PEMBALASAN DENDAM CLARISA

PEMBALASAN DENDAM CLARISA
BAB 14 : PERNIKAHAN YANG MEMBAWA LUKA


__ADS_3

Acara pesta pertunangan Adnan dan Jane yang meriah telah berakhir. Semua tamu yang hadir sudah kembali ke tempat mereka masing-masing. Jane, Sandra dan Juga Alvaro kembali dengan membawa kekecewaan yang begitu besar. Ketiganya terlihat sangat marah dengan kejadian yang terjadi di pesta malam ini. Jane merasa kecewa karena kekasihnya Adnan bukanlah pewaris kekayaan ayahnya melainkan Cristian tuan muda sesungguhnya dan yang pantas mewarisi kekayaan Mahendra.


Sementara di Mansion keluarga Mahendra. Cristian dan Juga Clarisa disambut begitu hangat oleh tuan Mahendra. Ia sangat bahagia dengan kedatangan putra pertamanya itu. Cristian memang berhak untuk mewarisis seluruh kekayaan ayah kandungnya karena Ia adalah anak dari istri pertama tuan Mahendra.


Jika wajah bahagia terlihat jelas di wajah tuan Mahendra lain halnya dengan Maharani dan juga Adnan Mahendra. Ia berusaha menahan kekesalan dan juga amarahnya dengan senyuman kepalsuan.


Mereka semua berkumpul di ruang tamu. Cristian dan Clarisa duduk bersama dengan saling menatap penuh cinta agar orang yang melihatnya yakin bahwa Cristian dan juga Clarisa menikah karena saling mencintai.


"SAYANG, apa kau lelah?" Tanya Cristian menatap lekat wajah istrinya yang terlihat lelah karena sedari tadi Ia belum istrihat dan perjalan yang panjang membuat Clarisa kelelahan.


"Sebaiknya kalain istirahat, kalian pasti lelah?" Ucap Maharani dengan begitu lembut.


Ia ingin menunjukkan bahwa Ia adalah ibu yang baik kepada semua orang dan juga di depan tuan Mahendra suaminya.


"Terima kasih, ibu mertua sungguh baik." Jawab Clarisa.


"Pergilah bersama ibu! aku akan menyusul nanti, ada hal yang masih ingin aku bicarakan dengan ayah, Selamat malam sayang." Cristian membelai lembut rambut istrinya dengan penuh cinta di depan ayah dan juga adiknya.


Adnan hanya menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan, Matanya menatap penuh kekesalan sambil tetap tersenyum bahagia. Ia berpura-pura senang dengan kedatangan Cristian padahal dalam hatinya penuh dengan perasaan iri dan juga benci.


Clarisa berpamitan kepada Ayah mertua dan juga adik iparnya.


"Selamat malam ayah dan juga adik ipar." Ucap Clarisa.


"Selamat malam Nak." Ucap Mahendra.


"Selamat malam kakak ipar." Ucap Adnan dengan tersenyum tipis.


"Apa benar mereka menikah karena saling mencintai, Wanita ini terlihat tidak menarik sedikitpun." Batin Adnan menatap punggung Clarisa yang sudah berjalan menaiki tangga berasama dengan Maharani.


"Sekarang istirahatlah, ini kamar suamimu." Maharani membuka pintu kamar dan menyuruh Clarisa untuk masuk ke dalam kamar Cristian. Kamar Cristian masih terlihat begitu rapi walau Ia jarang menempatinya.


"Terima kasih bu." Ucap Clarisa lembut.


Maharani tersenyum sekenahnya saja. Ia benar-benar tidak menyukai wanita yang menjadi menantunya itu.


Clarisa ingin segera merebahkan tubuhnya dan istirahat tetapi Maharani mencegahnya.


"Tunggu." Maharani menghetikan langkah Clarisa yang ingin mendekat ke tempat tidur. Clarisa berbalik dan menatap malas ke arah Maharani. Mau apa lagi wanita ini. Begitu yang ada dipikirannya.

__ADS_1


"Ada apa ibu mertua?" Tanya Clarisa.


"Ibu ingin menyampaikan sesuatu, sebagai menantu pertama di rumah ini kau harus menuruti semua ucapan ibu, jangan membantah dan turuti perintahku, aku adalah nyonya di rumah ini, Kau bisa melakukannya kan?" Maharani menatap Clarisa dengan tatapan mengintimidasi dan menekan agar Clarisa mau menuruti setiap ucapannya.


Maharani pikir bahwa Clarisa adalah gadis polos, lemah dan penurut. Ia tidak mengetahui bahwa Clarisa adalah gadis yang tidak akan mudah Ia tindas.


"Maafkan aku ibu mertua, aku hanya akan menuruti ucapan suamiku, sebaiknya mulai saat ini ibu mertua harus menuruti ucapan suamiku, Karena sekarang suamiku adalah pewaris seluruh harta dari ayah mertuaku, Bukan kah begitu ibu mertua?" Clarisa tak mau kalah Ia mentap dengan tatapan menekan dan juga begitu tajam.


"Jangan besar kepala kamu karena kau menjadi istri dari putraku, aku akan pastikan kau akan ditendang dari rumah ini segera." Tangan Maharani terkepal kuat dengan wajah merah padam karena kekesalannya sudah menembus ubun-ubunnya.


Sungguh wanita yang ada di depannya saat ini terlihat polos tapi juga menakutkan. Tatapan matanya tiba-tiba menjadi mengerikan.


"Aku tunggu saat itu ibu mertua." Ucapnya menantang. Sesaat mereka saling menatap dengan tatapan penuh kebencian.


Clarisa sudah mengetahui bahwa Maharani adalah ibu tiri yang begitu kejam, licik, penuh ambisi dan akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang Ia inginkan meski harus mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah sekalipun. Watak Maharani tak jauh berbeda dengan ibu tirinya. Jika dulu Clarisa begitu lemah dan selalu menunduk dan patuh dengan perintah dari ibu tirinya dan juga saudara tirinya. Maka saat ini Ia bukan lagi Clarisa yang penakut dan mudah ditindas. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk tidak lemah dan menjadi wanita tangguh dan kuat menghadapi siapapun yang akan menindasnya.


"Jangan harap kau bisa menindasku dengan muda ibu mertua, kau akan lihat wanita seperti apa yang menjadi menantumu." Batin Clarisa dengan tersenyum tipis.


"Aku akan menyingkirkanmu dari rumah ini dengan cara apa pun, kau akan menjadi penghalang rencanaku." Batin Maharani.


Maharani meninggalkan Clarisa dengan wajah penuh amarah. Ia sangat kesal dengan menantunya itu.


Cristian membuka pintu kamarnya. Lampu kamar masih menyala. Clarisa sudah tidur terlelap di kasur empuk milik suaminya. Wajahnya begitu damai dan tenang. Seolah Ia melupakan bahwa hari ini Ia baru saja bertemu dengan para iblis berhati busuk.


Cristian duduk di samping istrinya yang terlelap. Ia menarik selimut menutupi tubuh istrinya. Tanganya menepuk lembut kepala Clarisa dengan penuh cinta.


"Aku akan melindungimu dan berada di sisimu, apa pun yang terjadi nanti, Biarkan aku yang mencintaimu dan menunggumu sampai kau membuka hatimu untukku." Cristian berbicara pelan sekali dengan senyum di bibirnya.


Cuppp.....


Ia mendaratkan kecupan lembut di kening Istrinya. Hatinya menjadi sakit melihat wajah polos istrinya yang sudah melalui banyak hal yang menyakitkan. Ia merasa takdir telah membawanya bertemu dengan wanita yang memiliki cerita hidup dan juga penderitaan yang sama dengannya. Perasaan ingin melindungi wanita yang ada di dekapannya semakon besar. Cristian tahu bahwa musuh yang mereka hadapi bukanlah musuh yang mudah Ia singkirkan. Namun, Ia akan melakukan cara apa pun untuk melindungi istrinya. Wanita yang tidak seharusnya mengalami hal menyakitkan hanya karena perebutan harta.


Cristian akan menunggu sampai Clarisa mencintainya dan menerimanya sebagai suaminya. Pernikahan mereka hanyalah pernikahan dengan tujuan tertentu. Cristian sudah jatuh cinta dengan Gadis yang ada di hadapannya itu. Clarisa adalah gadis yang mampu membuat jantungnya berdetak kencang. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu telah menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya.


Cristian tidur di samping istrinya. Ia memeluk dan membenamkan wajahnya di punggung istrinya dan ikut terlelap menuju alam mimpi.


*****


Sementara itu, Radit dan Jenny baru saja tiba di apartemen mereka. Malam ini Jenny akan kembali melakukan rencananya agar Radit mau menyentuhnya meski dengan cara apa pun.

__ADS_1


Jenny sudah menunggu Radit di tempat tidur dengan gaun tipis membalut tubuhnya. Ia duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Radit sudah selelai mandi dan Ia segera keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Jenny menatap Radit dengan tatapan penuh hasrat. Dada bidang Radit membuat jantungnya berdetak kencang. Ia mendekat dan meyentuh dada bidang Radit yang masih basah. Radit membiarkan Jenny melakukan apa pun.


Ia membuka lemari memgambil piyama tidur dan memakainya.


"Sayang....."Bisik Jenny di telingan Radit dengan mesra.


"Aku sedang lelah dan mengantuk, aku ingin tidur, jangan menggangguku." Ucapnya dengan dingin. Ia Naik ketempat tidur menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Jenny hanya diam mematung menatap ke arah suaminya.


"Radit... kau tahu pernikahan kita sudah satu bulan dan kau belum pernah menyentuhku, aku berhak untuk memintanya." Jenny berbicara dengan suara serak menahan tangisnya.


"Aku tahu kau pura-pura tidur, kenapa kau selalu menghindariku Dit?"


"DIAMLAH, kau benar-benar menganggu tidurku." Bentak Radit. Ia bangun dari tempat tidur dan berjalan ke lemari mengambil kemeja dan mengganti pakaiannya. Ia mengambil kunci mobil yang ada di atas nakas.


"Kau mau kemana Radit?" Tanya Jenny dengan penuh amarah.


Radit tidak menjawab pertanyaan Jenny. Ia berjalan keluar dari kamar.


Braaakkkk....


Radit membanting pintun kamar dengan kasar. Ia memutuskan untuk menginap di apartemen miliknya yang lain untuk menghindar dari Jenny yang tidak bisa membuatnya tenang.


Di apaertemen Radit ada kamar yang lain. Namun, Ia tidak ingin tidur di kamar tersebut. Dahlia, ibu Radit pernah menemukan putranya yang tidur terpisah istriny membuat ibunya marah dengannya.


"Siaaallllllll, Dia selalu saja membuatku tidak tenang, Wajahnya membuatku semakin kesal." Radit memutuskan untuk ke Bar menikmati segelas Wine agar pikirannya bisa tenang. Pernikahannya dengan Jenny membuatnya tertekan setiap hari. Tiada hari yang mereka lalui tanpa pertengkaran dan itu membuatnya stres.


Jenny terisak dengan wajah penuh kemarahan.


Praankkkk....


Ia membantin seluruh barang-barang yang ada di kamarnya. Foto-foto pernikannya dengan Radit pun hancur berantakan di lantai.


Jenny mengambil satu botol Wine yang ada di dapur dan menuju ruang tamu. Malam ini Ia akan meminum Wine sampai mabuk. Ia ingin melupakan penghinaan yang Radit lakukan. Harga diri Jenny seolah diinjak oleh Radit yang selalu menolaknya.


Jenny menatap nanar foto pernikahan berukuran besar yang tergantung di dinding.


"Ahhhhhhhh, aku benci denganmu Radit, kau jahat, kenapa kau selalu menolakku?" Jenny melempar Foto yang berbingkai kaca dengan Vas bunga membuat foto itu hancur seketika. Pecahan kaca berhamburan di lantai dan melukai kakinya. Darah mengalir di kaki Jenny. Namun, Ia tidak merasakan Sakit apa pun. Hatinya jauh lebih sakit dari luka yang ada di tubuhnya.


Kekesalan Jenny sudah mencapai puncaknya. Jenny meneguk wine langsung dari botolnya. Malam ini Hatinya sangat sakit dan hancur. Seluruh isi apatemen Radit hancur berkeping. Jenny melampiaskan kekesalannya dengan barang-barang yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


Beraambungggg.......


__ADS_2