aca itu dengan sebutan kakak ya? Di sini siapa yang lahir lebih dulu dipanggil kakak, ternyata adat di sana berbeda.
Oh, iya. Orang tuaku pendatang semua, bukan orang asli daerah sini. Nenekku yang menikah lagi dengan orang sini, sedangkan ayah adalah anak bawaan nenek dari pernikahan sebelumnya. Mama Aca adalah anaknya kakaknya nenek yang datang ke sini, tapi malah menikah dengan anaknya nenek dengan kakekku yang asli orang sini.
"Semua orang bawa nasibnya sendiri-sendiri, Van. Lagian, Kaf di bawah tangan aku kok. Tak kurang-kurangnya aku kasih wejangan ke dia, tak akan dia kasar kek kau kan?" Mama Aca berani sekali menatap ayah dengan marah.
Ini di luar hubungan ipar, ini adalah hubungan sepupu.
"Terus kau pikir mamah aku kurang kasih wejangan ke aku?!" Suara ayah ngegas saja.
Ayahku seperti ini, kadang semua orang tak mau menaklukkan sifatnya yang keras itu.
"Kan hati kau yang rusak, iri terus. Lagian kasusnya juga beda, Kaf dan Cani udah nikah. Sedangkan kau sama Canda??? Beda kan?" Mama Aca bersedekap tangan dan menaikkan dagunya sampai penutup kepalanya merosot.
Ia cepat-cepat membenahi penutup kepalanya, meski aku yakin ayah sudah melihatnya.
"Aku susah percaya sebetulnya, aku takut, aku khawatir." Ayah terduduk di sofa ruang keluarga.
"Kasihlah kepercayaan untuk anak muda, kita cukup perhatikan dan tegur kalau salah. Kalau kau tak yakin dengan perlakuan Kaf, coba tanyakan ke Cani langsung. Kaf itu anak orang, dia mesti ada rasa tak suka kalau kau sudutin. Beda sama anak kau yang kau usir pun, mereka akan tetap datang tanpa salam kek tikus."
Aku kaget melihat mama Aca meraup wajah ayah. Ia berani sekali, padahal ayah sudah mode smackdown.
"Ngadu apa anak tiri kau?" tanya ayah dengan mendongak dengan berani pada mama Aca yang berdiri di depannya.
"Tak ngadu, dia mulutnya kek Ghifar kalau marah itu diem. Kau kasian sama anak kau coba, Van! Jangan terlalu campuri, nanti anak kau cepat jadi janda. Kalau memang ada yang tak cocok sama dia ke Kaf pun, pasti bilang ke aku kok."
Aku memandang mama Aca mendengar ucapannya. Ohh, jadi aku diminta mengadu ke mama Aca ya jika ada sikap Kaf yang tak cocok?
Aku memikirkan ucapan mama Aca, benarkah selama ini ayah terlalu mencampuri rumah tangga anak-anaknya? Sampai-sampai kak Ra menikah tiga kali begini.
...****************...
__ADS_1