PEMBALASAN DENDAM CLARISA

PEMBALASAN DENDAM CLARISA
BAB 19 : MENYELINAP PART 01


__ADS_3

Kekeksalahan Jenny semakin memuncak karena Radit belum juga kembali ke apartemen. Jenny mencoba menghubungi ponsel Radit beberapa kali namun, ponsel Radit tidak aktif membuatnya semakin kesal. Tadi pagi Ia menerima surat dari pengacara Radit. Surat perceraian dan Ia tidak ingin berpisah dari Radit. Pernikahan mereka berdua baru seumur jagung dan Radit sudah ingin menceraikannya. Ia semakin frustasi dengan keadaan rumah tangganya


Di sini lah Jenny berada di salah satu Club malam untuk menghilangkan rasa frustasinya. Ia menenggak beberapa gelas Wine.


"Hikkksssss.... Aku membencimu Radit." Jenny sudah mabuk dan bicaranya terdengar tidak jelas.


Jenny tidak berani kembali ke rumah orang tuanya. Ia hanya akan terkena marah oleh Ayah dan ibunya. Akhirnya Ia lebih memilih pergi ke Club malam berharap semua masalahnya bisa hilang dalam sekejap.


Jenny berjalan semponyongan ingin keluar dari Club tersebut. Ia memegang kepalanya yang terasa pusing.


Bugggg....


Tubuhnya menabrak seorang pria hingga Ia jatuh tersungkur di lantai. "Radit.. Kau datang menjemputku." Lirihnya. Penglihatannya yang samar-samar tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria yang berdiri dengan tegap di depannya itu.


Pria itu tersenyum licik ke arah Jenny. Sungguh cantik wanita yang ada di depannya ini. Pikir pria tersebut.


"Aku akan membantumu nona."


"Ayo.. bangunlah!" Ia membantu Jenny berdiri dan memapahnya menuju mobil yang terparkir di luar. Pria itu membawa Jenny masuk ke dalam mobil dan membawanya entah ke mana.


"Wanita ini sungguh cantik dan seksi." Ucapnya menatap ke arah Jenny dengan tatapan penuh hasrat. Mobil berhenti tepat di salah satu hotel ternama. Pria itu membuka pintu mobil dan membawa Jenny masuk ke dalam hotel.


****


Di tempat yang lain, Radit baru saja selesai meeting. Selama ini Ia tinggal di salah satu apartemen miliknya yang tidak di ketahui oleh Jenny. Radit tidak ingin kembali ke rumah kedua orang tuanya karena Ia hanya akan mendapat amukan dari ayahnya. Tuan Bimantara dan Alvaro sedang menjalin hubungan kerjasama. Dan Radit tahu Ia tidak akan bisa mengakhiri hubungannya dengan Jenny dengan mudah. Namun, Ia akan tetap pada keputusannya untuk menceraikan Jenny secepatnya. Pernikahan tanpa cinta hanya akan membuat hidupnya semakin tertekan.


"Sebaiknya kau kembali dan selesaikan masalahmu, aku akan mengantarmu pulang, kau sudah sangat mabuk!" Radit hanya ingin melupakan sejenak masalahnya dengan minum sampai mabuk.


"Pulanglah! Aku bisa pulang sendiri." Perintahnya kepada asisten dan juga teman baiknya itu. Ia masih ingin berada di club tersebut.


"Tapi Radit."


"Kau tidak dengar yang aku katakan hah." Bentak Radit.


"Aku akan tetap disini dan menunggumu."


"Kau mau aku pecat hah." Bentaknya lagi membuat laki-laki yang menjadi asisten sekaligus teman baik Radit memutuskan untuk kembali dan memberi waktu untuk Radit sendiri. Ia tahu Radit pria yang keras kepala dan sekali Ia mengatakan maka perintahnya tidak bisa dibantah.


"Baiklah, Jaga dirimu." Menepuk bahu Radit dan berlalu meninggalkan Radit yang sudah mabuk.


Radit berjalan semponyongan dengan kepala yang terasa berat. Penglihatannya sedikit kabur. Ia berjalan gontai keluar dari Club menuju mobilnya.


Bugggg....


Tubuhnya bertabrakan dengan seorang wanita. "Maafkan saya nona." Ucapnya pelan.

__ADS_1


"Tidak apa tuan, aku juga tidak melihat Anda tadi, apa anda baik-baik saja Tuan?" Ucap Wanita itu lembut dan begitu sopan. Ia menatap Radit yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Hemmmmm." Radit kembali berjalan dengan gontai menuju tempat di mana Ia memarkirkan mobinya. Ia hampir saja terjatuh beruntung wanita itu membantunya.


"Biar saya membantu anda tuan." Wanita itu memapah tubuh Radit dan membawanya masuk ke dalam mobil miliknya. Mobil melaju meninggalkan club malam tersebut menuju suatu tempat.


*******


Di salah satu bangunan yang terlihat cukup menyeramkan. Bangunan tua yang menjadi markas Rahasia Cristian. Di markas inilah Mereka selalu berkumpul dan membahas rencana mereka bersama-sama. Clarisa sudah bersiap dengan rencananya malam ini. Gery sudah menyiapkan semua yang Ia perlukan. Rencananya untuk menyelinap masuk ke dalam mansion Alvaro akan Ia lakukan malam ini juga. Clarisa memakai pakaian serba hitam. Walau gugup namun, Ia harus kuat demi balas dendamnya.


"Berhatih-hatilah! jangan sampai kau terluka!" Ucap Cristian.


"Tidak akan terjadi sesuatu denganku, percayalah!" Clarisa menyakinkan Cristian bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak akan terjadi sesuatu dengannya. Sungguh Cristian begitu perhatian dengan istrinya itu.


"Semua sudah siap nona." Ucap Gery.


Cristian memeluk Clarisa. "Kembalilah dengan selamat hemmmm."


"Tentu tuan Cris, Terima kasih sudah mengizinkan dan membantuku."


"Kau akan membalasku nanti.. hemmm." Ia menatap wajah istrinya penuh cinta.


"Tuan kita harus segera menemui mereka." Ucap Gery.


"Pastikan kalian menjaga istriku dengan baik, kalian paham." Perintah Cristian kepada seluruh anak buahnya.


Cristian dan Gery keluar dari markas dan masuk ke dalam mobil. Mobil Cristian meninggalkan markas terlebih dahulu menuju rerstoran. Alvaro dan Sandra sudah berada di salah satu restoran tempat Cristian mengajaknya makan malam. Alvaro dan Sandra merasa sangat bahagia dan datang lebih cepat. Ia tidak ingin membuat Cristian menunggunya. Ia harus bisa menyakinkan Cristian agar mau bekerjasama dengan perusahaannya.


Setelah mobil Cristian meninggalkan markasnya. Clarisa dan beberapa mobil Van berwarna hitam juga terlihat meninggalkan markas mereka. Mobil berhenti tidak jauh dari mansion Alvaro.


"Kalian berjagalah di sini! Jika terjadi sesuatu aku akan memanggil kalian." Perintah Clarisa menyuruh Anak buah Cristain menunggu dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari mansionnya.


"Baik nona."


Mereka semua sudah terhubung dengan Earphone yang ada di telinga masing-masing.


"Kau ikut akan ikut denganku!" Perintah Clarisa kepada John anak buah kepercayaan Cristian. John seorang ahli kunci dan juga mampu dalam bidang IT.


"Kita harus mematikan CCTV lebih dulu." Mereka masih berada di dalam mobil mengawasi mansion dan menunggu John menyelesaikan tugasnya.


"Lakukan rencana anda sekarang nona!" Gery mengirimkan Pesan ke ponsel Clarisa. Saat ini Ia dan Cristian sudah berada di restoran dan tentunya bersama dengan Alvaro dan Sandra. Tujuan Cristian mengajak Alvaro dan Sandra makan malam bersama hanya ingin mebgalihkan perhatiaanya agar meninggalakan mansionnya. Ia akan mengulur waktu lebih lama agar Clarisa bisa menjalankan rencananya.


"Saya sudah selesai nona." Ucap Jhon.


"Baik, bersiaplah kita akan masuk!"

__ADS_1


Clarisa bersama dengan Jhon masuk ke dalam mansion melalui sebuah pintu rahasia. Anak buah Alvaro berjaga di setiap sudut ruangan dan juga di luar mansion.


Clarisa berjalan mengendap-ngendap lebih dulu dan Jhon berada di belakangnya. Clarisa masuk ke dalam mansion melalui ruangan bawah tanah. Ruangan bawah tanah yang terhubung dengan gudang di lantai bawah. "Pintu ini terkunci, kau bisa membukanya."


"Aku akan membuka pintu ini nona." Jhon mulai menunjukkan keahliannya membuka pintu ruangan yang sedang terkunji. Dan dalam beberapa menit Ia sudah selesia dan pintu bisa terbuka.


Agar ke duanya tidak terlihat masuk ke dalam kamar Alvaro. Ia menyuruh anak buahnya yang berada di luar agar mematukan aliran listrik sampai Ia berhasil masuk ke kamar Alvaro.


"Matikan listrinya sekarang, kami sudah berada di dalam mansion." Perintah Clarisa.


"Baik nona."


Beberapa menit listrik di mansion itu padam dan Clarisa berjalan mengendap-ngendap ditengah kegelapan. Ia sudah hafal dengan baik letak setiap ruangan di mansion ini.


"Sepertinya aliran listrik di mansion ini sedang bermasalah, aku akan memeriksanya." Ucap salah satu anak buah Alvaro.


Buggg....


Sementra itu, Clarisa sudah berada di depan pintu kamar Alvaro. "Cepatlah kita! kita hanya punya waktu 5 menit atau mereka akan menagkap kita." Perintah Clarisa terlihat khawatir dan mulai cemas.


Di saat yang bersamaan Listrik sudah kembali hidup dan Clarusa juga sudah berada di dalam kamar Alvaro dan Sandra. Sungguh tindakan mereka membuat jantung siapa pun akan berdetak kencang.


"Jangan sampai mereka curiga, lakukan semuanya dengan normal."


"Baik nona."


Calrisa membuka sebuah lemari. Ia mencari sebuah kotak besi tempat Alvaro biasanya menyimpan uang dan barang-barang berharga miliknya. Namun, Clarisa tidak menemukan apa pun.


"Siaaallll... di mana mereka menyimpannya."


"Saya tidak menemukan apa pun nona." Lapor Jhon.


Tiba-tiba Clarisa mengingat sebuah ruangan rahasia. "Ikut aku!" perintahnya.


Clarisa sudah berdiri di depan sebuah rak buku berukuran cukup besar. Ia menarik dua buku berwarna hitam yang terletak di sebelah kiri. Rak buku itu tiba-tiba bergetar dan terbuka sedikit. "Ayo kita masuk!" Ajaknya kepada Jhon.


Kamar yang ditempati Alvaro dan Sandra dulunya merupakan kamar milik Almira. Tentu saja Clarisa mengetahui ruangan rahasia yang ada di dalam kamar itu.


Clarisa berjalan menuju sebuah lemari besi berukuran sedang. Ia membuka lemari besi tersebut terlihat di dalamnya sebuah brangkas berukuran tidak terlalu besar berwarna hitam berbentuk segi empat dengan kode untuk membukanya.


"Apa kau bisa membuka kotak ini?" Tanya Clarisa.


"Aku akan melakukannya nona."


Tentu saja membuka berangkas dengan kode tidaklah mudah. Jhon bahkan berkeringat di dahinya. Ia mencoba beberapa kali memencet kode. Namun, Ia belum juga berhasil melakukannya.

__ADS_1


"Cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu." Ucap Clarisa. Wajahnya terlihat semakin cemas . Ia hanya bisa berharap Jhon akan berhasil dengan tugasnya kali ini.


Bersambunggg...


__ADS_2