
Jane masuk ke dalam ruangan tunangannya dengan perasaan kesal. "Apa yang terjadi? kau terlihat sangat kesal." Tanya Adnan. Ia menarik tangan Jane agar duduk di pangkuannya.
"Aku sedang kesal dengan kakak ipar. Wanita aneh itu sungguh membuatku kesal." Wajah Jane masih dalam mode kesal. Moodnya sedang sangat buruk.
"Sudahlah sayang! jangan pedulikan wanita aneh itu, apa kau tadi menemui Cristian?" Adnan sedang memeluk erat pinggang ramping Jane dan membenamkan wajahnya di curuk leher wanita itu.
"Hemmmmm."
"Apa kau berhasil menggodanya?" Tanya Adnan. Bibirnya sedang menyusuri leher jenjang kekasihnya.
"Dia bahkan mengusirku ke luar dari ruangannya. Dia sama sekali tidak melirikku sedikit pun, benar-benar menyebalkan."
"Gunakan pesonamu untuk membuatnya mengejarmu, aku ingin kau berpura-pura tidur dengannya, dan selebihya aku akan mengurusnya."
"Tapi ingat jangan sampai kau benar-benar tergoda dengannya, aku tidak akan mengampunimu, kau tahu aku sudah berkorban banyak untukkmu, jadi jangan membuatku kecewa, kau paham!" Ucap Adnan dengan nada mengancamnya. Jemarinya sedang menyusuri bibir tipis Jane.
"Kau mengancamku sayang?"
"Mana mungkin aku berani mengancam wanita yang aku cintai hemmmm."
Jane menatap manik mata kekasihnya dan tersenyum tipis. Adnan juga membalas tatapan Jane. Suara decapan terdengar memenuhi ruangannya.
Adnan akan melakukukan cara apa pun agar hubungan Cristian dan ayahnya hancur. Ia akan menggunakan Jane untuk menggoda Cristian dan membuat hububgan Cristian dan istribya hancur. Tidak hanya itu dengan membuat Jane mendekati Cristian akan merusak reputasi dan Tuan Mahendra akan membenci putra kesayangannya itu. Sekali dayung dua pulau terlampau. Begitulah yang ada di pikirannya saat ini.
Sementara itu, Cristian terlihat begitu serius mendengar penjelasan istrinya mengenai rencananya untuk menggagalkan Alvaro menguasai seluruh hartanya. Clarisa tidak punya banyak waktu lagi. Alvaro tidak akan bisa menunggu hingga satu bualn untuk menjalankan rencananya menguasai harta miliknya. Setelah mendengar informasi yang di sampaikan oleh Gery. Clarisa mmemutuskan untuk melakukan rencananya. Walau rencana itu akan membahayakan kesalamatannya. namun, Ia tidak punya pilihan lain lagi.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakyakn rencana ini, Kau bis membahayakan dirimu, ak7 akan menyuruh anak buahku yang melakukannya." Ucap Crsitain tegas. Ia tidak ingin nyawa istrinya dalam bahaya.
"Aku janji tidak akan terjadi hal buruk denganku, percayalah! aku akan melakukannya dengan baik, Hanya aku yang bisa melakuakn rencana ini, biarkan aku melakukannya, tidak ada kesempatan lagi, Izinkan aku melakukannya!" Pinta Clarisa. Ia tahu suaminya begitu menghawatirkan keselamatannya.
Setelah berpikir sejenak. Akhirnya Cristian menyetujui rencana Clarisa. Sudah saatnya Oa membiarkan istrinya melalukan pembalasan dendamnya. Walau Ia ragu dan begitu takut dengan rencana istrinya itu. Tetap saja Ia tidak bisa menghentikannya untuk membalaskan dendamnya. Ia tahu wanita yang duduk di depannya adalah wanita yang kuat dan tidak akan takut dengan apa pun lagi.
"Bawalah anak buah untuk ikut bersamamu, Jika terjadi sesuatu aku akan datang untuk membantumu."
"Siapkan semua yang dibutuhakn oleh istriku dan pastikan rencana istriku tidak akan gagal, kau paham!." Baik tuan.
__ADS_1
Malam ini Clarisa akan menjalankan rencananya yaitu menyelinap masuk ke dalam mansionnya sendiri yang saat ini ditempati oleh manusia licik Alvaro dab Sandra.
Ia ingin mengambil salinan asli surat peralihan seluruh harta miliknya kepada Alvaro yang Ia tandatangani secara paksa dan menggantinya dengan surat yang palsu. Hanya itu cara yang bisa Ia lakukan saat ini untuk melindungi harta miliknya.
"Aku akan membantumu membuat Alvaro dan Sandra meninggalkan mansionnya dan setelah itu, kau bisa menyelinap masuk dan menjalankan rencanamu, Berhatih-hatilah!" Ucap Cristain sungguh khawatir.
Gery yang mendapat perintah segera melakukan rencananya. Ia akan menyuruh beberapa anak buah kepercayaanya dan memliki kemapuan khusus utuk membantu rencana Clarisa. Seorang ahli kunci dan juga ahli dalam sistem keamanan. Mansion Alvaro di lengkapi dengan sistem keamanan yang sangat canggih dan anak buah yang menjaga setiap sudut mansion.
Clarisa dan Gery menuju salah satu markas milik Cristian. Cristian menyuruh staf untuk menghubungi Sandra dan Alvaro mengajaknya makan malam di salah satu restoran ternama untuk membahas masalah kerjasama yang mereka tawarkan lebih lanjut.
Tentu saja Alvaro dan Sandra begitu senang menerima ajakan makan malam dari Crsitian.
"Mangsa sudah memakan umpan yang kita berikan, tinggal selangkah lagi semua akan tunduk di bawah kakiku.. Hahahhahaha." Alvaro tertawa bahagia. Ia pikir rencananya akan berhasil.
Di ruangan lain di mansion Alvaro. Tepatnya di sebuah kamar berukuran tidak begitu luas. Seorang wanita paruh baya terlihat mondar-mandir. Tanganya saling meremas dan bergetar takut. Wajah keriputnya terlihat begitu pucat. Keringat dingin membanjiri keningnya.
Ia baru saja menulis sebuah surat dan meletakkannya di dalam laci kecil yang berada di samping tempat tidurnya. Ia tahu nyawanya dalam tidak akan selamat. Ia sudah mendengar pembicaraan yang seharusnya tidak Ia dengarkan.
Wanita itu adalah kepala pelayan bernama bibi Dwi. Wanita yang bekerja selama 35 tahun dengan keluarga Abraham bahkan sejak Almira masih hidup. Clarisa sudah menganggap bibi Dwi seperti ibu kandungnya sendiri.
"Nyonya! jika saja nyonya masih hidup semua ini tidak akan terjadi. Non Risa,... bibi harap non masih hidup." Lirihnya dengan air mata menetes menatap foto dirinya dan Clarisa kecil yang terlihat menggemaskan.
"Lihatlah ini tuan!" Anak buah Alvaro menyerahkan leptop di depannya dan memperlihatkan rekaman CCTV seorang wanita paruh baya sedang berjalan turun menuju lantai bawah dengan terburu-buru dan terlihat mencurigakan.
"Panggil wanita ke hadapanku sekarang juga!"
Jari-jarinya mengetuk meja. Ia terlihat berpikir dengan keras. Apa yang akan Ia lakukan dengan kepala pelayan yang sudah berani dan lancang mendengar pembicaraanya masih Ia pikirkan.
"Tuan.. Memanggil saya!" Ucap Bi Dwi dengan tangang gemetar.
"Apa yang kau dengar Hah?" Tanya Alvaro dengan membentak wanita yang sudah pucat di depannya itu.
"Sa-Saya tidak tahu apa pun tuan." Jawabnya dengan nada bergetar.
"Kau pikir bis nembohongiku."
__ADS_1
"Tolong ampuni saya tuan, saya tidak akan mengatakan kepada siapa pun tuan, Maafakn atas kesalahan saya, hukumlah saya tuan tapi tolong jangan sakiti keluargaku tuan." Pintanya dengan berlutut di kaki Alvaro. Nyawanya berada di ujung tanduk.
"Kau pikir aku bisa mengampuni kesalahanmu, kau sudah tahu terlalu banyak rahasiaku, sudah saatnya aku menyingkirkanmu."
"Kau masih hidup sampai saat ini, itu karena aku masih membutuhkannmu, tapi aku rasa sudah saatnya kau pergi dari dunia ini, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi."
"Minumlah ini dan kau akan berada di surga!" Perintahnya kepada bibi Dwi dengan menyodorkan segelas juz kepada wanita yang masih duduk bersimpuh di kakinya di lantai dingin ruangannya.
Tangan Bibi Dwi bergetar hebat saat Ia meraih gelas yang di ada di tangan Alvaro. Laki-laki itu berdiri dengan angkuhnya menatap tajam wanita lemah yang sedang bersimpuh memohon untuk tetap hidup.
Sandra menatap dengan tersenyum tipis. Ia begitu suka melihat seseorang yang memohon untuk nyawanya. "Kau tidak dengar! suamiku menyuruhmu untuk meminumnya, benar-benar tidak sopan." Bentaknya saat melihat wanita itu masih diam mematung menatap gelas yang ada di tangannya.
"Kau tidak dengar perintahku, atau kau ingin aku membunuh seluruh keluargamu hah." Bentaknya lagi.
"Saya mohon tuan, jangan sakiti keluargaku hikssss....." Bibi Dwi memohon dengan suara pilu. Tangisnya menyayat hati. Ia tidak bisa pergi dari neraka tempatnya saat ini. Alvaro dan Sandra tidak akan melepasnya dengan mudah. Bibi Dwi sudah terlalu banyak mengetahui rahasianya.
Bibi Dwi hanya bisa pasrah akan takdir hidupnya. Yang terpenting keluarganya baik-baik saja. Biarlah Ia mati di tangan iblis berwujud manusia yang ada di depannya.
"Non Risa maafkan bibi, bibi harus pergi." Batinnya.
"Nyonya, maafkan aku tidak bisa menepati janjiku." Batinnya lagi.
Bibi Dwi menenggak gelas yang ada di tangannya dan menghabiskan isinya. Sandra dan Alvaro tersenyum penuh kemenangan.
Buggggg.....
Tubuh bibi Dwi tersungkur jatuh di lantai dengan mulut berbusa. Bibi Dwi meregang nyawa setelah meminum Juz berisi Racun yang di berikan oleh Alvaro. Akhirnya Ia menutup mata untuk selamanya meninggalkan kehidupan yang begitu kejam terhadap manusia lemah yang hanya ingin bertahan hidup sepertinya.
"Bereskan mayat wanita ini!" Perintah Alvaro.
"Baik tuan."
"Kau memang hebat sayang, kau membunuhnya dengan cara yang sangat hebat." Puji Sandra kepada suaminya.
Dua manuasia kejam itu terlihat seperti psikopat yang menganggap nyawa seseorang hanya mainan dan tidak berharga sama sekali.
__ADS_1
Bersambunggg....
Mohon like, Vote dan Komentar di setiap episode yah.