
"Cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu." Ucap Clarisa. Wajahnya terlihat semakin cemas. Ia hanya bisa berharap Jhon akan berhasil dengan tugasnya kali ini.
Setelah 30 menit akhirnya Jhon berhasil membuka pintu brankas itu walau dengan bersusah payah.
"Huffff... Akhirnya berhasil juga." Ucap Jhon sambil mengelap keringat di dahinya dan menghembuskan nafas dengan kasar. Ia sungguh telah bekerja dengan sangat keras.
"Kau memang sangat cerdas Jhon." Puji Clarisa.
Clarisa mencari surat peralihan harta miliknya yang dulu Ia tanda tangani diantara tumpukan dokumen yang ada di dalam brankas tersebut.
"Bantu aku mencarinya Jhon!" Perintah Clarisa.
"Baik nona."
Mereka sudah mengeluarkan beberapa dokumen. Clarisa masih mencari surat tersebut di antara tumpukan dokumen dengan sangat hati-hati.
Sekitar 10 menit, akhirnya Clarisa menemukan surat yang Ia cari.
"Akhirnya aku menemukannya." Clarisa segera saja mengambil surat yang asli dan menggantinya dengan surat palsu yang sudah disiapkan oleh Gery. Surat yang begitu mirip dengan aslinya sehingga Alvaro tidak akan bisa membedakannya.
Clarisa kembali menata dokumen seperti semula agar tidak menimbulkan kecurigaan. saat Ia akan memasukkan dokumen tersebut tanpa sengaja selembar foto terjatuh di lantai. Clarisa segera saja mengambil foto tersebut.
Deggg....
Jantungnya berdetak kencang saat Ia menatap foto tersebut dan tangannya bergetar.
"Ibu." Ucapnya dengan bibir bergetar.
Foto Almira yang merupakan ibu kandungnya bersama dengan seorang pria asing. Almira tampak begitu mesra bersama dengan pria yang ada di sampingnya.
"Siapa laki-laki yang bersama dengan ibu?dan apa hubungan ibu dengan laki-laki ini?" Batinnya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
"Nona kita harus segera keluar dari tempat ini." Ucap Jhon dengan raut wajah sedikit cemas. Ia sudah terlalu lama menyelinap di dalam mansion Alvaro.
Jhon berusaha menyadarkan Clarisa yang sempat melamun dan terlihat berfikir sambil menatap foto yang ada di tangannya.
"Nona, apa terjadi sesuatu?" Tanya Jhon.
"Hmmmm... Tidak ada, cepat bereskan semuanya dan kita harus segera keluar dari tempat ini."
"Semuanya sudah beres nona."
Clarisa dan Jhon segera saja keluar dari kamar Alvaro menuju pintu rahasia untuk kleuar dari mansion tersebut. Pintu rahasia yang hanya diketahui oleh Clarisa.
__ADS_1
"Pergilah lebih dulu!" Perintah Clarisa kepada Jhon agar menunggunya di dekat pintu rahasia. Clarisa ingin memastikan sesuatu dan berniat untuk bertemu dengan bibi pengasuhnya, Bibi Dwi.
Clarisa ingin menemui bibi Dwi di kamarnya. Suasana mansion memang sepi dan para pelayan sedang bersantai. Ia yakin Bibi Dwi pasti ada di dalam kamarnya dan Clarisa akan menyelinap masuk menemui bibi Dwi.
"Kita tidak punya banyak waktu nona." Mereka sudah berada di depan ruangan rahasai yang merupakan jalan satu-satunya untuk keluar dari mansion itu.
"Aku harus memastikan sesuatu, Aku tidak akan lama."
Akhirnya Jhon mengikuti perintah Clarisa. Sementara itu, Clrisa mengendap-ngendap masuk ke dalam kamar bibi Dwi. Alangkah terkejutnya Ia ternyata Bibi Dwi tidak ada di dalam kamarnya dan kamar tersebut terlihat kosong.
"Di mana bibi? kenapa kamarnya kosong?" Gumam Clarisa.
Matanya berkeliling di setiap sudut ruangan berharap Ia bisa menemukan keberadaan bibi Dwi.
"Apa yang sudah terjadi dengan bibi." Clarisa menatap setiap sudut kamar beusaha mencari petunjuk di mana bibi Dwi berada. Pikir Clarisa.
Ia membuka lemari pakaian bibi Dwi yang terlihat kosong. Clarisa yakin bibi Dwi pasti tahu sesuatu tentang laki-laki yang ada di dalam foto itu. Laki-laki yang bersama dengan ibunya.
"Maafkan aku bi, aku tidak bisa melindungi bibi." Clarisa berusaha menguatkan dirinya. Ia harus tegar dan kuat demi balas dendam.
Saat kaki Clarisa akan melangkah meninggalkan kamar bibi Dwi. Tanpa sengaja Ia menginjak kertas. Clarisa segera berjongkok dan mengambil kerta rersebut. Ternyata itu adalah sebuh surat yang ditulis oleh bibi Dwi.
"Cepatlah nona! kita tidak punya banyak waktu, Seseorang baru saja memasuki mansion ini dan kita harus segera keluar dari tempat ini nona." Terang Jhon. Ia sedang berkomunikasi melalui Earphone dengan Clarisa.
"Kita harus segera pergi dari tempat ini nona." Ucap Jhon saat Clarisa sudah menghampirinya dengan memegang sebuah surat di tangannya.
"Aku harus mencari petunjuk tentang ibu seperti yang dikatakan bibi dalam surat ini."
"Bantu aku mencarinya di dalam ruangan rahasia ini, aku yakin akan menemukan petunjuk yang bibi maksud."
Surat yabg ditulis oleh bibi Dwi berisi sebuah petunjuk tentabg masa lalu Almira yang merupakan ibu kandungnya.
"Tapi nona, kita tidak punya banyak waktu."
"Cepat bantu aku mencarinya, bibi menfatajan jika petunjuk itu terdapat di dalam ruangan rahasia ini." Mereka berdua sedang berada di salah satu ruangan yang terlihat seperti gudang sangat berantajan dan dipenuhi oelh berbagai binatang menjijikkan.
Clarisa harus mencari sebuah kotak berwarna coklat. Kotak kayu yang berisi petunjuk tentang masa lalu ibu kandungnya.
"Uhukkkk...... Uhukkkkk.." Clarisa terbatuk-batuk saag mencari kotak di antara tumpukan barang-barang yang dipenuhi debu.
"Apa kau sudah menemukannya Jhon?" Tanya Clarisa.
"Maafkan saya nona."
__ADS_1
"Ayo bantu aku mencarinya lagi."
Mereka masih berusaha mencari petunjuk tersebut.
Sementara itu, Jane baru saja memasuki mansion. Ia baru kembali dari syuting diantar oleh Adnan.
"Istirahatlah dan temui aku besok pagi." Ucap Adnan.
"Baiklah."
Mobil Adnan melaju meninggalkan mansion setelah mengantar Jane.
"Seseorang baru saja memasuki mansion, cepatlah keluar atau kalian akan tertangkap." Ucap salah satu pengawal yang berjaga di luar mansion.
"Sebaiknya kita keluar saja dari tempat ini nona, seseorang baru saja memasuki mansion ini."
"Tidak ada waktu lagi nona."
"Hufffff.... akhirnya aku menemukannya Jhon." Ucap Clarisa penuh semangat.
"Ayo keluar dari tempat ini!" Clarisa dan Jhon keluar melalui jalan rahasia dengan membawa kotak yang penuh dengan rahasia masa lalu keluarganya.
Clarisa dan Jhon akhirny berhasil keluar dari mansion dengan mengendap-ngendap dan seegra saja menuju mobil yang sudah menunggu mereka di luar mansion.
*****
Di restoran XX.
Acara makan malam masih berlangsung. Cristian sengaja mengulur waktu lebih lama lagi dengan mengajak Alvaro dan Sandra minum bersama demi merayakan kerjasa kedua perusahaan. Cristain memang menginginkan kerja sama ini demi memudahkan rencananya untuk membantu istrinya merebut kembali perusahaan yang seharusnya menjadi milik istrinya.
"Terima kasih tuan Cris karena Anda mau bekerjasama dengan perusahaan kami, ini sungguh keberuntungan untuk kami tuan." Ucap Alvaro penuh semangat.
Sejak tadi Alvaro terus saja memuji Cristian sebagai tuan muda yang kaya dan juga pewaris satu-satunya keluarga Mahendra. Ia terus saja menjilat tanpa malu demi melancarkan rencananya bekerja sama dengan perusahaan Mahendra.
"Pastikan kau tidak akan melakukan kesalahan sedikitpun, kau tahu aku tidak suka jika seseorang tidak bisa diandalkan, aku harap kau tidak akan mengecewakanku." Terang Cristian. Sejak tadi Ia sudah begitu muak dan merasa jijik dengan dua manusia licik yang duduk dihadapannya itu. Namun, Ia tetap berusaha bersikap ramah.
"Baik tuan, terima kasih atas kepercayaan anda." Ucap Alvaro.
Sandra hanya diam sejak tadi. Sebelumnya Alvaro sudah mengatakan kepada Istrinya agar jangan berbicara hal yang tidak penting di depan tuan Cristian.
Sementara itu, Gery yang berdiri di belakang tuannya membisikkan sesuatu kepada Cristian.
Cristian berdiri dari duduknya membuat Alvaro dan juga Sandra reflek ikut berdiri juga.
__ADS_1
Bersambunggg....